|
|
Thursday, March 03, 2005
TOO MANY FARCES, THERE'S NOT ENOUGH TRAGEDY : A LESSON FROM TSUNAMI 2004
"If its not the love, so there its the bomb, the bomb, the bomb, the bomb that keep us together." ---Ask Me, The Smiths
Pada akhir Desember tahun 2004, dimana-mana di seluruh dunia ini, orang-orang mulai mempersiapkan diri menyambut kedatangan tahun baru 2005, persis seperti apa yang dilakukan setiap tahunnya. Lokasi pariwisata telah penuh sesak, kamar-kamar penginapan telah dibooking sejak jauh-jauh hari. Segalanya telah dipersiapkan. Segalanya? Tentu. Kecuali persiapan akan hadirnya sebuah bencana alam dahsyat...
26 Desember 2004, sekitar pukul 8 pagi, sepasukan TNI sedang beristirahat dari latihan tempur di pinggir pantai di provinsi NAD sambil menikmati matahari pagi; turis-turis di Thailand mulai berjemur dengan bikini dan kursi lipatnya di hamparan pantai nan putih; di Srilangka orang-orang sibuk di tengah pekerjaan hariannya, baik sebagai petani ataupun nelayan; begitu juga di pulau Nias dimana para nelayan masih berusaha menjerat ikan dengan jalanya. Tanpa peringatan apapun, mendadak air laut turun beberapa ratus meter dalamnya. Ikan-ikan bertebaran tanpa air yang membuat mereka bernafas. Bukannya cemas, orang-orang bergembira melihat tebaran ikan yang hanya perlu mereka comot satu persatu untuk menghidupi mereka dan keluarga mereka. Dan tanpa peringatan pula, selang beberapa menit, gelombang air setinggi 7 hingga 15 meter hadir menyerbu tanpa ampun, tanpa peringatan, tanpa peduli apapun di hadapannya. Alam memang tak pernah diskriminatif seperti layaknya manusia.
Dalam sekejap, air melanda dan menghancurkan seluruh daerah, terbentang dari India hingga Sumatera Utara, menggasak setiap pesisir Samudera Hindia. Dalam detik, ribuan orang lenyap seketika. Dalam hitungan jam ribuan lainnya tertimpa reruntuhan atau mati terjebak di bawahnya. Menurut data yang terkumpul dari setiap lokasi bencana nyaris 2,3 juta manusia kehilangan nyawanya. Belum lagi mereka yang akan segera menyusul menemui kematian dalam situasi pasca tsunami yang akan disusul oleh bencana penyakit, kelaparan dan kedinginan. Melihat foto-foto di beberapa media massa, orang mungkin teringat oleh foto-foto dari sebuah reruntuhan kota Hiroshima dan Nagasaki. Hanya kini, penyebabnya adalah bencana alam sendiri, bukan bencana akibat bom. Dalam hitungan hari, jutaan orang di daerah lainnya yang shock akibat serangan tsunami tersebut mulai bergerak. Posko-posko bantuan segera dibuka secara sporadis di berbagai tempat yang tak terkena bencana, korporasi-korporasi mulai mengucurkan dananya, korporasi transportasi dan paket pengiriman menyediakan kargo-kargo gratis untuk pengiriman bantuan, orang-orang dari berbagai latar belakang menyisihkan sebagian milik mereka untuk dikirimkan sebagai bantuan ke daerah bencana, seakan semua orang terlibat untuk berbuat sesuatu, sekecil apapun itu. Di NAD, tak ada lagi TNI atau GAM, yang tersisa adalah bagaimana menyelamatkan mereka yang masih hidup, yang tersisa di tengah puing. Untuk pertama kalinya, mereka melakukan sesuatu bersama-sama.
Fenomena seperti ini juga mengingatkan kita pada tragedi Perang Irak yang hingga kini belum juga berakhir. Untuk pertama kalinya di Irak, kaum Sunni dan Syiah, dua sekte religius terbesar yang telah berkonflik sekian lamannya tanpa pernah berdamai, kini bekerja bersama melawan pendudukan dan invasi. Al-Sistani, pemimpin sekte Syiah berkata, "Untuk pertama kalinya kita harus melupakan siapa Syiah siapa Sunni untuk membebaskan tanah kita dari invasi. Karena saat seseorang menginvasi rumahmu, apakah engkau akan hanya duduk diam dan saling terus bertengkar justru dengan sesama penghuni rumahmu sendiri?" Ini juga terjadi pada pasca penghancuran menara kembar WTC tiga tahun silam, penduduk Amerika secara instan dalam sekejap mereka semua melupakan seluruh latar belakang masing-masing, saling bahu membahu menyelamatkan yang masih dapat diselamatkan, saling berbagi, saling mengerti (sesaat sebelum Bush dan jajaran administratifnya mengkambing hitamkan komunitas muslim sebagai dalang tragedi). Atau juga lihat apa yang terjadi di Argentina akhir tahun 2001, dimana di tengah krisis terparahnya, dari latar belakang apapun, nyaris setiap penduduk membentuk kelompok-kelompok kecil yang saling membantu. Komite-komite independen dibentuk dan pendistribusian bahan pangan juga dilakukan tanpa melirik peluang bisnis yang mungkin muncul. Penjarah mall, komite tetangga, piquetteros yang memblokade dan mendistribusikan angkutan truk-truk bahan pangan, ibu-ibu, nenek, buruh kerah putih dan kerah biru, guru, penganggur, semua berada di pihak yang sama dan bekerja bersama demi hidup yang hanya mungkin dipertahankan apabila saling bergandeng bersama.
Apa latar belakang kita, agama, ras, penampilan, menjadi tak penting. Apa yang penting adalah bagaimana kita bisa bertahan hidup bersama. Semua orang (terlebih lagi bagi mereka yang mengalami dan bertahan hidup pasca bencana) memiliki common-sense untuk menghentikan semua aktifitas harian mereka yang menyebalkan dan berkumpul bersama satu sama lain. Berkumpul dimana saja: di lapangan, di jalanan, di gedung-gedung yang tak mendiskriminasikan lagi siapa yang boleh masuk, di gereja atau juga di mesjid. Dimana saja! Mereka semua berkumpul dan menghentikan seluruh gerak serta pola pikir mekanis yang mendominasi hidup harian mereka.
Masyarakat modern adalah masyarakat yang penuh ragu, bahkan untuk menentukan apa yang harus dilakukan saat ini dan esok hari, semua penuh keraguan. Itu sebabnya mereka membutuhkan boss, pemerintah, iklan, televisi, koran, untuk menentukan bagi mereka apa yang harus dilakukan. Tetapi saat bencana terjadi, masyarakat tak lagi ragu tentang apa yang harus dilakukan, baik saat ini ataupun esok hari. Apa yang dilakukan saat ini adalah demi hari esok dimana mereka akan dapat membangun diri mereka kembali, membangun komunitas mereka, masyarakat mereka, tempat mereka dapat hidup dan membesarkan anak-anak mereka.
Percaya atau tidak, bencana telah membuat manusia berkumpul satu sama lain, bahkan ketika mereka saling bermusuhan. Dalam buku "Gulag" karya Alexander Solzhenitsyn (yang diterjemahkan dan dipublikasikan di Indonesia oleh penerbit Bentang; buku aslinya berjudul "Atlas of Human Suffering and Inhuman Repression: The Gulag Archipelago"), penulis teringat saat ia dibawa ke ruang interogasi oleh seorang sipir perempuan yang dingin, pendiam dan tatapan mata tanpa perasaan. Tiba-tiba bom meledak tepat di samping gedung tempat mereka berada, dengan suara yang sangat keras sehingga mereka berpikir bahwa sebentar lagi gedung mereka akan runtuh menimpa mereka. Sipir yang ketakutan melemparkan tangannya ke sekeliling tawanan dan memeluknya, dengan perasaan putus asa akan simpati dan pertalian kasih antara sesama manusia ketika berada di penghujung apokalips. Namun ketika bom berhenti dan mereka sadar bahwa nyawa mereka tak terancam sama sekali, sang sipir langsung kembali pada perilakunya semula dan kembali memerintah tawanan untuk tunduk pada perintahnya. National Research Council Committee on Disaster Studies di Amerika Serikat juga pernah menulis sesuatu mengenai bencana dengan judul "Convergence Behavior in Disasters: A Problem in Social Control", disana mereka menulis "[...] bencana membuat orang-orang bertemu dalam sebuah konteks dan proyek bersama. Dalam situasi yang tergesa-gesa dan atmosfer yang demokratis, individu-individu yang sebelumnya hidup terpisah kini dapat mengenal satu sama lain. 'Sense' komunitas semacam ini menawarkan intimasi dari sebuah bentuk masyarakat yang berbeda, mengubah tragedi menjadi sesuatu yang baru, yang lebih baik."
Bukankah nyaris banyak orang yang sebenarnya memimpikan sebuah tatanan masyarakat yang seperti itu? Siapa yang tak rindu akan intimasi demikian saat kehidupan harian masyarakat modern didominasi oleh kekosongan dan kesepian tanpa akhir. Sayangnya, hanya bencanalah yang kadang mengingatkan kita semua akan keindahan hidup bersama.
Setelah Badai Berlalu
Setelah bencana berakhir dan berlalu, kita selalu kembali pada peran sosial kita yang begitu mekanik dan mencekik nafas kita. Rombongan demi rombongan mereka para oportunis bencana hadir di lokasi tragedi. Puluhan truk berisi bahan bantuan yang berhasil dikumpulkan dari ribuan orang-orang di tempat lain yang bersolider dengan para korban, hadir dengan mencanangkan brand korporasi besar-besar, mencolok di tiap sisinya, agar yakin bahwa brand tersebut akan tetap tampak di tengah riuhnya korban bencana.
Slogan "Pundi Amal" tertera di berbagai alat transportasi, bahkan juga dalam setiap kemasan berisi bantuan, layaknya pembagian produk gratis di sebuah supermarket sebagai sebuah taktik promosi. Kelompok-kelompok "peduli sosial" dan LSM-LSM berlomba-lomba menaruh brand logo mereka, berharap hal tersebut akan menarik liputan media yang pada akhirnya akan menarik kucuran dana dari lembaga-lembaga donor internasional untuk diri mereka sendiri. Media-media berpacu dengan waktu dan menceburkan diri di tengah mereka yang bertahan hidup, berusaha mengais berita, cerita dan dokumentasi-dokumentasi yang akan menaikkan rating program acara mereka. Bahkan tak ketinggalan para selebritis, birokrat, tokoh religius, berlomba mencari sorotan media dengan hadir di sana, berharap hal tersebut akan membuat imaji-imaji yang dapat semakin menjual diri mereka pada pasar publik. Bahkan mayat-mayatpun menjadi sebuah perebutan, tentang siapa kelompok yang akan menshalatkannya (dalam kamus orang Islam, setiap muslim yang meninggal harus dishalatkan dulu sebelum dikuburkan), dan setiap mayat yang telah dishalatkan akan ditempeli sebuah brand organisasi yang telah menshalatkannya. Persis seperti cap-cap "halal" di daging-daging sapi yang dijual di pasar-pasar tradisional. Atmosfer kompetisi antar para malaikat yang membawa setumpuk kepentingan akumulasi imaji dan kapital di punggungnya, jelas menjadi sangat kental. Terakhir dan yang paling memilukan, adalah terselenggaranya sebuah pertemuan para investor internasional di Jakarta dalam rangka sebuah perebutan peluang bisnis dengan dalih "pembangunan kembali infrastruktur di lokasi tragedi". Toh bisnis adalah bisnis. Toh tiap tragedi adalah peluang emas bisnis dalam masyarakat yang didominasi oleh nilai-nilai pasar seperti sekarang ini.
Lantas apa yang tersisa?
Yang tersisa tinggal sebuah pertanyaan, tentang bagaimana kita dapat mempertahankan "sense solidaritas" yang sempat muncul di tengah-tengah kehidupan kita semua saat bencana terjadi, untuk membawanya dan tetap menghidupkannya dalam situasi-situasi tanpa bencana atau tragedi besar. Dan itu adalah sebuah pertanyaan bagi kita semua yang masih memimpikan sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik. Bencana dan tragedi adalah guru terbaik kita, yang ironisnya sering kita lewatkan begitu saja selama ia tak menimpa langsung diri kita atau mereka yang kita kasihi.
Bila demikian, maka mungkin benar bahwa masyarakat modern adalah sebuah masyarakat yang membutuhkan lebih banyak lagi tragedi. Semua orang berkata bahwa kita semua sudah terlalu banyak berhadapan dengan tragedi. Setelah bencana tsunami mengguncang Asia dan Afrika, di TPA Leuwigajah, Cimahi, puluhan rumah penduduk tertimbun longsoran sampah. Dan hingga hari ini, proses penggalian dan pencarian korban belum juga selesai mengingat sampah yang menimbunnya benar-benar luar biasa banyak dan padat. Masih dalam waktu yang berdekatan, belasan kota di Indonesia terendam air, ratusan penduduk kembali menjadi korban dari tindakan alam. Belum lagi wabah demam berdarah yang menyerang belasan kota di pulau Jawa. Lantas, benarkah tragedi yang kita hadapi masih terlalu sedikit? Mungkin. Apalagi mengingat sikap kita semua sekarang ini, dimana saat satu imaji kepedihan lewat begitu cepat untuk kemudian digantikan lagi oleh imaji kepedihan lainnya, lambat laun kita melihat bahwa seluruh kepedihan atas tragedi yang terjadi tak ubahnya seperti potongan-potongan dalam layar televisi, yang lewat begitu cepat di hadapan mata kita, tanpa bermakna apa-apa lagi. Selama masyarakat masih terkooptasi oleh nilai-nilai pasar dan terjebak dalam Dunia Spektakular, selama itu pula semua tragedi tadi menjadi sangat jauh dari cukup.
Mungkin kita malah membutuhkan sebuah Big Bang lagi...
laughing
with
babylon
at
2:18:00 PM |
******
|