|
|
|
|
March 2005
|
Friday, May 26, 2006SUNARDIAN WIRODONO LUPA MEMATIKAN TV-NYA ![]() Review dari buku "Matikan Tv-mu! Teror media televisi di Penulis : Sunardian Wirodono Penerbit: Resist Press Tebal: 178 halaman Sekian lama peradaban pasca-informasional telah merasuki tiap syaraf organisme masyarakat, sudah lewat empat dekade semenjak hadirnya televisi sebagai vortex media massa di Indonesia, dari diciptakannya sitkom, reality show, sampai dicetaknya lip-singer kacangan layaknya Agnes Monica, dan baru tahun 2005 kemarin setelah 10 tahun bergelut di dunia pertelevisian, seorang Sunardian Wirodono berhasil menerbitkan tulisannya yang bertajuk "MATIKAN TV-MU! Teror media televisi di Cukup baik memang, data-data informatif yang di susun Sunardian di buku ini, namun halaman demi halaman dimana ia memaparkan kritik dan kemuakannya akan media televisi menjadi sesuatu yang cukup sia-sia menurut saya, sampai-sampai membuat saya berpendapat kalau Sunardian memang benar-benar perlu mematikan dulu televisinya sebelum ia memberi judul dari bukunya tersebut. Buku yang mudah dipahami ini (kecuali bagi kalian yang memang sangat-cukup-malas untuk membaca) berhasil mengangkat kritik yang nyata ke hampir setiap relung dari keberadaan media televisi dan konsekuensi fatalistiknya terhadap masyarakat. Absurditas program-programnya, banalisasi perspektif publik, nilai-nilai sosial instan yang didapat melaui citra-citra yang dihasilkan oleh kepentingan televisi, kendali pemikiran dan bahkan penyempitan pemikiran, hingga--dalam konteks nasionalistiknya--Jakartasentrisme yang memberangus wilayah-wilayah Indonesia lainnya agar manut pada satu kultur seragam yang terpusat di ibukota; dari tren bahasa pasar, gaya hidup, idola, hadir sebuah kenyataan pemberangusan keberagaman demi penyuburan rating: Jakartanisasi. Sunardian memahami konsekuensi media ketika hal tersebut dikendalikan oleh pasar yang di istilahkannya di dalam buku ini sebagai globalisasi kapitalisme, keburukan sebuah media yang memasyarakat namun tidak memiliki kepentingan yang memasyarakat, mencerminkan sebuah ideologi neo-liberal di jaman advanced informational society, dimana pasar memegang kendali penuh, segala macam komoditi dipoles menjadi spektakuler, sensasional, terang-benderang, Hollywood! Sebuah era dimana media komunikasi digunakan sebagai alat penggoda yang mengajak setiap audiens untuk meninggalkan nilai-nilai komunitas, individualitas, menyempitkan imajinasi dan mengabdi pada deodoran, idola, citra, produk, komoditi, kapital: ketidakhidupan. Akselerasi Spectacle yang semakin meningkat, menurut Guy Debord, yang di dalam tulisannya berpendapat bahwa "kebenaran yang tampak di permukaan adalah kepalsuan". Itulah wujud asli dari media televisi, sebuah inversi dari seluruh nilai agar dapat mengkultivasi budaya citranya, ketika refleksi terlalu melelahkan untuk dilakukan dan imajinasi telah di sediakan di depan meja layaknya hidangan yang telah siap untuk disantap. Dan tiap proses dari pembuatan makanan tersebut tidak pernah disebut-sebut, dari cara memasak hingga bagaimana dan siapa yang menghasilkan bahan-bahannya, esensinya ditiadakan. Eksistensi telah digantikan dengan ketiadaan yang secara bersamaan dicampur-adukan. Selamat lahir di dunia instan dimana kamu bukanlah dirimu sendiri, tapi adalah citra-citra yang kamu konsumsi. Pada bab awal, Sunardian dengan cukup menggelikan mencoba menelusuri kegagalan dari media televisi .."lain halnya dengan media televisi Mengudara pertama kalinya TVRI, menurut saya, lebih pada prasyarat kompetitif tiap Negara bangsa di dalam peta internasional daripada sekedar syahwat Soekarno semata, hal tersebut memungkinkan pemerintah untuk mempermudah penyebarluasan pengendalian pemikiran melalui propaganda yang massif, Negara berkembang manapun yang memiiki akses yang sama tidak akan berpikir hal tersebut sebagai sesuatu yang terburu-buru, tapi lebih pada tindakan yang sangat logis bagi Negara untuk meraih kendali penuh atas konsen dari masyarakat. Dan disisi lain, di dalam sebuah dunia yang telah dipasarkan, setiap persetubuhan dilakukan di rumah bordil, setiap penyetubuh dan yang disetubuhi adalah pelacur. Persetubuhan tidak dilakukan untuk meraih keindahan dan klimaks yang biologis, tapi untuk mereproduksi keuntungan, untuk dapat menghasilkan kembali komoditi, untuk menghasilkan pelacur baru yang bisa menampung sperma! Proses persetubuhan tidak pernah eksis, hasil akhir adalah tujuannya. Di dalam bab pertama tersebut Sunardian lebih jauh menyalahkan konsep learning By doing yang menurutnya adalah konsep yang dipraktikan media televisi pada waktu itu. Bukannya berangkat dari alasan esensial Negara di dalam memperlakukan media komunikasi, Sunardian malah menyalahkan penggunaan konsep tersebut. Menurutnya pematangan media Kritik banal Sunardian kembali di hadirkan ketika ia menjelaskan bagaimana pada waktu itu TVRI berkualitas sangat rendah, yang ia pertimbangkan dari segi sumber daya manusia hingga penyajian program acara yang cukup minimalis, yang mungkin menurut Sunardian akan lebih bagus apabila terjadinya pematangan lebih awal, maka kualitas akan terjamin. Tapi yang menjadi pertanyaan saya, seperti apa kualitas yang bagus itu, disini seakan-akan Sunardian memiliki comparison stasiun televisi (korporatik?) yang jauh lebih baik. Di hampir setiap isi dibuku ini Sunardian mengutuk kecenderungan profit-greed dari media televisi korporasi beserta iklim anarki kompetisinya, sesuatu yang menurutnya perlu ada pengendalian yang lebih dari pemerintah. Bagi saya keinginan untuk mereformasi televisi korporasi di era globalisasi ekonomi sekarang ini, adalah sebuah anakronisme. Masalahnya bukanlah kurangnya "sumber daya manusia", juga bukan karena ketidakmatangan perencanaannya, karena pada waktu itu adalah era awal pembangunan negara Indonesia yang baru seumur jagung, juga bukan karena penyajian yang minimalis akan menghasilkan kualitas yang buruk, melainkan dari tujuan apa kualitas itu akan dibangun? Cara-cara seperti apa yang digunakan? Untuk maksud apa dan siapa yang akan diuntungkan dari hal tersebut? term "baik" disini untuk siapa? apakah bisa mereformasi stasiun televisi korporatik dan menaruh lebih jauh kendali pemerintah di ranah ekonomi, sementara tuntutan jaman menuntut--tanpa ada tawar-menawar--bahwa pasar harus otonom. Perihal isu RUU-APP belakangan ini misalnya, menimbulkan reaksi diantara kalangan dunia hiburan termasuk televisi, karena dengan adanya undang-undang seperti ini, sektor-sektor hiburan yang menjual keseksian (aurat) akan dibatasi atau ditiadakan, ini berarti pembatasan terhadap investasi dan akan menjadi pengaruh yang buruk bagi ekonomi kapitalisme. Isu RAPP merupakan salah satu contoh gampang dari hal tersebut. Seharusnya Sunardian sadar ketika ia menaruh istilah "globalisasi kapitalisme" dengan pemahaman menyeluruh dari latar-belakang anarki media korporasi yang berkembang pesat di Indonesia, bukannya mengajukan argumen-argumen tipikal yang klise. Sunardian bahkan tidak membuat perbedaan diantara media yang dikendalikan dikendalikan secara modal (korporatik) dan yang dikendalikan secara birokratik. Dari sini kita akan kembali pada pertanyaan mendasar yang lebih menyeluruh, karena tidak ada jalan pintas di dalam pembahasan ini apabila kita ingin benar-benar memahami seluruh relasi ekonomi-sosial dengan dunia pasca-informasional. Kalau memang ini sudah di jawab, Sunardian setidaknya menciptakan distingsi antara media korporatik dan media masyarakat, seperti halnya yang berkembang belakangan ini di Eropa, Amerika Utara, dan beberapa wilayah di Perilaku ekshibisionisme lahir karena adanya respon berlebihan dari penonton terhadap apa yang mereka tonton. Kecenderungan ini sama halnya ketika masyarakat menyerahkan hidup mereka untuk dikendalikan oleh orang-orang tertentu, dengan begitu mereka menghasilkan sifat menguasai-dikuasai, mereka mengatribusikan perasaan tinggi yang istimewa kepada idola mereka sebagaimana mereka menganugerahi ketidakberdayaan kepada diri mereka sendiri. Televisi, menurut kepentingannya, tidaklah seperti yang dianggap Sunardian 'tidak terkontrol', televisi sangatlah terkendalikan bagi kepentingannya sendiri, ia hampir memiliki kemampuan yang sama dengan kehidupan: berefleksi, melakukan adaptasi, konformis, dan lentur kemanapun laba menebarkan aroma. Hanya saja ia tidak nyata, tidak hidup, itulah kelemahan utamanya. Di dalam era globalisasi kapitalisme seperti yang dianggap oleh Sunardian, hanya stasiun televisi yang benar-benar adaptif terhadap pasar yang bisa bertahan dan meningkatkan taraf "kualitasnya" dari iklim anarkik kompetisi antar stasiun televisi. Dengan cara membuka diri pada penanaman modal yang lebih besar atau mungkin menjualnya, seperti yang dilakukan Anteve kepada Star tv baru-baru ini. Keburukan media televisi sekarang ini bersifat multidimensi, ia tidak hanya membuat manusia menjadi impoten, tidak mempercayai dirinya sendiri dan memfragmentasikan pikiran-pikiran aktual manusia, tapi ia juga mencerabut segala sesuatu yang tadinya dimiliki oleh manusia: komunitas yang berubah menjadi pasar, nilai-nilai sosial tergantikan citra-citra palsu, dan semakin mengikisnya kemampuan manusia untuk mengatur dan merubah hidup mereka. Bab-bab selanjutnya mungkin cukup menarik untuk mengingatkan kita betapa absurdnya program-program televisi sekarang ini, godaan superfisialnya yang bersifat destruktif, dan mungkin yang cukup penting adalah pengertian dari Jakartasentrisme, yang bukan hanya tidak mengikutsertakan audiens di wilayah luar Jakarta, tapi juga memperbudak mereka ke dalam penyeragaman identitas melalui penciptaan trend demi perhitungan rating. Apa yang tadinya tidak berpihak kepada masyarakat tidak akan menjadi manfaat bagi masyarakat, malahan akan menjadi penindasnya. Disini saya cukup terkesima dengan data-data informatif dan argumen Sunardian yang cukup langsung kepada intinya, tapi seringkali Sunardian memberikan kesan bahwa konsep media televisi masih bisa direformasi, jika saja masyarakat mengontrolnya dengan pertimbangan-pertimbangan moral yang baik, yang ketimuran, jika saja pemerintah benar-benar menjalankan undang-undang yang ia buat melalui aturan penyiaran, jika saja masyarakat lebih aktif di dalam mempengaruhi program penyiaran televisi, inilah buah pikiran dari Sunardian, orgasmenya di dalam buku ini. Sedikit agak jauh di bab terakhir ia bahkan menyangkut-pautkan Suharto di dalam dominasi media televisi di Fatalisme yang dilakukan Sunardian tadinya saya pikir hanya berakhir sampai disitu, semua pemahaman dan kritisismenya atas media yang susah-payah ia paparkan di bab-bab sebelumnya, hanya menjadi momen amnesia ketika pada bagian lampiran di akhir buku ini, tertera tulisan.. "BILA anda merasa dirugikan, merasa jengkel atau marah, karena siaran televisi Indonesia, Anda mempunyai hak untuk melakukan penggugatan secara hukum atas hal tersebut. Atau, setidaknya, Anda bisa melaporkannya ke KPI (Komisi Penyiaran (dan dibawah tulisan ini tertera secara lengkap larangan-larangan yang dibuat oleh KPI dari masalah Seksualitas, Kekerasan dsb tanpa ada kajian kritis sama sekali, dan dalam hal ini saya juga memilih untuk tidak mengkajinya secara kritis apalagi menyetujuinya) Mengamati orgasme Sunardian membuat saya tersenyum-senyum sinis sendirian. Sunardian sendiri tampaknya belum lepas dari banalisasi yang disebarluaskan oleh televisi, ia bahkan tidak bisa membedakan mana yang anarkis dan mana yang tidak. Karena seperti yang ia bilang, televisi menyempitkan kemampuan orang untuk memahami sesuatu yang lebih luas dari program televisi dan iklan. Semuanya adalah penyederhanaan, seperti apa yang dilakukan oleh Sunardian di dalam buku ini. Sunardian Wirodono, siapapun dia, yang cukup baik memberi kita informasi dan argumen-argumen tulusnya, pastilah merupakan persetubuhan antara A'a Gym dan Boediman Soejatmiko. Matikan televisimu (ya ini juga untuk kamu Sunardian), tutup buku Sunardian Wirodono dan mari sama-sama belajar melakukan persetubuhan yang indah...learning by doing? Why not! laughing with babylon at 2:22:00 AM |
|