Wednesday, August 10, 2005


KAMPANYE ANTI-NARKOBA DAN PERMASALAHAN KOMUNITAS (BAG. I):



Perang Palsu Melawan Narkoba


   
   Tanggal 26 Juni lalu, dianggap oleh banyak pihak sebagai hati anti-narkoba internasional. Di beberapa kota besar di Indonesia sendiri, kita akan dapat melihat betapa banyak spanduk atau selebaran yang mengusung isu anti-narkoba ini.Di televisi kita dapat melihat grup Slank bicara seperti ustad kacangan pada para penggemarnya yang tinggal di kawasan-kawasan kumuh kota-kota besar. Suara-suara tertawa sinis yang dikumandangkan oleh para preman di kawasan tersebut memang menunjukkan kepalsuan skema anti-narkoba ini, walau mereka juga tidak menunjukkan darimana semua kekacauan ini bermula.

   Kunci utama dari skema anti-narkoba ini adalah iklan. Bersamaan dengan gencarnya kampanye anti-narkoba yang mempertontonkan para pengguna narkoba sebagai sosok setan yang hidup di luar kehidupan normal, sebenarnya hal tersebut juga justru telah mengkampanyekan betapa narkoba adalah sebuah produk yang sangat sangat menarik. Saat di sekolah-sekolah kampanye juga gencar serta memberi selamat pada mereka yang bisa mengatakan tidak pada narkoba, para siswa sama sekali tidak diberi pilihan selain hanya duduk diam dan mengangguk. Imaji penolakan narkoba menjadi sesuatu yang terpenting disini. Dan dimana-mana imaji sama saja, ia tak pernah menjadi bagian substansial dari kehidupan nyata.

   Seperti senjata ataupun film Star Wars, narkoba adalah komoditi yang sangat ideal dalam krisis kapitalisme. Ini bukanlah sekedar sesuatu yang klise bahwa dengan membeli narkoba telah membuat para konsumernya menjadi semakin miskin dan terpaksa harus bekerja. Bukan sama sekali. Dalam krisis ekonomi dewasa ini, sistem tak mampu lagi menjual cukup produk dengan nilai-nilai yang positif. Saat narkoba, alkohol dan senjata telah menggantikan komputer dan mesin cuci, tatanan masyarakat saat ini telah kembali terjerumus ke dalam komoditi negatif, komoditi yang berfungsi benar-benar hanya untuk menyerang kehidupan.

   Secara keseluruhannya, sistem saat ini telah mengembangkan sebuah imaji untuk menutupi situasi yang sesungguhnya terjadi. Di mata para penguasa di Indonesia, masalah narkobaadalah masalah masyarakat yang harus disimbolkan sebagai sesuatu yang berada di luar nilai masyarakat. Bukannya dipaksa membeli janji-janji akan kehidupan yang lebih baik, kini kita dipaksa membeli kemarahan yang seharusnya dapat kita manfaatkan untuk menyerang sistem ini sendiri.

   Narkoba dan gerakan anti-narkoba telah diperjual belikan dengan cara yang sama. Masing-masing dijual sebagai sebuah alat pertahanan yang saling bertentangan dan melawan penderitaan hidup harian di bawah sistem yang menyedihkan ini.Kebutuhan akan pertahanan ini jelas selalu bertambah. Penderitaan ekonomi ataupun psikologis yang dihasilkan dari kerja dan alienasi harian telah membuat panggungnya sendiri di setiap akhir pekan, dimana hiburan satu-satunya yang eksis bagi semua orang adalah dengan cara melarikan diri dari kehidupan nyata (contoh terbaik adalah kata pesta yang selalu didefinisikan sebagai event pengkonsumsian narkoba atau alkohol).

   Kecanduan adalah sebuah sistem yang membuat penyakit menjadi semakin memburuk; pecandu narkoba akan dapat dengan mudah terus menaikkan dosisnya hingga saat kematian tiba.Tetapi mari kita generalisir dulu masalah candu ini. Beberapa orang memang kecanduan narkoba, beberapa lainnya kecanduan agama, tentara yang kecanduan perang dan beberapa tenaga administratif kecanduan represi polisi.Hal ini dapat dilihat dalam program-program pembersihan komunitas dari narkoba, sekali urusan narkoba membuat sebuah lokasi daerah menjadi area yang tak aman, solusi yang ditawarkan oleh gerakan anti-narkoba pada penduduk adalah keberadaan polisitapi siapa yang akan melindungi penduduk dari kehidupan menyedihkan yang mengharuskan mereka semua bekerja sehari penuh hanya sekedar untuk mampu bertahan hidup? Dengan kondisi seperti ini, narkoba tetap menjadi sesuatu yang dihasratiharga-harga bahan pokok terus menerus meningkat, korupsi semakin kuat, represifitas negara mengetat dan dengan demikian, narkoba akan kembali menjadi produk yang dicari.Semakin meningkatnya kampanye anti-narkoba selalu bersamaan dengan semakin meningkatnya konsumsi narkoba. Saat penangkapan dan penggerebekan pengedar narkoba kecil ditangkapi, harga narkoba semakin tinggi, ini membuat profit yang didapat oleh para pengedar raksasa semakin membengkak karena para pecandu bagaimanapun juga tetap butuh untuk terus mengkonsumsi entah penggerebekan sedang gencar atau tidak. Para pengedartersebut banyak yang mengatakan bahwa tak jarang pengedar narkoba adalah polisi sendiri. Hal itu memang dapat dibenarkan tetapi statemen tersebut juga sama sekali tidak membawa kita ke akar masalah sebenarnya: sistem kapitalisme lanjut.

   Masalah-masalah seperti ini bukanlah soal bagaimana budaya modern telah terpecah, melainkan ini adalah sebuah usaha pelarian yang gagal dari budaya modern. Dislokasi sosial semakin meningkat dengan meningkatnya kampanye kembali pada nilai-nilai Timur, sejak nilai Timur di Indonesia adalah berarti ketertundukan dan ketaatan pada perintah yang dalam prosesnya selalu mereduksi nilai individu.Nilai Timur ini bukan sesuatu yang berharga untuk dipertahankan sejak ia memang memfokuskan diri pada rasa takut, paranoia akan sesuatu yang berada di luar dirinya. Persis seperti kampanye anti-narkoba yang tak pernah dapat menghentikan distribusi narkoba, hal ini hanya menyebarkan rasa takut atas segala sesuatu yang berhubungan dengan narkoba.

   Keberhasilan utama dari kampanye anti-narkoba adalah saat hal tersebut dapat menekan setiap konsep yang dapat benar-benar mengubah situasi.Dengan menyebarkan kebohongan besar, maka mereka berharap dapat menutupi kebohongan-kebohongan kecil dalam masyarakat. Saat dalam bahasa birokratis para pelaku kampanye berkata bahwa adalah bohong seorang pemuda penganggur miskin dapat menjadi kaya dengan cara menjual narkoba, mereka menawarkan solusi dalam bentuk kontrol dirisebuah kata ganti bagi partisipasi pasif ke dalam dunia kerja, agama dan pengorganisiran komunitas, membuat para pemuda miskin menjadi kader-kader terbaik bagi produksi tenaga kerja yang penurut.

   Solusi-solusi yang ditawarkan oleh para pakar tak pernah beranjak kemana-mana. Saat Indonesia telah gagal untuk mempertahankan imaji tentang peningkatan kemakmuran dengan peningkatan konsumsi (antara lain dengan dipopulerkannya sistem kredit), ia hanya dapat mempertahankan posisinya dengan menciptakan imaji perang melawan kemiskinan. Dan selalu saja publik dijauhkan dari argumen sesungguhnya yang berada di balik maraknya penggunaan narkoba: para pengedar tuh kayakmonster dan nggak ada yang tahu kenapa mereka tega melakukan hal seperti itu. (interview Indosiar, 8 Juli 2005).

   Penderitaan yang diproduksi sendiri oleh masyarakat sangat sangat memprihatinkan sehingga tak dapat lagi terucapkan. Para organisator gerakan anti-narkoba seperti organisasi yang menyebut diri mereka Granat tak pernah sama sekali berkata mengenai abolisi kemiskinan yang menyebabkan banyak pemuda miskin beralih pada bisnis narkoba; masalah narkoba ditutupi dengan ilusi kemandirian dan hidup positif, sama seperti bagaimana buruknya sistem dan kondisi kerja ditutupi dengan ilusi pertumbuhan ekonomi. Mabuk atas hidup seperti yang dibicarakan oleh para sufi bukan lagi sebuah pilihan bagi banyak orang, sejak nyaris sebagian besar orang telah mengalami overdosis hidup dan mencari cara melarikan diri darinya; di saat seperti ini orang-orang pemuja just say no to drugstidak pernah dapat menawarkan solusi apapun, apalagi soal bagaimana mengubah hidup.


Relasi Polisi dan Penjahat yang Saling Menguntungkan

   Sebagaimana propaganda anti-narkoba semakin gencar, para pengedar narkoba juga semakin gencar memperlihatkan bagaimana caranya mengatasi kemiskinan dan penderitaan hidup harian.

   Perang yang seharusnya saling mematikan antara pengedar narkoba dan kekuatan gerakan anti-narkoba kini justru memperlihatkan bagaimana mereka saling menguntungkan dan memperkuat diri. Bukan saja bahwa propaganda anti-narkoba telah memberikan alasan bagi polisi dan organisasi semacam Granat untuk menyerang para pemuda-pemudi yang tak mau mengikuti aturan main sistem dominan (kebanyakan dari mereka adalah pengedar dan pengguna kecil), tetapi hal itu juga justru membuat mereka beraliansi dengan para pengedar raksasa.Para pengedar raksasa membutuhkan polisi dan gerakan anti-narkoba untuk membuat harga tetap tinggi dan polisi membutuhkan pengedar untuk tetap membuat publik merasa takut akan kekuasaan dominan.Sudah menjadi rahasia umum bahwa para pengedar raksasa justru dapat terus beroperasi dengan memanfaatkan kekuatan polisi untuk mempertahankan monopoli mereka melawan kompetitor bisnis narkoba lainnya. Narkoba adalah komoditi yang paling berbahayabagi setiap gerakan pembebasan karena ia berdiri sebagai sebuah oposisi palsu bagi masyarakat. Saat pemuda-pemudi miskin tidak mampu memasuki pasar komoditi yang normal, mereka menemukan satu-satunya pasar komoditi yang menerima mereka adalah narkoba.Para pengedar kecil adalah para pemberontak palsu yang menyedihkan, karena saat mereka mengikuti aturan main masyarakat kapitalisme lanjut, masyarakat sendiri yang bersikap menolak mereka dan mencapnya sebagai musuh terbesar masyarakat.

   Memperhatikan itu semua, maka seluruh usaha untuk mengakselerasikan perang polisi melawan narkoba jelas sangat tidak efektif untuk menghentikan penggunaan narkoba.Menyadari kegagalannya, gerakan anti-narkoba menciptakan imaji penindasan yang lebih besar lagi. Taktik mulaidiubah dari sekedar memanfaatkan kekuatan polisi secara virtual kepada taktik penggerebekan para pengedar (kecil) tanpa bantuan polisi. (Walau pada kenyataannya secara operasional mereka tetap bersama dengan polisi, tapi penampakan polisi secara virtualmulai dihindari). Dengan ini penanaman rasa takut dan saling curiga di antara sesama anggota masyarakat menjadi semakin kuat. Dan ini adalah program yang sebenarnya menguntungkan bagi sistem ini sendiri.


Kisah Seekor Kera

   Walaupun tak mampu menghentikan penggunaan narkoba, produksi imaji akan sesosok musuh yang mematikan tetap menjadi sebuah metoda yang penting untuk mempertahankan tatanan masyarakat saat ini tetap berada di tempatnya.Para ilmuwan telah menggunakan metoda yang brutal untuk mengilustrasikan problem narkoba sebagai sesosok musuh yang tanpa ampun.

   Dalam eksperimen di laboratorium seperti yang pernah diberitakan oleh majalah Intisari, seekor kera ditempatkan dalam sebuah kurungan dan diberi sejumlah pilihan tombol untuk ditekan. Setiap tombol yang ditekan memproduksi stimulasi yang berbeda-beda.Satu tombol memberi makanan, tombol lain air, tombol ketiga alkohol dan keempat kokain. Diperhatikan bagaimana kera tersebut mencoba semua tombol hingga ia menekan tombol keempat. Sekali ia mendapatkan kokain, ia terus menerus menekan tombol tersebut. Awalnya hingga kera tersebut menjadi kecanduan, kemudian hingga pada taraf mengabaikan makanan, dan pada akhirnya terus menekan tombol tersebut hingga ia mengalami overdosis dan mati.

   Konklusi yang disusun oleh para ilmuwan yang melakukan eksperimen ini adalah tentang bagaimana narkoba menciptakan sebuah hasrat irasional bagi siapapun yang mencobanya.Irasionalitas narkoba menjadi jelas bagi para ilmuwan tersebut; sang kera telah membunuh dirinya sendiri, dan ia tak mampu lagi dijadikan obyek bagi eksperimen lain.

   Tanpa bermaksud mengesampingkan isu kekejaman terhadap binatang seperti yang diangkat oleh para aktifis pembebasan binatang, para ilmuwan tersebut sebenarnya telah memberikan pada sang kera sebuah posisi yang jelas-jelas mirip dengan yang dialami oleh manusia normal. Tapi tidak seperti para ilmuwan tersebut, kami melihat destruksi diri sang kera telah menjelaskan sesuatu tentang binatang yang berada dalam kurungan.Tidak mengherankanbagi kami, bahwa bagi kera tersebut yang telah diputuskan secara paksa secara keseluruhan dari aktifitas dan habitat alaminya, akan dengan sukarela mengkonsumsi produk kimiawi untuk dapat melarikan diri dari kondisi yang dialaminya, walaupun hal itu harus dibayar dengan kematian.Sejak kera tersebut memang binatang-binatang laboratorium, yang telah dideterminasikan nasibnya akan berakhir dengan kematian tragis di kurungan dan berbagai macam eksperimen, kami anggap sangat rasional apabila ia memilih untuk berkutat dengan simulasi kenikmatan saat ia harus menunggu kematian hadir; setidaknya ia tidak mati dalam kesadaran akan penderitaan yang mengenaskan.Juga tak mengherankan bagi kami melihat bagaimana para ilmuwan yang melakukan eksperimen tersebut tetap tak mampu memahami mengapa manusia yang telah mengerti efek bahaya narkoba tetap mengkonsumsinya. Mereka tak memahami bahwa manusia modern telah berada dalam sebuah kurungan kasat mata dalam proyek domestikasi perumahan, kerja, produksi mobil, pabrik dan kantor.

   Saat segala pilihan hidup yang disediakan, dari program televisi hingga simulasi komunikasi dengan internet dan mode busana telah memperlihatkan pada kita semua, betapa perilaku kita terhadap kehidupan telah tereduksi menjadi sekedar konsumsi komoditi, sebuah situasi yang berkutat pada simulasi hidup itu sendiri. Seperti kera di laboratorium, rasionalitas dalam membeli komoditi sama rasionalnya dengan keinginan untuk tetap eksis dan merasa berarti.Juga seperti kokain yang dikonsumsi oleh sang kera, komoditi tersebut tak pernah benar-benar mampu menawarkan pelarian yang sesungguhnya. Secara konstan kita disuguhi imaji-imaji komoditi yang mampu membuat kita menjadi bebas, merasa bebas.Tentu saja, faktanya dengan mengandalkan imaji komoditi kita tak pernah bisa lepas dari eksistensi kita yang terkurung, yang juga menciptakan komoditi sosial seperti narkoba dan gerakan anti-narkoba
.


laughing
with hypatia at 12:18:00 PM |

******