Friday, July 29, 2005


MEMAHAMI WAKTU YANG SPEKTAKULAR

Review Buku The Society of the Spectacle karya Guy Debord



   Selama beberapa tahun di awal, buku karya Guy Debord Society of the Spectacle hanya beredar dalam bahasa Perancis saja, tahun 1980an baru beredar edisi bahasa Inggris yang diterbitkan tanpa pernah diedit sama sekali oleh Guy Debord atau siapapun yang memang bergelut dengan Situationist International (SI) di jamannya. Barulah pada tahun 1994 lalu, terbit buku ini dalam versi bahasa Inggris yang telah mendapat approval dari salah seorang mantan anggota SI sendiri: Donald Nicholson-Smith. Yang ironisnya justru buku ini terbit bersamaan dengan tahun dimana Guy Debord mengakhiri hidupnya sendiri.


   Terbit pertama kali di Perancis pada tahun 1967, buku ini nyaris tak menarik perhatian sama sekali selain di beberapa bidang yang hingga kini banyak mendapat pengaruh dari ide-ide di dalamnya filsafat, studi media, teori sosial, ilmu-ilmu sosial politik. Sesuatu yang sebenarnya tak berbeda dengan di Indonesia, buku ini hanya mendapat perhatian di kalangan mereka yang bergelut dengan filsafat. Sangat jarang buku yang merangkul juga prinsip-prinsip dan kritik seni avant-garde serta politik radikal, mendapat tempatnya di kalangan seniman avant-garde ataupun juga para aktifis politis radikal.Padahal dalam buku ini, Debord berintensi untuk menyediakan sebuah kritik yang komprehensif atas manifestasi sosial dan politik dalam bentuk produksi modern, dan analisa yang ia tawarkan di tahun 1967 masih sangat komprehensif hingga saat ini.Bahkan filsuf yang dirayakan bak-selebritis di abad terakhir ini, Jean Baudrillard, mengajukan teori simulacra, sebuah teori yang juga berangkat dari buku karya Debord ini.


   Nomor-nomor yang berada dalam kurung yang tersebar dalam artikel ini, menunjukkan nomor tesis dalam buku Debord ini.



   Dibagi menjadi 9 chapter, dan dipecah dalam 221 tesis, Society of the Spectacle cenderung menuju pada sebuah peringkasan atas ambiguitas-ambiguitas puitis atas berbagai polemik di tataran diskursus analisis.Disitulah, bagaimanapun juga, tak ada justifikasi atas radikalismenya. Hegel mendapat tempat di kalangan radikal, Marx apalagi, begitupun dengan Lenin dan Rosa Luxemburg. Sementara Debord mengajukan sesuatu yang justru mengundang debat, seperti menyediakan sebuah teori yang belum selesai, Society of the Spectalce dianggap banyak pihak sebagai sebuah pekerjaan yang diselesaikan terlalu cepat, ia menjadi sebuah manifesto seni yang membutuhkan basis historis dan teoritis. Tetapi para kritikusnya sebenarnya sering lupa, bahwa provokasi Debord justru memberi analisa baru dimana segala analisa radikal sebelumnya telah gagal dalam menganalisa masyarakat (pasca)modern. Dalam chapter pertamanya, Separation Perfected, menubuhi pernyataan yang tegas, yang mana menjadi salah satu poin yang banyak mempengaruhi pemikiran para teoris setelahnya, yang menjadi tesis pertama yang menyatakan bahwa:



   the whole of life of those societies in which modern conditions of production prevail presents itself as an immense accumulation of spectacles. All that was once directly lived has become mere representation.

   Sebuah pernyataan yang telah memapankan keputusan Debord, dimana tesis sisanya sebenarnya cenderung berusaha untuk memperjelas pernyataan tadi, dan berelaborasi pada kebutuhan akan sebuah resistansi revolusioner praksis.


   Sejauh ini, hasil karya terkenal Debord ini, berada di antara sebuah manifesto provokatif dan sebuah analisis ilmiah dari politik modern. Ia tetap berada di antara buku-buku yang sering dikutip tetapi jarang dibaca secara menyeluruh. Kata spectacle telah menjadi begitu populer (di Barat, tidak di Indonesia), yang menyatakan sebuah implikasi visual dari representasi dan politik pecah belah. Duplikasi yang terdistorsikan dari realitas akan menemukan dirinya pada sebuah lahan dimana segala sesuatu memiliki spectacular nature, dan dengannya juga kita akan dapat melihat bagaimana cyberspace ternyata telah cocok dengan kerangka kerja yang menjadi kritik para situationist.Society of the Spectacle dapat digunakan untuk melacak jejak dari pengembangan spectacle dalam berbagai kontradiksinya, mendemonstrasikan sebuah kebutuhan bagi spectacle untuk mereplika dirinya sendiri dengan cara yang parasitistik, dan menawarkan sebuah ide bahwa hanya dengan resistansi yang tak terjebak dalam spectacle-lah maka kekuatan dominan dewasa ini dapat runtuh.


   Mengapresiasi buku ini berarti kita tak dapat melepaskan diri dari apa yang dilakukan oleh Debord dalam tataran praksisnya. Ia adalah salah satu pendiri organisasi Situationist International, sebuah grup yang terdiri dari para teoris-teoris sosial, seniman-seniman avant-garde, para intelektual Left-Bank yang hadir dari berbagai gerakan seni Eropa. SI dan para pengikut alurnya mengambil akar sejarahnya yang dimulai dari gerakan Futurist, Dada dan Surrealis dalam konteks dimana mereka meleburkan batas antara seni dan kehidupan, serta bertujuan untuk mentransformasikan secara konstan pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari.Kohesi dan persuasi analisa politik yang dibawa ke depan oleh Debord, bagaimanapun juga, telah membuat organisasi SI sendiri terlepas dari relevansinya dengan gerakan-gerakan seni sebelumnya. Society of the Spectacle, merepresentasikan aspek-aspek teori situationist yang mendeskripsikan dengan tepat bagaimana setiap orde sosial diadakan dengan perawatan sistem ekonomi global, yang mengekspansikan pengaruhnya melalui manipulasi representasional. Tak lagi tergantung pada kekuatan fisik ataupun ilmu pengetahuan, status quo dari relasi sosial, mulai dimediasikan melalui imaji [4]. Spectacle itu sendiri, baik penyebab ataupun hasil akhirnya adalah berkutat dari bentukan-bentukan organisasi modern.


   Dengan perilaku yang sama dengan apa yang ditulis oleh Marx saat ia menulis Capital dengan memberikan sebuah detail yang kompleks dari mekanisasi kapitalisme, Debord-pun demikian saat ia mendeskripsikan intrikasi-intrikasi inkarnasi modern, yang berarti bahwa sistem inipun mengambil alih kontrol atas seluruh realitas kehidupan harian. Spectacle, menurut argumen Debord, adalah sebuah fase dimana kapitalisme telah memproklamirkan dominasinya atas setiap imajidan menyatakan bahwa seluruh hidup manusia hanyalah sekedar penampakan (pencitraan/pengimajian). [10]. Baik dalam subyek maupun referensinya, kita dapat melihat bagaimana Debord mendapatkan alur yang sama dengan Herbert Marcuse dalam Counter-Revolution and Revolt, dimana Marcuse mendeskripsikan motif-motif dan metoda-metoda di balik toleransi represifkapitalisme, dan kemampuannya untuk merangkul setiap resistansi, memapankan kekuasaan, serta memberikan sebuah imaji tentang semakin membaiknya kualitas hidup keseharian.Kritik kultur global Debord kemudian juga menemukan gaungnya pada seorang teoris riset Norwegia, Johan Galtung, yang mengembangkan sebuah analisa tentang imperialisme kultural. Adalah fokus SI terhadap peran imaji dan representasi, yang membuat kontribusi mereka pada pemahaman politis menjadi unik dan masih relevan hingga saat ini.
   Spectacle sendiri, secara konstan akan terus berubah, mereorganisir dirinya sendiri dan mengembangbiakkan dirinya sendiri juga melalui ekspresi modern dari bentuk produksi. Ia telah menjadi chief productdari masyarakat dewasa ini [15]; buktinya perhatikan bagaimana segala aspek produksi saat ini hanyalah berkutat pada pembentukan imaji, seseorang dapat menjadi revolusioner hanya dengan mengenakan kaos bergambar Che Guevara ataupun mengenakan imaji-imaji revolusioner lainnya. Atau misalnya, seseorang muslimah dapat dianggap beriman, cukup dengan mengenakan jilbab yang menjadi imaji keberimanan seorang muslimah.


   Revolusi borjuis yang membawa bentuk negara modern telah mendapat kredit sebagai pelopor basis sosio-politik dari spectacle modern [87]. Dan dalam chapter terpanjangnya, The Proletariat as Subject and Representation, mengikuti perkembangan negara modern baik dalam bentuk pasar bebas dan bentuk kapitalisme negara, serta keduanya berusaha mendeskripsikan bagaimana pengembangan ini menakankan pada transformasi relasi sosial yang nyata menjadi sebuah representasi atas relasi sosial.Dalam chapter berikutnya juga diterangkan bagaimana representasi spectacle atas sejarah, waktu, lingkungan dan kultur.Kritik Debord ini juga sangat efisien untuk mendemonstrasikan bahwa spectacle ini bukanlah sekedar imaji-imaji yang tampak di layar televisi kita. Spectacle adalah sesuatu yang jauh lebih besar dari peralatan elektronik yang juga berkontribusi dalam membuat kita menjadi sebuah penerima pasif; melainkan ia adalah sebuah manipulasi total yang dibentuk berdasarkan sejarah, waktu dan kelas, yang pada hakikatnya hanya berkontribusi pada penguatan spectacle itu sendiri.Seperti juga disiplinnya Foucault, spectacle adalah sebuah entitas yang otonom, tak lagi melayani kepentingan kekuasaan lain, tetapi sebuah entitas yang secara selektif memilih siapa yang akan diuntungkan darinya. Konsekwensinya, resistansi akan menjadi bertambah sulit dan perjuangan untuk itu jelas akan menemui banyak jalan buntu.



   Di satu sisi, Debord mengkritisi para Marxis atas ideologi mereka yang terlalu baku, dan keyakinan kebanyakan mereka ata perlunya negara sosialis yang merepresentasikan proletariat. Di sisi lain, Debord juga mengkritisi para anarkis atas utopianisme mereka dan kebodohan mereka dalam melihat perlunya dasar historis yang transformasional. Walaupun apa yang ditawarkan oleh Debord sepertinya tak kalah abstraknya, seperti:



   Consciousness of desire and the desire for consciousness together and indissolubly constitute that project which in its negative form has as its goal the abolition of classes and the direct possession by the workers of every aspect of their activity. [53]



   Dalam chapter Negation an Consumption, Debord menggaris bawahi pendekatan para situationist, dalam memahami bahwa teori-teori kritis adalah sesuatu yang dialektikal, sebuah gaya menegasi [204]disini kita juga menemukan sebuah deskripsi tentang apa yang kemudian sering disebut sebagai sebuah taktik modern para situationist: détournement. Strategi ini, dalam tataran teoritis, adalah sebuah manifestasi dari sebuah logika mapan tentang hubungan antara spectacle dan apa yang diciptakannya. Dalam tataran praksis, détournement ini menemukan ekspresinya dalam komik strip yang diganti semua balon katanya dengan slogan-slogan revolusioner, utopis ataupun grafiti yang tak bermakna dalam. Ia juga terekspresikan dalam penggantian pesan-pesan dalam billboard. Ini semua adalah bagian dari subversi modern yang memanfaatkan baik teks maupun grafis yang diciptakan oleh spectacle modern. Dalam poin ini, merunut pada Debord adalah untuk memberikan sebuah efek kepemilikan dialog oleh komunitas, dan relasi yang penuh permainan pada waktu, dimana hasil kerja para penyair dan seniman benar-benar direpresentasikan. [187]. Kritik teoritis yang menyeluruhini, tentu saja tak akan dapat menemukan kekuatannya tanpa praktek sosial yang menyeluruh, sebuah poin yang seringkali diabaikan oleh para filsuf modern dimana-mana.Para situationist, bagaimanapun juga, adalah sekelompok intelektual, dan bukanlah para pekerjasebuah fakta dimana Debord sendiri tidak ragu-ragu mengakuinya. Walau demikian, ia dengan tegas meyakini bahwa hanya dengan kelas tersebutlah makaseluruh (sistem) kelas dapat diakhiri, sebagai satu-satunya harapan untuk mengembalikan semua umat manusia kepada hidup yang sesungguhnya.


   Mengesampingkan status intelektual yang mendominasi mereka, SI tak dapat disangkal juga telah memiliki pengaruh praksis yang cukup besar. Salah satu anggota mereka juga perlu diberi kredit karena telah menulis pamflet legendaris On the Poverty of the Student Life dan bersama para perusuh kampus menginfiltrasi serikat mahasiswa Strasbourg pada tahun 1966; sesuatu yang seringkali dianggap sebagai salah satu katalis bagi even penting Mei 68. Dalam insureksi tersebut SI juga memainkan perannya, mendorong terjadinya kemungkinan untuk melakukan pemogokan massal dalam masanya; menciptakan sebuah komune modern.Lantas, penting juga dilihat mengenai terbentuknya kelompok-kelompok geng-geng jalanan yang sangat politis, yang menggabungkan antara kelompok seniman intelektual radikal bersama para preman jalanan yang penuh kekerasanthe Kings Mob, Black Mask dan Up Against The Wall Motherfuckers. Mereka juga dianggap sebagai pemberi pengaruh bagi kelompok anarkis teroris Inggris yang mendapatkan hari kebesarannya di tahun 1970-an bernama Angry Brigade.Juga tak kalah penting adalah kemunculan kultur punk rock di akhir dekade 1970-an yang hadir (pada era tersebut) bukan sekedar sebagai sebuah revolusi musikal, melainkan juga sebuah kritik sosial yang menyeluruh.


   Digerogoti oleh perang internal (dimana Debord, dengan perilaku yang mirip dengan Andre Breton, secara sepihak memecat nyaris setiap anggota SI selama kurang lebih 15 tahun, dengan sebuah kritik yang tajam setiap kalinya) yang berarti juga mendeterminasikan bahwa hal tersebut akan mengalienasikan para simpatisan revolusionernya yang sangat potensial, SI membubarkan dirinya pada tahun 1972. Ini memang agak ironis, karena buku karya Debord yang dipublikasikan tahun 1994 ini diterjemahkan dengan tepat oleh Donald Nicholson-Smith, seorang anggota SI yang ditarik keanggotaannya oleh Debord pada tahun 1967 bersama koleganya, Christopher Gray.


   Saat Debord mempublikasikan buku lanjutannya Comments on Society of the Spectacle nyaris 20 tahun sejak buku pertamanya dipublikasikan di Perancis, ia membuat beberapa komentar tentang hal-hal penting yang terjadi saat ini, memberikan kaitannya dengan tesis orisinilnya yang nyaris tak diberi revisi sama sekali.Tetapi itu memang sebenarnya demikian, karena toh tanpa revisipun Society of the Spectacle masih akurat dengan kondisi modern saat ini. Di mana pada tahun 1967 spectacle mengambil dua bentuk dasarnyabentuk yang menyebar dan yang terkonsentrasi, mengambil dasarnya dari bentuk struktur sosial blok Timur dan blok Barat dalam era Perang Dinginsekarang kita telah memasuki era spectacle yang terintegrasi, sesuatu yang justru membawa semakin minim harapan untuk bebas dan semakin kuatnya kontrol yang terjadi. Spectacle kini telah menggantikan nyaris seluruh realitas, membuat nyaris seluruh relasi sosial termanipulasi dan seluruh kritik sosial terkooptasi, atau terekuperasi apabila meminjam bahasa yang digunakan oleh SI. Hidup yang semakin tergesa, pereduksian seluruh hidup ke area digital yang semakin cepat dan ditambah percepatan komunikasi, semuanya menjadi contoh bagaimana kritik Debord masih koheren hingga saat ini.Dalam abad ini juga dimana Disney, Baudrillard, dan rekuperasi total radikalisme menjadi semacam Prada-Meinhof, membuat mau tak mau kita perlu untuk memfamiliarkan diri kita dengan kritik para situationist.Tantangan saat ini yang masih tersisa adalah bagaimana kita menyembuhkan kritik para situationist dari sekedar spectacle itu sendiri. Tidak dengan menunggu, tetapi dengan menggabungkan kritik teoritis dengan perjuangan praksis dimana hasrat akan kesadaran dan kebebasan menjadi elemen terpentingnya.


Catatan penting: Situationist International telah mempublikasikan seluruh materialnya tanpa hak cipta samasekali. Mereka selalu memberikan catatan penting bahwa material mereka freely reproduced, translated, or adapted, without even indicating their origin."


laughing
with hypatia at 10:01:00 AM |

******