|
|
|
|
March 2005
|
Wednesday, August 24, 2005KAMPANYE ANTI-NARKOBA DAN PERMASALAHAN KOMUNITAS (BAG. II) Komunitas Penderita Narkoba adalah komoditi, sebuah komoditi adalah sebuah item yang didesain dan diiklankan untuk dibeli dan dijual. Komoditi adalah apa yang membuat tatanan masyarakat saat ini terus berjalan, dari mobil dan ponsel hingga senjata dan narkoba. Seperti juga komoditi lainnya, narkoba berdiri menghalangi jalan menuju potensi pembebasan manusia. Ia bukanlah masalah alterasi pikiran dengan substansi kimiawi, melainkan ia adalah masalah konsumsi sensasi yang diproduksi oleh sistem alienasi. Ia mendistorsikan hasrat kita sebagaimana gaya hidup selebritis dan orang-orang kaya telah mendistorsikan hasrat kita. Bagi para ekonomis, narkoba adalah sekedar komoditi lain yang perlu dimanajemeni. Sialnya, di mata publik tidak ada yang aneh tentang kondisi dimana para pemuda penganggur miskin menjual narkoba dan para eksekutif muda mendesain iklan di gedung perkantoran; saat mereka yang miskin dianggap melawan hukum, sesungguhnya kedua sosok tersebut telah menjadi bagian integral dari sistem ini. Keduanya telah mendistribusikan lebih dan lebih banyak lagi komoditi yang dalam prosesnya menghancurkan hidup banyak orang. Narkoba telah membuat sistem ekonomi untuk terus berkembang dengan caranya sendiri, tetapi kekacauan yang potensial dapat ditimbulkan darinya tetap harus dibatasi. Melegalkan narkoba hanya akan membuat betapa kapitalisme terlalu rakus. Maka jawaban atas problem pengiklanan narkoba adalah bagaimana caranya menciptakannya menjadi komoditi yang berhasil, dengan menciptakan histeria anti-narkoba. Histeria anti-narkoba ini menawarkan sebuah pelarian dari kenyataan, yang justru takberbeda dengan apa yang dilakukan oleh para pengguna narkoba. Seperti yang ditawarkan oleh agama-agama, penekanannya adalah pada perasaan takut (takut akan dosa pada kasus agama, takut pada represifitas polisi pada kasus narkoba). Orang-orang yang hidupnya hancur oleh kemiskinan ekonomis dan psikologis dan berusaha melarikan diri dengan menggunakan narkoba dengan mudah dicap sebagai orang-orang yang frustrasi dan disorientasi. Memang sangat mudah untuk mengatakan demikian apabila kita tidak menyadari betapa menyedihkannya hidup di bawah sistem sekarang ini, dengan narkoba ataupun tidak. Pada intinya, narkoba dan histeria anti-narkoba hadir dari sebuah ketakutan untuk tidak menjadi apa yang didefinisikan oleh publik terhadap diri kita, ketakutan untuk tidak menjadi kaya dan terkenal. Dengan cara ini, kebencian terhadap diri sendiri atas kegagalannya menjadi sosok yang dianggap sempurna oleh publik telah bertransformasi menjadi kebencian pada siapapun juga yang gagal mengikuti konformitas aturan publik. Melampaui represifitas polisi, histeria anti-narkoba juga dilakukan oleh sebagian besar organisator komunitas dari LSM. Para manajer dari gerakan anti-narkoba dapat melihat bagaimana narkoba dapat dihentikan dengan sebuah konsensus yang terorganisir dalam sebuah area yang diteror oleh maraknya pemakaian narkoba, tetapi semenjak para manajer tersebut hanya dapat beraksi dalam terminologi imaji atau pencitraan, maka menciptakan sebuah imaji tentang area yang menolak narkoba. Pengorganisiran komunitas adalah sebuah spesialitas kecil yang secara ideal cocok untuk menciptakan imaji seperti di atas. Para organisatornya mendapat posisi mereka dengan menyimbolkan (merepresentasikan) sebuah komunitas (aspirasi setiap orang). Mereka tampil sebagai sebuah badan yang penuh pemahaman dan pengorbanan saat aktifitas mereka yang sesungguhnya biasanya masih terikat oleh birokrasi dan manuver-manuver legal. Orisinilnya, metode pengorganisiran komunitas adalah untuk dapat beroperasi di luar sistem, menolak ketidak adilan sistem dan para pengontrolnya dengan merepresentasikan sebuah komunitasyang diharapkan akan dapat eksis. Tetapi toh yang terjadi adalah sebaliknya. Para organisator mendorong anggota komunitas untuk mampu berbicara menyuarakan aspirasinya, tetapi tidak untuk memprotes mengenai kerja dan konsumsi yang menjadi akar masalahnya. Mereka dapat membuat sebuah komunitas berbaris ke gedung DPRD untuk meneriakkan tak lebih dari agenda penyempurnaan sistemsistem yang sebenarnya telah menciptakan penderitaan itu sendiri dan tak mungkin lagi dapat diperbaiki. Gerakan anti-narkoba juga kini telah membuat para organisator komunitas berfungsi lebih jauh, membuat mereka menjadi salesman yang menjual ide-ide dominan pada publik. Kerusuhan-kerusuhan akhir dekade 1990-an sangat sufisien bagi para penguasa untuk membenarkan bahwa publik membutuhkan representatif yang lebih kuat untuk mengontrol dan menyalurkan kemarahannya. Tokoh-tokoh protes era Orde Baru telah memberikan bagiannya sendiri pada sistem. Iwan Fals, salah satu tokohgerakan anti-narkoba di samping Slank, adalah satu contoh kasus yang paling dekat dalam mengikuti alur ini. Ia kini memang dapat berteriak lantang tentang gerakan anti-narkoba atas nama individu dan spesialisasinya dalam soalan representatif. Ia kini tampak tak menginginkan apapun selain penghentian irasionalitas narkoba (yang telah merenggut nyawa anaknya, Galang Rambu Anarki) dan membiarkan kontinuitas penindasan rasional terhadap mereka yang miskin. Karena mereka berusaha untuk merepresentasikan sebuah komunitas yang eksis, mereka selalu berada di balik radikalisme yang terlepas dari komunitas. Saat setiap orang telah terisolasi sebagai pekerja dan konsumer dalam masyarakat ini, tak akan pernah ada yang dinamakan konsensus positif. Yang ada hanyalah segelintir mereka yang ingin melarikan diri. Inilah satu-satunya komunitas yang eksis saat ini. Dan satu-satunya persamaan yang dimiliki adalah proteksi, ketakutan akan hasil yang lebih buruk apabila mereka benar-benar melarikan diri. Penduduk yang berada dalam komunitas dewasa ini hanya dapat berpikir, bagaimana membuat daerah kita tetap baik sehingga tidak terlihat semiskin para penduduk di daerah sana. Bahasa yang digunakan tetap sama, bagaimana kita dapat tetap nyaman dengan hidup kita dan di saat yang sama dapat memenuhi tanggung jawab pada pekerjaan, boss dan keluarga. Dalam poin ini, melindungi komunitas artinya tak lebih dari memapankan keterlenaan seperti yang dilakukan oleh televisi. Untuk melakukan ini, baik polisi ataupun organisator komunitas harus dapat menyuntikkan kesadaran hukum pada publik, yang pada akhirnya adalah soal bagaimana ketertundukkan dapat dilakukan dengan sukarela. Serikat-serikat pekerja yang mengklaim mereka memihak komunitas pekerja, juga memiliki peran yang serupa, merepresentasikan pekerja hanya sejauh para pekerja menikmati pekerjaannya. Mereka mengusahakan demokrasi pekerjayang artinya tak lain daripada sebuah hak untuk mencari kenikmatan saat dieksploitasi. Serikat pekerja juga tak akan segan-segan memihak perusahaan saat tempat kerja mulai terancam oleh radikalisme pekerjanya sendiri. Saat organisator komunitas melayani kepentingan pembenaran represi polisi atas pengguna narkoba, kita dapat mengekspos mereka dengan memperlihatkan betapa omong kosongnya saat mereka mengklaim mengorganisir komunitas. Bahkan para organisator komunitas yang terlibat dalam pemberontakan melawan kapitalisme juga hanya menuntut integrasi kembali pada kapitalisme. Terlibatnya LSM dalam pemberontakan publik di Porsea misalnya, jelas hanya sebuah usaha untuk mengintegrasikan perjuangan kembali ke dalam sistem. Para organisator tidak berusaha menutup pabrik dan menyingkirkannya dari tanah Porsea, melainkan hanya mendorong agar tercipta lahan pekerjaan bagi penduduk lokal agar kemarahan pendudukatas pabrik dapat terobati. Inilah error yang dialami oleh banyak organisator komunitas. Mereka seharunya menuntut lebih dari sekedar integrasi dan kebaikan sistem. Mereka harus menuntut lebih jauh atau tak usah sama sekali. Menyerang Dunia Konsumer Satu bagian dari gerakan anti-narkoba adalah bahwa ia dapat berguna untuk mendiskreditkan bintang-bintang yang telah direkrut ke dalam gerakan kampanye yang cukup masif ini. Saat Slank menggunakan videonya untuk kampanye anti-narkoba, sebagian besar penggemarnya yang merupakan generasi pengguna narkoba mulai meninggalkannya. Setiap gerakan demi pembebasan total memang sudah seharusnya menolak untuk bergerak bersama dengan gerakan anti-narkoba. Mereka yang bersedih hati karena kehilangan komunitascukup hanya berkabung untuk hilangnya kesempatan mereka untuk menatanya. Kekerasan yang diperlukan bagi resistansi terhadap orde saat ini eksis dalam bentuk resistansi terhadap berbagai bentuk komoditi (yang terkadang dilakukan sebagai sebuah resistansi yang dilakukan tanpa kesadaran akan sistem komoditi secara umum). Apa yang perlu dilakukan adalah membuat kemarahan ini koheren, untuk mencegahnya menjadi sebuah komoditi yang diperjual belikan oleh berbagai geng, baik geng jalanan ataupun geng polisi. Komunitas muslim radikal di beberapa kota Indonesia memulai karirnya dengan menyerang para pengedar narkoba di area mereka. Dan dengan demikian kelompok-kelompok muslim tersebut menjadi masalah baru sendiri. Dalam sebuah komunitas yang aktual, komunitas yang menolaktatanan masyarakat saat ini, harus menolak juga organisator komunitas yang hadir bersebelahan dengan polisi. Pilihan yang tersedia adalah ruang yang diorganisir oleh para spesialis ataukah pembukaan ruang yang diorganisir oleh diri mereka sendiri. Bukan sebuah pilihan palsu seperti Coca Cola atau Pepsi, Siemens atau Nokia, sekolah atau bekerja, pilihan-pilihan yang tak membawa kita kemana-mana. Satu-satunya komunitas aktif yang paling mungkin adalah sebuah komunitas dari mereka-mereka yang menolak kerja ataupun komoditinya dengan membangun self-sufisiensi komunitas. Komunitas yang seharusnya diorganisir oleh diri mereka sendiri, bukan klub yang diorganisir oleh polisi. Ini adalah komunitas yang menolak komoditi sebagai bagian terpenting dalam tujuan hidup mereka, dari toko kecantikan hingga pengedar narkoba dalam basis dasar penolakan komodifikasi hidup. Komunitas ini hanya dapat eksis hanya apabila hukum kerja upahan dan komoditi yang mengalienasi digantikan dengan sebuah tatanan masyarakat yang dioperasikan oleh dewan-dewan ketetanggaan. Kami tidak menulis ini untuk mempertahankan kepentingan proletariat melawan serangan crusader anti-narkoba. Kami tidak melihat adanya bagian dari tatanan masyarakat saat ini yang perlu dipertahankan dan dilindungi. Proletariat tak memiliki kepentingan apapun dengan berjalannya tatanan masyarakat seperti ini, tak ada yang dapat diambil manfaatnya. Kami hanya mendukung segala upaya untuk mengeliminasi kolonisasi atas sebuah area, dari pengedar narkoba hingga organisator komunitas LSM hingga korporasi. Gol kami adalah mengekspos kebohongan yang dilancarkan untuk menghambat jalan menuju kemungkinan terjadinya insureksi: ide-ide komoditi yang ditawarkan tatanan masyarakat saat ini yang seringkali oleh kita dianggap perlu untuk diterima. Untuk alasan ini jugalah maka gerakan anti-narkoba menjadi sangat berbahaya, seberbahaya narkoba itu sendiri. Ini bukan soalan bagaimana mencari sisi baik dari tatanan masyarakat saat ini, saat sudah tak ada apa-apa lagi yang tersisa di dalamnya. Dan gerakan-gerakan seperti gerakan anti-narkoba adalah sebuah usaha dari sistem ini untuk mencegah publik mengekspresikan kekecewaannya terhadap tatanan masyarakat yang berlaku. Sebagaimana juga pengorganisiran komunitas oleh LSM yang membangun ide-ide palsu untuk mencegah timbulnya oposisi yang terorganisir yang dapat menyerang tatanan masyarakat. Dan penolakan ini hanya mampu hadir apabila kita mulai mengambil alih kontrol atas diri kita sendiri. Tak ada kerja sosial yang mampu melakukannya untuk kita, juga tak ada LSM yang mampu, kecuali kita sendiri yang mengontrol komunitas kita sendiri. Bahkan kita juga tidak bisa membiarkan kaum radikal yang banyak berkoar-koar di sekitar kita untuk mengatur bagaimana kita harus beroperasi, walaupun hal termudah adalah dengan mengikuti saja apa yang dikatakan oleh mereka. laughing with hypatia at 8:54:00 PM |
|