Tuesday, April 12, 2005


SEBUAH REALITY SHOW MODERN
Kritik Atas Kemiskinan Visi Aktifis Aksi Demonstrasi Damai




   Sekali lagi, semenjak subsidi bagi BBM dikurangi oleh pemerintah, ratusan orang di berbagai kotaterutama kota-kota besardi Indonesia, berbaris di ruas-ruas jalan utama untuk menyuarakan ketidak setujuan mereka. Ini sebuah kesempatan bagi semua orang untuk melatih otot kaki, paru-paru dan ego kita, kemudian pulang kembali ke rumah. Tak ada yang akan berubah dan memang tak seorangpun yang terkejut dengan pernyataan tadi. Seperti biasa juga, semua berjalan seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu, orang-orang, ekosistem dan juga hewan di berbagai belahan dunia, dari Aceh hingga Irak dan juga tempat lainnya, harus terus membayar kegagalan kita semua atas miskinnya imajinasi dan keberanian.

   Bangsa Perancis memiliki sebuah nama untuk hal seperti di atas: spectacle. Kembali ke tahun 1960-an, Guy Debord dan gerombolan teoris dan aktifis yang menyebut diri mereka Situationist International, mendeskripsikan kultur kapitalisme lanjut (late-capitalism) sebagai Society of The Spectacle, sebuah Masyarakat Dunia Tontonan. Jauh sebelum iklan-iklan televisi mempromosikan tontonan reality show dan ring-tones untuk ponsel-ponsel canggih, para Situationist telah menunjukkan bahaya dimana rata-rata kita semua kini menjalani hidup sehari-hari yang telah tereduksi pada sebuah pola relasi menonton dan membeli.

   Saat ini, kultur konsumer telah bergerak ke titik yang sangat ekstrim, melampaui impian-impian para pemikir politis yang paling surreal sekalipun. Hanya beberapa fiksi seperti 1984-nya George Orwell dan Brave New World-nya Aldous Huxley yang mampu memprediksikan dengan cukup tepat apa yang akan kita hadapi di masa datang (atau telah terjadi di masa kini?), yang menyisakan kita pilihanuntuk menerimanya begitu saja ataukah terus berusaha menemukan cara untuk dapat melarikan diri dari sistem ini dengan cukup efektif.

   Dalam sebuah Masyarakat Tontonan, tak pernah ada bisnis lain selain bisnis pertunjukan. Imaji adalah segala-galanya. Bahkan mereka yang secara aktif berpartisipasi dalam even-even besar di tengah kehidupan harian kita, tetap saja kembali menjadi barisanpenonton atas hidup mereka sendiri. Seluruh aksi, termasuk dan khususnya aksi-aksi politis, telah menjadi sekedar pertunjukan, tontonan. Resistansi yang kreatif sekalipun dengan cepat terserap ke dalam proses inkorporasi Dunia Tontonan.

   Terdengar familiar? Sudah seharusnya. Para remaja yang bermasalah menulis di weblog, bukan lagi dalam diary-diary privatnya, saat para mahasiswanya mengolok-olok ide-ide subversif dalam setiap obrolan kampusnya.

   Kita pasti telah hidup dalam sebuah kultur yang demokratis, saat orang-orang bahkan diperbolehkan membaca literatur subversif atau mengenakan kaos merah berlogo palu-arit di mall-mall. Para aktifis juga diperbolehkan berdemonstrasi di jalan-jalan kota, tanpa ancaman penculikan seperti pada era rezim Orba.Apakah kita semua ingat bagaimana para pengamat politik di televisi berbicara mengenai demonstrasi? Mereka berkata bahwa demonstrasi-demonstrasi tentu saja diperbolehkan untuk digelar, selama mereka tidak mengganggu arus lalu lintas atau melakukan tindak perusakan propertisebuah demonstrasi damai.

   Semenjak demonstrasi damai diijinkan oleh negara, maka sejak itu pula taktik tersebut tak lagi mampu mengguncang sistem dalam tingkat yang paling signifikan.Bukannya menantang Tontonan Demokratis, protes-protes kita telah terinkorporasi ke dalam sebuah Tontonan baru, membuat Dunia Tontonan semakin kuat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.Semakin spektakuler demonstrasi yang kita organisir, semakin meriah dan cerah para peserta demonstrasi, semakin mudah bagi publik untuk melihat para demonstran sebagai sebuah peserta casting reality show yang langsung ditayangkan di muka mereka.

   Inilah sebuah pengulangan. Sebuah demonstrasi damai yang besar, yang telah menjadi sangat popular, kini bukan hanya kehilangan efektifitasnya, mereka bahkan membuat segala sesuatu menjadi semakin buruk. Dengan menyalurkan waktu, energi, uang dan kreatifitasnya, banyak para aktifis bergabung dalam sebuah demonstrasi damai merepresentasikan tantangan yang simbolis (bukan aktual) terhadap dominasi korporasi beserta kekuatan militer yang mendukungnya.Lebih jauh lagi, demonstrasi-demonstrasi seperti itu memberikan sebuah sensasibaik itu terhadap para aktifisnya maupun publik secara umumsebuah perasaan nyaman untuk terus melanjutkan hidup di bawah orde pemerintahan yang eksis.Saat membaca laporan aksi di koran keesokan harinya, publik merasa nyaman, bahwa pada akhirnya mereka hidup di bawah sebuah orde pemerintah yang lebih demokratis.Sementara para aktifis pulang ke rumah dengan sebuah perasaan lega, bahwa pada akhirnya mereka telah melakukan sesuatu. Pada akhirnya, bagaimana sebuah tontonan pemberontakan didemonstrasikantelah menjadi tujuan akhir, bukannya bagaimana kita berusaha mencapai tujuan akhir dengan taktik demonstrasi.

   Saat kita mulai dengan premis bahwa kita tak dapat melakukan perubahan, apakah kita juga mempertanyakan: mengapa tidak bisa melakukannya? Saat kita memilih taktik yang spektakular, bukan yang substansial, apakah lantas kita perlu terkejut saat apa yang kita lakukan terinkorporasi ke dalam sebuah Tontonan? Apakah benar bahwa yang kita butuhkan adalah sebuah liputan media yangsuperfisial, yang mempertontonkan bagaimana beberapa orang tidak setuju dengan sebuah kebijakan tertentu dari pemerintah?Apakah kita benar-benar berani untuk bermimpi lebih ekstrim lagi? Beranikah kita mengambil resiko dengan benar-benar berusaha menentang sistem atas nama kita sendiri, bukan sekedar memperlihatkan bahwa kita tak setuju kebijakan pemerintah? Apa yang mungkin dapat kita lakukan untuk membuat sebuah perubahan?

   Pertama-tama, kita perlu untuk memahami perbedaan antara aksi langsung dan aksi tak langsung. Sudah sekian lama, terlalu banyak aktifis yang salah mengerti tentang aksi langsung. Sebagai sekedar catatan saja, taktik yang menghasilkan efek langsung bagi beberapa elemen dari problem yang dihadapi, termasuk ke dalam aksi langsung.Sementara, aksi tak langsung berusaha mencari rute melingkar dan memutar, seperti misalnya berusaha mencari cara untuk mengubah pola pikir masyarakat dengan harapan bahwa suatu saat mereka akan mengubah perilakunya dan pada gilirannya akan dapat mengubah kebijakan-kebijakan nasional.Aksi pemogokan, boikot, sabotase, pencurian, demonstrasi yang secara substansial mengganggu kelancaran perputaran roda ekonomi, termasuk dalam aksi langsung. Pengedaran petisi, mengirimkan surat pada editor media massa, pendidikan komuniti dan demonstrasi yang mengekspresikan ketidakpuasannya secara simbolik, termasuk dalam aksi tak langsung.

   Sejarah menunjukkan bahwa gerakan perubahan sosial selalu mendapatkan suksesnya saat kedua taktik tersebut tampil bersamaan dan terkoordinasi.

   Seorang demonstran pasifis (pecinta damai) merasa bahwa march dan rally damai yang melibatkan banyak publik dalam barisannya sangat efektif selama masa penggulingan rezim Suharto, akan memiliki efek yang sama terhadap opini publik hari ini. Ia telah lupa bahwa waktu telah berubah; ia telah lupa bahwa publik tak lagi terkejut dengan hadirnya ratusan orang di jalanan membawa bendera dan spanduk; ia telah lupa, bahwa baik bagi partisipan maupun pengamatnya, demonstrasi damai di jalanan tak beda jauh dengan sebuah parade.

   Bahkan sebagian besar dari kita telah lupa betapa aksi langsung menjadi sebuah elemen yang esensial dari banyak protes yang efektif di masa lalu. Aksi damai yang dipimpin oleh Gandhi di India (yang menjadi banyak panutan bagi para aktifis pasifis), berhasil membebaskan India dari belenggu kolonial, karena aksinya bertransformasi menjadi sebuah pemogokan umum dan pemboikotan yang melumpuhkan sistem perekonomian kolonial. Aksi tersebut juga berbarengan dengan terjadinya penjarahan besar-besaran di toko-toko kolonial di kota-kota besar India.Atau dengan kata lain, aksi damai dari Gandhi dan para pendukungnya telah menohok sistem ekonomi secara langsung, yang bahkan juga kemudian berhasil melumpuhkannya.

   Ini sangat kontras dengan apa yang terjadi dalam demonstrasi damai dewasa ini. Ia hanya mengulang-ulang pesan-pesan lama pada partisipannya sendiri. Even protes disusun dengan sangat mendetail, dengan memberi penekanan pada gaya protes, bukannya pada substansi. Para aktifisnya menyimbolkan penentangan, tetapi tak pernah benar-benar memberontak. Para demonstran dan polisi bukan tak jarang saling bekerja sama sehingga membuat sistem yang oleh para aktifis diklaim harus diganti, menjadi tampak baik hati dan kooperatif. Dan sementara mereka bekerja sama, sistem ekonomi yang mendasari seluruh masalah sosial dewasa ini tetap tenang tak terusik sama sekali.

   Poin dari beberapa skenario dramatis dewasa ini (seperti aksi penolakan kenaikan harga BBM di berbagai kota yang dipelopori oleh mahasiswa) jelas tidak mengkonstitusikan aksi langsung. Aksi langsung memang tidak perlu tampak dramatis, dan dalam Dunia Tontonan dewasa ini, aksi menjadi sangat efektif saat ia tidak menjadikan dirinya bagian dari tontonan. Aksi langsung menolak kenaikan harga BBM, secara definitif, jelas mengarah pada lokasi-lokasi dimana sumber BBM dikuasai oleh negara.Merampok pompa bensin, membagi-bagikannya secara gratis pada seluruh kendaraan yang lewat seperti yang dilakukan oleh segerombolan preman di Bandung empat tahun lalu, jelas adalah sebuah bentuk aksi langsung; sementara berteriak Tolak kenaikan harga BBM! di jalanan yang terik di siang bolong, jelas bukan.

   Kalau kalian tidak mau harga BBM mahal, ambil alih sumber BBM. Ambil yang kalian butuhkan, distribusikan sisanya secara gratis. Tak ada yang spektakular dalam ide tersebut.


laughing
with hypatia at 8:51:00 AM |

******