<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350</id><updated>2011-06-08T13:19:04.446+07:00</updated><title type='text'>Heavenly Hell With All Manifesto</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>babylon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04111439370259697471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-115124062196325835</id><published>2006-06-25T20:03:00.001+07:00</published><updated>2006-06-25T20:30:37.943+07:00</updated><title type='text'>PLOT/Analisa Situasi Nasional dan Internasional</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;PLOT&lt;/span&gt; - &lt;i&gt;Analisa situasi nasional-internasional&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;PEMBUKAAN DUNIA BARU DI BOLIVIA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kebangkitan popular di Bolivia adalah sebuah even yang sangat indah sejak kebangkitan di Argentina yang dimulai pada tahun 2001. Ia mengguncang seluruh kelas penguasa di dunia dan mengekspos kerapuhannya.Rezim-rezim di Amerika Latin seakan diberi alarm sebagaimana juga pemerintah Amerika Serikat (AS) yang berniat menanamkan modal besarnya di sana. Birokrasi Venezuela yang diagung-agungkan oleh kelompok Kiri internasional tertangkap basah dalam wajah buruknya: Hugo Chavez mendukung presiden terpilih dari kelompok sayap Kiri Bolivia, Evo Morales, yang berarti mengkontradiksikan dirinya sendiri dengan melawan aspirasi publik(semenjak Morales menampakkan identitas aslinya yang lebih berpihak pada kepentingan para pemodal AS yang dulu sering disebutnya sebagai 'imperialis').Fidel Castro, yang memimpin birokrasi Kuba, tidak membuka mulut sama sekali mengenai represifitas militer di bawah Morales terhadap para pekerja yang mogok karena menolak privatisasi, ia tampak lebih memfokuskan perhatiannya pada pemapanan rezim Kiri yang stabil dan berkebijakan sesuai dengan dirinya--menyoraki kemenangan Morales sebagai kemenangan kelompok anti-neoliberalisme Amerika Latin, dan menuduh siapapun yang menentang pemerintahan tersebut sebagai kelompok pro-imperialis AS.Maka semakin jelas, bahwa pertentangan antara pemerintah Kiri Amerika Latin tidak ada bedanya dengan pemerintah AS yang mereka klaim mereka tentang mati-matian. Semua hadir untuk kepentingan pembentukan ilusi kemerdekaan, bukan kemerdekaan itu sendiri.Menteri Luar Negeri kabinet Morales, David Choquehuanca berkata, "Kami tidak menolak memasuki area pasar bebas Amerika."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kemungkinan berlanjutnya insureksi popular memang menghantui jajaran birokratis kelompok Kiri otoritarian--inilah yang sebenarnya selalu mereka takutkan yaitu kemungkinan kemampuan manajemen diri proletariat yang biasanya akan hadir kala terjadi "vakum kekuasaan" atau situasi "chaos" di Bolivia. Toh gerakan Bolivia secara esensial tidaklah hanya milik kelompok Kiri. Beberapa kelompok yang melakukan pemogokan untuk menentang presiden rezim pro-neroliberal sebelumnya, Lozada dan Mesa, kini menentang Morales dengan kembali menggelar aksi-aksi pemogokan; sang presiden mengatakan pada media massa bahwa para pemogok "hanya membuat situasi" semakin memburuk. Momentum dan pengulangan kisah lama tentang pengkhianatan para pemimpin massa telah berhasil mendorong banyak dari kelompok-kelompok revousioner untuk melangkah mempercayakan nasib mereka pada diri mereka sendiri. Aksi pemogokan pekerja bandara udara dalam menolak privatisasi bukanlah sebuah reaksi yang memperparah situasi, bukan pula sebuah aksi yang ditunggangi AS, ini adalah sebuah aksi melawan kebijakan neoliberalisme yang juga ditemukan di tempat-tempat lain dimanapun juga di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Morales, kabinet borjuisnya dan jajaran kemiliteran memiliki, dan masih memiliki, kontradiksi di antara sesama mereka sendiri. Tapi tak ada satupun dari ketiganya yang dapat terus berjalan tanpa dua lainnya. Mengesampingkan retorikanya tentang ketidak setujuan dirinya dengan agenda neoliberalisme, Morales memilih Menteri Keuangannya, Luis Alberto Arce, seorang yang telah lama berkoneksi dekat dengan institusi finansial internasional seperti IMF, Bank Dunia dan Inter-American Development Bank. Sementara untuk Menteri Pertahanannya, Morales memilih seoranganggota loyal dari kelompok sayap Kanan MNR, seorang loyalis eks-Presiden Losada yang pro neoliberalisme dan berhasil digulingkan sebelumnya, yang juga bertanggung jawab atas pembantaian insurgen di tahun 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Para pemimpin negara dan komentator politik mengira bahwa mereka melihat Bolivia hanya dalam kemenangan Morales untuk duduk di kursi kepresidenan. Padahal dalam realitanya, semenjak tahun 2002 dimana untuk pertama kalinya menaiki jenjang karirnya sebagai politisi, Morales tidak mendukung ataupun berpartisipasi dalam insureksi popular yang menggulingkan Losada pada bulan Oktober 2003 dan menendang Mesa pada bulan Juni 2005. Maka setelah Morales memenangkan kursi kepresidenan, apakah pulik layak berharap padanya untuk memperbaiki peta kehidupan di Bolivia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Rasanya tidak karena dimanapun juga pemerintahan, yang mengaku popular sekalipun, tak akan dapat mempertahankan revolusi, semenjak pemerintahan harus mempertahankan dirinya sendiri dari gelombang revolusi.Mohammad Hatta mendiskreditkan para pemuda revolusioner saat Indonesia baru saja memproklamirkan kemerdekaannya; saat menggapai kursi kepemimpinan di Rusia, Lenin menindas penduduk Kronstadt dan kaum Makhnovist setelah ia duduk di kursi pemerintahan; di Chili, pemerintahan Allende menyerang buruh dan tani yang bersenjata dan telah berhasil menduduki pabrik atau lahan pertanian; dan masih banyak lagi contoh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Maka pertanyaan fundamental di Bolivia bukanlah tentang pengkombinasian berbagai kekuatan yang menggerakkan negara, melainkan tentang apakah para pekerja akan mempertahankan diri dan hidupnya yang untuk sementara telah berhasil direbut oleh para pekerja tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Apa yang seringkali luput dari perhatian adalah sesuatu yang muncul di El Alto, sebuah bagian penduduk terpadat dan terkumuh dari Bolivia, yang justru di sana telah berhasil dibangun sebuah Komite Publik, yang rencananya akan disebarluaskan melalui berbagai cara pada sebanyak mungkin publik di Bolivia dengan harapan masyarakat dari berbagai sektor akan mulai untuk membangun organisasinya sendiri dengan berdasarkan pada ide-ide manajemen diri. Komite ini bahkan sering juga disebut sebagai "Komune El Alto". Dibentuk pertama kalinya pada tahun 2003, komite ini mendedikasikan diri bagi pengembangan alternatif yang sesungguhnya bagi sistem saat ini. Komite ini dibentuk dari berbagai grup-grup yang aktif di kota El Alto khususnya dan La Paz (ibukota Bolivia) pada umumnya.Komite ini bergerak dengan mulai mendorong publik untuk mengambil bagian dalam menentukan hidupnya, membangun organisasinya sendiri dan membentuk jaringan antar organisasi.Komite ini pulalah yang menyerukan agar komite-komite sejenis di bangun di seluruh Bolivia sebagai sebuah alternatif, daripada sekedar memberikan seluruh keputusan Bolivia ke tangan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Komite ini sadar, bahwa apabila mereka tidak menyuarakan kepentingan mereka sendiri, maka para birokratlah yang akan bersuara untuk mereka atas kepentingan para birokrat tersebut.Bila mereka tidak mengkomunikasikan pengalaman dan analisa mereka (seperti yang mereka lakukan dengan radio yang telah mereka bangun di sana bernama radio Soberania), maka media massa pro-pemerintah akan terus menyiarkan kabar-kabar yang penuh distorsi.Mereka sadar, bahwa satu-satunya cara untuk mempertahankan revolusi adalah dengan &lt;i&gt;menyebarkan&lt;/i&gt; bibit revolusioner tersebut.Walaupun seandainya mereka suatu saat akan dikalahkan, setidaknya, mereka telah memberi contoh bahwa ada sebuah alternatif nyata yang sebenarnya mungkin untuk dilakukan dan dijalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setiap kali orang-orang mulai membangun sejarah mereka sendiri, mereka mampu menggali momen-momen terbaik yang pernah terjadi di masa lalu (pertama kalinya, Bolivia tercatat pernah membangun komite-komite publik otonomsaat terjadi kebangkitan popular tahun 1974). Komune El Alto, adalah sebuah bentuk dari ekplorasi dan presentasi dari kekuatan publik, dan ia hanya perlu memapankan analisa terkini serta belajar dari kesalahan di masa lalu.Komune El Alto adalah sebuah pembuka, ia hadir melewati seluruh kekacauan sosial, mendorong partisipasi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sosial sekaligus jawabannya dalam bentuk yang konkrit. Inilah sebuah awal perubahan sosial yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benjamin Melançon. 10 Juni 2005, In This Relentsless Bolivia Revolution, Media Matters &lt;i&gt;Znet 2005.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;Coordinadora de Defensa del Agua y el Gas.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; 14 Juni 2005, Bolivia: Comunicado de la Coordinadora de Defensa del Agua y el Gas &lt;i&gt;A-Infos (&lt;/i&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;http://www.ainfos.ca/05/jun/ainfos00223.html&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;i&gt;).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forrest Hylton dan Sinclair Thomson. 2005, The Chequered Rainbow &lt;i&gt;New Left Review no. 35, September-October 2005.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petras, James. 2006. A Bizzare Beginning in Bolivia  Inside Evo Moraless Cabinet &lt;i&gt;Weekend Edition, February 4&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;th&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;i&gt; 2006.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nasional - Kekeruhan Global&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kolapsnya imaji perubahan yang direpresentasikan oleh pemerintahan demokratis SBY-JK mengambil tempat sebagai sebuah pengejawantahan lain dari 50 tahun kolapsnya demokrasi itu sendiri di Indonesia, yang dimulai sejak masa kepemimpinan rezim pertama di Indonesia, Sukarno-Hatta. Kali ini juga dengan menggunakan taktik yang telah berulang kali digunakan 50 tahun tersebut: kebohongan birokratik--yang menjadi suplemen dari kebohongan birokratik yang permanen. Usaha JK mendiskreditkan gerakan pekerja dalam ucapannya beberapa hari sebelum May Day 2006, "May Day adalah tradisi pekerja di negara-negara komunis, dan sebaiknya pekerja Indonesia tidak perlu ikut-ikutan merayakannya," (Metro TV, 29 April 2006) terbukti tak digubris. May Day 2006 tetap berjalan mulus, dan usaha klarifikasi kebohongan JK yang di malam 1 Mei 2006 menyatakan terima kasih pada para pekerja karena tak melakukan tindak kekerasan dalam perayaan May Day, sudah tak memiliki arti lagi dan malah semakin memperjelas sosok sesungguhnya JK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejarah modern Indonesia mengikutsertakan wacana revolusioner, yang sayangnya menjadi target pemusnahan sejarah besar-besaran oleh pemerintah pasca kudeta tahun 1965 yang dilancarkan oleh kubu Suharto-A.H. Nasution.Semenjak tahun tersebut, dimana-mana masih meletup konfrontasi sosial, tapi tak pernah sekalipun orde dunia lama dapat benar-benar dihancurkan, bahkan dalam diri kekuatan sosial sendiri yang mengklaim menjadi musuhnya.Di mana-mana ideologi orde dunia lama dikritisi dan ditolak, tapi jarang sekali hadir kekuatan sosial yang mengakhiri kondisi nyata yang eksis, yang terbebas dari 'ideologi' yang satu atau yang lain yang hanya melayani kepentingan kekuasaan. Revolusioner ada di mana-mana, tapi di manapun tak pernah hadir revolusi yang sesungguhnya: termasuk revolusi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 yang sama sekali bukan revolusi--karena hanya menggantikan kekuasaan dominan negara lain dengan kekuasaan dominan oleh segelintir pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bagi mereka yang memperhatikan, imaji Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mendominasi benak banyak muslim di Indonesia telah menampakkan wajah sebenarnya. Dalam masa kampanye PKS, mereka merepresentasikan diri sebagai kekuatan alternatif di tengah momen di mana kekuatan Islam yang dipandang sebagai kekuatan alternatif, berdiri berimbang dengan Islam yang dipandang sebagai kekuatan reaksioner, dalam menyikapi globalisasi modal di Indonesia. Pasca Pemilu 2004, PKS yang tak berhasil memenangkan Pemilu tetap berhasil menempati banyak posisi penting dalam pembuatan peraturan negara. Ini juga adalah saat di mana takdir kelas borjuis menunjukkan kembali sifat alamiahnya. PKS mulai mengusulkan aturan-aturan baru yang bertujuan untuk menempatkan seluruh penduduk Indonesia di bawah kontrol yang ketat: digulirkannya pertama kali RUU APP oleh representatif mereka, dan didesakkannya pemberlakuan Perda anti-pelacuran a la Tangerang di kota Bandungoleh jajaran representatif kota Bandung yang didominasi PKS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tentu saja, saat ia hadir dengan menggunakan label Islam dan mengambil posisi berseberangan dengan Islam garis keras a la Imam Samudra, maka otomatis nyaris seluruh dukungan muslim berpihak pada mereka.Dalam kenyataannya, PKS justru merangkul kontradiksinya sendiri, ia sama sekali tak bertindak saat kekuatan garis keras beraksi (penyerangan-penyerangan kaum muslim terhadap kaum muslim Ahmadiyah dan aktifitas FPI yang penuh kekerasan). Justru di tengah kondisi demikian, PKS tetap sibuk dengan kampanye moralnya. Termasuk saat isu-isu anti pekerja (revisi UU 13/2003) digulirkan oleh pemerintah, dalam May Day 2006 kali ini, mereka justru sama sekali tidak ambil bagian dalam demonstrasi dan aksi protes (tahun-tahun sebelumnya, PKS juga ambil bagian dalam perayaan May Day sebagai klaim bahwa emansipasi pekerja juga bagian dalam program partai mereka). Bahkan saat Tony Blair melakukan kunjungan ke Indonesia, A'a Gym--yang notabene para pendukungnya adalah para muslim pro-PKS--menyambutnya dengan tangan terbuka, termasuk seluruh program ekonomi neo-liberal yang menyertai kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Demokrasi representatif yang membawa pemerintahan-pemerintahan pasca Suharto ke dalam imaji 'demokratis' juga telah termistifikasi. Begitu juga dengan ide pemerintahan Islam, termistifikasikan di tengah mayoritas penduduk Indonesia yang memeluk agama Islam.Maka dengan demikian, aktifitas praksis demistifikasi atas keduanya harus juga berakselerasi dengan teori-teori revolusioner. Di tengah masyarakat yang teralienasi, kontrol totaliter (kuatnya jajaran kepolisian, dibentuknya jajaran Pamong Praja, dilepasnya FPI untuk bertindak apapun, diberlakukannya Perda Anti-Pelacuran di Tangerang dan Depok, didorongnya pengesahan RUU APP) dan konsumsi yang spektakular (trend gadget, merebaknya industri fashiondan pembentukan komunitas-komunitas yang berbasiskan pada kepemilikan produk--klub-klub bermotor atau komunitas game cyber) mencanangkan pengaruhnya yang kuat, tak peduli perbedaan ideologis, ras dan agama.Pertalian hubungan semua itu di tengah masyarakat tak dapat dipahami tanpa kritik yang menyeluruh, proyek-proyek yang bertujuan mentransformasikan masyarakat agar mampu mengontrol hidup dan menggariskan sejarahnya sendiri.Ini adalah tuntutan yang dibawa dalam semua revolusi yang murni, tuntutan yang hingga kini selalu dikalahkan karena para 'spesialis revolusi' selalu mengambil alih revolusi dan mengarahkannya ke dalam kepentingan ekonomi diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Agar mampu untuk menghadirkan bagi masa ini sebuah bibit revolusi yang murni, dibutuhkan proyek dan kritik yang menyeret serta seluruh sifat radikalisme yang dimiliki gerakan-gerakan pekerja, dengan puisi dan seni kontemporer (sebagai langkah awal sebuah riset eksperimental menuju konstruksi bebas atas kehidupan harian individu), dengan realisasi filosofis (zen dan filsafat ekonomi Marxis), dengan semangat emansipasi para insurgen Papua, serta perjuangan pembebasan anti neo-liberalisme Zapatista dan Komune El Alto di Bolivia hingga barikade-barikade jalanan di Perancis dan Belarusia. Untuk melakukannya, pertama-tama adalah perlu untuk memahami dan menemukan, tanpa terjebak dengan ilusi Kiri versus Kanan, kekalahan proyek-proyek revolusioner di abad lalu serta proses pergantian sistemnya, di setiap regional dunia dan di setiap ruang lingkup kehidupan, dengan menyingkirkan tabir reformasi yang mengkamuflasekan serta merantai kembali sifat progresif pada orde dunia lama.Tentu juga dibutuhkan penggalian dan pembelajaran kembali sejarah-sejarah gerakan di Indonesia yang sempat dihapuskan atau direpresi selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dalam mempelajari sejarah Indonesia modern yang selama ini direpresi--yang didominasi oleh sejarah konsolidasi dan emansipasi pekerja yang dimulai oleh Sarekat Islam dan dimapankan oleh PKI--adalah perlu juga untuk memahami oposisi biner Kiri versus Kanan, tentang bagaimana kapitalisme yang dikuasai birokrasi negara adalah oposisi ide sosialisme--ini adalah fakta yang selalu ditolak oleh Leninis.Sosialisme hanya dapat eksis apabila para pekerja sendiri secara langsung memanajemeni seluruh proses produksinya sendiri yang otomatis menggerakkan seluruh masyarakat. Hal itu yang tidak pernah eksis di negara-negara seperti Bolivia di bawah Evo Moralesatau Venezuela di bawah Chavez atau juga dimanapun juga yang mengaku negara sosialis. Revolusi Russia yang membawa Lenin pada kursi kekuasaan dan Revolusi China yang memberi Mao kekuasaan mutlak, hancur, di tingkat pertama adalah karena dikalahkan oleh kekuatan intern mereka sendiri. Model yang diberikan dalam revolusi mereka, tak ubahnya model yang hanya mengakui bahwa kekuatan kapitalisme perlu dibawa pada sebuah keseimbangan, yang tak lain hanya akan mengakui secara penuh bahwa sistem kapitalisme dan imperialisme adalah sebuah kebenaran mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Perkembangan kesadaran di kalangan publik sesungguhnya cukup cepat. Dalam salah satu perbincangan dengan seorang pekerja saat berlangsungnya demonstrasi penolakan revisi UU 13/2003 di Bandung, pekerja tersebut berkata bahwa pemerintah tidak akan pernah berpihak pada pekerja dan karenanya adalah sia-sia saat demonstrasi selalu diakhiri dengan kolaborasi antara repersentatif pekerja dan representatif pemerintah, atau yang paling sering terjadi adalah dengan diadakannya pertemuan kolaboratif pekerja-pengusaha-pemerintah. "Perubahan tak pernah dapat diambil dengan jalan damai karena pemerintah tidak akan diam saja kekuasaannya diambil alih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kesadaran ini secara konstan berakumulasi lebih sebagai kekuatan-kekuatan potensial; tetapi para spesialis dan manajer gerakan atas perannya sebagai vanguard yang bertugas menjaga agar perkembangan aktifitas domba-dombanya segaris dengan keinginan dan visinya sendiri, biasanya terpaksa mengabaikan potensi kekuatan yang muncul dan berkembang ini. Saat para pekerja yang tergabung dalam organisasi pekerja SPSI yang berdemonstrasi menuntut pembatalan revisi UU 13/2003 di jalanan Jakarta beberapa hari setelah May Day 2006 memulai aksi kekerasannyayang sesungguhnya adalah tradisi aksi pekerja itu sendiriketua SPSI dalam wawancara di televisi berkata, "Para perusuh itu adalah para pekerja yang tidak mau berkoordinasi dengan kami. Dan kami juga tidak mentolerir tindakan-tindakan anarkis seperti itu." (Metro TV, 4 Mei 2006). Daripada memihak kepada para pekerjanya sendiri, para elit organisasi lebih sering berbalik memihak pada pemerintah di saat-saat genting di mana taktik mereka dipertanyakan dalam bentuk aksi-aksi di luar garis kebijakan para elit tersebut. Perkembangan kesadaran ini yang seringkali menjadi hancur kembali berkat ketidakpuasan yang muncul akibat represi dan penolakan dari para spesialis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Teori revolusioner juga harus berjalan beriring dengan kenyataan yang ada, ia harus tetap berada dekat dengan praksis revolusioner yang hadir atas lahirnya dan berkembangnya kesadaran, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.Sejarah sendiri sebenarnya hingga saat ini tetap terus mengkonfirmasikan hal ini. Tapi apabila sejarah dirasa tidak pernah secara luas diketahui dan dipahami, ini adalah karena sejarah--bahkan tentang momen-momen revolusi sendiri--ditulis dengan bahasa kekuasaan dan disaring dengan kepentingan birokrasi politik dan ekonomi dominannya. Dalam bahasa tersebut, maka sejarah yang paling revolusioner sekalipun hanya ditransformasikan sebagai sebuah komoditas--sesuatu yang dapat diperjual belikan. Revolusi menjadi ilusi yang dapat dikonsumsi di tengah masyarakat konsumer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kesadaran revolusioner yang meletup secara sporadis memang akan selalu ditanggapi dengan pengorganisasian represi secara internasional, yang beroperasi dengan berbagai macam taktik dan strategi.Tujuannya: menggiring kembali mereka yang telah mulai tersadarkan, untuk kembali terlelap pada stabilitas orde dunia lama. Represi yang permanen dan selalu cepat tanggap ini terepresentasikan dalam bentuk intervensi militer (kasus insurgensi Papua versus PT. Freeport belum lama berselang) atau juga dalam bentuk yang lembut (kasus Blok Cepu yang dikuasai oleh ExxonMobil tapi didukung oleh penduduk lokal atas 'pendanaan pengembangan daerah', usaha pembentukan lembaga pekerja-pengusaha-pemerintah dalam kasus protes terhadap draft' revisi UU 13/2003 dimana seakan-akan pekerja dilibatkan dalam proses pembuatan sebuah hukum dan UU negara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Upaya-upaya revolusioner saat ini, seringkali bermula dalam isolasi, bermula dalam satu sektor saja tanpa mengupayakan totalitas masyarakat, dan sekaligus juga tak pernah berusahamenembus sektor-sektor lainnya. Memiliki hanya visi kebebasan bagi sektornya sendiri, mereka menyerang hanya pada sebagian aspek dari sistem yang menyeluruh. Sebagai hasilnya, mereka juga hanya mendapatkan level minimum dukungan publik dan level maksimum represifitas negara dan berbagai tuduhan. Revolusi-revolusi berikutnya, dapat menemukan dukungan penuh dunia hanya dengan cara menyerang dunia ini secara menyeluruh. Gerakan pembebasanHamas yang diprakarsai oleh penduduk Palestina, bila ingin mendapatkan dukungan penuh dunia, harus mempertanyakan seluruh kontradiksi yang dihadirkan oleh kapitalisme lanjut; ia tak boleh hanya bersanding dengan 'nasionalisme Islam' dan 'kapitalisme Islam'. Pemberontakan di Papua juga demikian, ia tak boleh hanya bersanding dengan nasionalisme Papua saja. Bentuk-bentuk gerakan pembebasan tersebut harus menyadari dan menyerang dunia secara menyeluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Gerakan pembebasan yang dimotori oleh muslim atas nama Islam, biasanya sangat efektif dalam gerak dan popularitas dukungan.Tapi semenjak tiap gerakan tersebut semakin jelas hanya akan berujung dan berakhir dengan ideologi Islam, ia akan mulai menuai kontradiksinya sendiri semenjak nyaris tiap gerakan pembebasan yang berbasiskan pada ideologi-ideologi agama pada waktunya akan berubah menjadi gerakan kontra-revolusioner. Ia harus dapat menjamin kebebasan bagi kelompok masyarakat Ahmadiyah, Kristen dan lainnya.Penangkapan atas aktifis perempuan di Aceh oleh Polisi Syari'ah hanya karena tidak mengenakan jilbab dan bahwa aturan tersebut akan diterapkan termasuk pada mereka yang non-muslim, adalah bukti bahwa pembebasan yang diidamkan oleh masyarakat di Aceh, yang meletakkan basisnya dalam ideologi Islam, telah mulai menuai kontradiksinya sendiri. Persis sama seperti kasus PKS yang juga terjebak dalam kontradiksinya sendiridan hanya mendapat dukungan dari kalangan kelas menengah muslim di Indonesia yang dari segi ekonomi tergolong mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Revolusi berikutnya dihadapkan pada tugas untuk memahami diri mereka sendiri, kepentingan mendasar mereka sendiri yang tak mungkin dapat dipenuhi hanya oleh diri mereka sendiri.Mereka harus menciptakan bentuk relasinya sendiri dan melawan segala bentuk upaya kooptasi yang dipersiapkan untuk mereka. Pemogokan-pemogokan dan kerusuhan di Bolivia (yang mulai berlangsung secara intens sejak tahun 2000)yang menggembar-gemborkan akhir dari neo-liberalisme tidak mengindikasikan masa depan Bolivia selain hanya memberikan sebuah pilihan: pemerintahan diktator yang terang-terangan menjadi boneka Amerika, atau pemerintahan Evo Moralesyang mengaku Kiri tapi tetap berjalan selaras dengan kepentingan ekonomi Amerika, atau aspek-aspek paling radikal dari momen-momen kebangkitan yang direpresentasikan oleh Komune El Alto yang merealisasikan sosialisme tanpa label 'sosialis'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Arus revolusioner saat ini, dimanapun ia muncul, harus bermula dengan menjalin hubungan dengan pengalaman-pengalaman para oposan sistem saat ini dan dengan orang-orang yang menjadi oposan tersebut.Dan saat membentuk jaringan di antara beberapa grup, di saat yang sama jaringan tersebut harus membangun juga basis koheren dari proyek-proyek mereka. Tentu saja, basis yang koheren tersebut harus dibangun untuk menyikapi dan menyerang dunia ini secara menyeluruh, sehingga ia dapat membangun gerakan-gerakan baru yang merupakan negasi modern dari sistem kapitalisme lanjut yang telah menyeluruh ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;KERJA, KELAS PEKERJA DAN MUSUH UTAMANYA&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kelas pekerja: &lt;i&gt;mereka yang harus bekerja &lt;/i&gt;&lt;i&gt;(menjual tenaga kerjanya) &lt;/i&gt;&lt;i&gt;agar mampu melanjutkan hidupnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Definisi dan Teori Dasar Soal Kerja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai kerja, artinya kita berbicara mengenai definisi dari kerja itu sendiri. Kerja adalah sebuah aktifitas manusia dalam usahanya memanfaatkan (dengan mengubah atau menyesuaikan) benda-benda material  yang ada di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini, maka kerja menjadi keharusan bagi kehidupan manusia, karena tanpa kerja tak akan ada kehidupan. Kerja ini pula yang membedakan manusia dengan binatang. Binatang secara pasif harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sementara manusia dengan perkakas yang diciptakannya dapat mempengaruhi serta mengubah alam di sekelilingnya agar sesuai dengan kebutuhannya, atau agar dapat memenuhibahan-bahan yang dibutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dalam hal ini, maka kerja juga membutuhkan apa yang disebut dengan obyek kerja. Obyek kerja itu sendiri adalah apa saja yang menjadi sasaran untuk dikerjakan oleh manusia yang diambil langsung dari alam, misalnya besi, batu, kayu, dsb., maupun benda material yang telah dikenai kerja manusia, seperti misalnya dalam pengerjaan sebuah buku maka dibutuhkan obyek kerja berupa kertas (kertas telah dikenai kerja semenjak aslinya ia berupa kayu). Obyek kerja ini sering juga disebut bahan mentah atau bahan baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Untuk menghasilan sebuah lingkaran produksi yang utuh, setelah ada obyek kerja dan kerja itu sendiri, maka manusia membutuhkan alat kerja.Alat kerja adalah segala benda yang dipergunakan manusia sebagai perkakas untuk mengenakan kerjanya pada obyek kerja untuk kemudian mengubahnya (dalam hal ini termasuk juga di dalamnya perkakas produksi pertama, maupun juga tanah, bangunan, jalan, dst.) Perkakas produksi ini meliputi bermacam perkakas mulai dari perkakas batu yang kasar di era primitif hingga mesin-mesin modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lebih mudahnya, proses produksi (keseluruhan proses kerja hingga menghasilkan sebuah produk) dapat dikatakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;obyek kerja (bahan baku) --&gt; dikenai kerja dengan alat kerja --&gt; produk akhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;misalnya, penerapan konsep tersebut dalam satu bagian pembuatan pakaian di industri clothing:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kain (bahan baku) --&gt;  dijahit (dikenai kerja) dengan alat jahit (alat kerja) --&gt;  pakaian (produk akhir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyek kerja dan alat kerja merupakan apa yang disebut dengan alat produksi, dan alat produksi tersebut bila tidak diterapkan dengan tenaga kerja jelas tidak akan berguna sama sekali. Begitu juga sebaliknya, untuk memulai proses produksi tentu tenaga kerja juga mesti mengambil bagian dalam perkakas produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenaga kerja itu sendiri adalah kecakapan manusia bekerja; atau keseluruhan kekuatan jasmani dan rohani dengan mana manusia dapat menghasilkan sebuah produksi material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggabungan antara alat produksi dan tenaga kerja disebut tenaga produktif masyarakat. Secara simpelnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;obyek kerja   + alat kerja  = alat produksi&lt;br /&gt;alat produksi  + tenaga kerja  = tenaga produktif masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenaga produktif masyarakat ini mencerminkan hubungan manusia dengan benda-benda dan kekuatan-kekuatan alam yang digunakan untuk memproduksi kekayaan material.Dalam prosesnya, manusia tidak hanya mempengaruhi alam (misalnya eksploitasi atas sumber daya alam yang menyebabkan pencemaran, limbah, dll.) tapi juga mempengaruhi sesama manusia, karena manusia hanya berproduksi dengan bekerja sama dalam cara tertentu dan saling menukarkan aktifitasnya.Untuk berproduksi, manusia melakukan pertalian timbal balik dan perhubungan tertentu, dan hanya dengan proses ini maka alam juga turut dipengaruhi. Proses yang mempengaruhi alam inilah yang kemudian dinamakan proses produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pertalian dan perhubungan tertentu antara manusia dan proses produksi adalah apa yang disebut sebagai hubungan produksi. Hubungan produksi ini meliputi bentuk hak milik atas alat-alat produksi, kedudukan kelas-kelas masyarakat, golongan masyarakat dalam produksi dan pertalian timbal balik di antara mereka, dan bentuk distribusi atas hasil produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karakter hubungan produksi ditentukan pertama kali oleh soal milik siapakah alat produksi. Milik perseorangan (privat), segolongan masyarakat, kelas sosial tertentu, yang lantas hasil produksinya digunakan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, ataukah milik bersama masyarakat, dimana hasil produksinya juga digunakan untuk kepentingan bersama masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dan dalam poin ini, kita semua tahu betul, bahwa di bawah sistem ekonomi kapitalisme, alat produksi dimiliki oleh kelas sosial tertentu dimana hasil produksinya juga digunakan untuk kepentingan kelas sosial tertentu tersebut. Sementara kelas sosial lain berperan dalam penyediaan tenaga kerja, tapi tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk menikmati hasil produksi dari kerja yang telah ia lakukan.Kelas sosial pertama, tidak melakukan kerja, tapi menikmati hasil produksi. Kelas sosial kedua, melakukan kerja, tapi tidak menikmati hasil produksi. Dengan demikian secara otomatis, dua kelas tersebut saling bertentangan. Hubungan produksi inilah yang lantas menjadi landasan teoritis mengenai asal usul pertentangan antar kelas (kelas pekerja versus kelas penguasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana Kerja di Bawah Sistem Kapitalisme?&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita berbicara mengenai definisi kerja dan bagaimana proses produksi dapat berlangsung serta bagaimana hubungan produksi yang ditimbulkannya (hingga muncul kelas sosial dalam masyarakat), kini kita berbicara mengenai topik yang lebih menarik: pengidentifikasian musuh utama kelas pekerja dalam kerja yang kita lakukan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pada tingkat perkembangan tertentu dari hasil produksi (karena hasil produksi lantas memiliki dua nilai: nilai guna dan nilai jual) maka uang yang menjadi alat tukar antar hasil produksi kemudian justru yang menjadi kapital (modal). Tidak seperti yang banyak orang sangka, uang itu sendiri sesungguhnya bukanlah kapital. Hal ini dapat dilihat pada rata-rata home-industry dimana produsen kecil barang dagangan hidup dari penjualan hasil produksi mereka.Di sini uang berperan sebagai alat pengedar hasil produksi. Hasil produksi yang satu dijual untuk membeli hasil produksi yang lain yang dibutuhkan; nilai guna sebuah hasil produksi ditukarkan dengan nilai guna hasil produksi lain. Prosesnya: barang --&gt;  uang --&gt;  barang. Orang menjual untuk membeli. Misalnya, seseorang membeli ponsel karena ia membutuhkanponsel untuk memudahkan dirinya berkomunikasi (sesuai dengan nilai guna ponsel tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sementara, uang menjadi kapital saat uang yang dimiliki dalam setiap proses jual beli menjadi target pertambahan (akumulasi). Prosesnya tidak lagi barang --&gt;  uang --&gt;  barang, tapi menjadi uang --&gt;  barang --&gt;  uang. Dalam hal ini, apabila proses pertukaran di atas tadi uang sekedar menjadi nilai guna (sebagai alat pengedar hasil produksi), maka kini uang menjadi kapital, dimana proses dasarnya: uang --&gt;  barang --&gt; uang+profit. Orang membeli untuk menjual. Misalnya, seseorang membeli ponsel bukan karena ia membutuhkan ponsel tersebut, tapi untuk dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi (di sini ponsel tidak memiliki nilai guna lagi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang dinamakan sistem ekonomi kapitalis (sistem ekonomi yang bertujuan melipat gandakan kapital/modal). Sebagai catatan, jangan campur adukkan sistem ekonomi ini dengan proses pertukaran hasil produksi atau jual beli, karena sejarah membuktikan bahwa tidak semua sistem ekonomi adalah sistem ekonomi kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sumber akumulasi tersebut jelas bukan peredaran dalam kasus rata-rata home-industry dimana nilai akhir akan sama dengan nilai awal karena hasil produksi yang dipertukarkan memiliki nilai yang sama. Akumulasi tersebut juga bukan karena kenaikan harga, karena toh nilai yang berfungsi adalah dimana uang menempati nilai guna.Jadi jelas, bahwa dalam ekonomi kapitalis, seseorang harus mendapatkan suatu hasil produksi yang apabila digunakan dalam proses produksi akan menciptakan jumlah kapital yang lebih tinggi dari jumlah awal, dimana tujuan akhirnya bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, tapi untuk akumulasi kapital itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana dalam sistem ekonomi kapitalis ini pertentangan antar kelas mendapatkan posisinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dalam teori dasar soal kerja, manusia bekerja untuk menghasilkan sebuah hasil produksi. Artinya, seseorang bekerja untuk mendapatkan nilai yang sesuai dengan nilai hasil produksi atas kerja yang telah dilakukannya.Ambil contoh, seseorang (atau kita sebut saja A) yang bekerja dalam memproduksi t-shirt. A menerapkan kerja atas kain (bahan baku) dengan menggunakan mesin jahit (alat kerja) sehingga menghasilkan sebuah produk t-shirt. T-shirt ini kemudian dipertukarkan di masyarakat dengan uang sejumlah Rp.60.000,-. Maka jumlah uang yang diterima oleh A seharusnya (setelah dikurangi biaya proses produksi + proses pemasaran, katakanlah sejumlah Rp.50.000,-) adalah sejumlah Rp.10.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kini katakanlah A dalam melakukan kerja untuk menghasilkan satu buah t-shirt hanya membutuhkan waktu 15 menit. Maka apabila sehari A bekerja efektif selama 7 jam (20 x 15 menit) maka A mampu menghasilkan t-shirt sebanyak 20 buah.Dalam sebulan kerja efektif (26 hari kerja) maka A menghasilkan t-shirt sebanyak 520 buah t-shirt (26 x 20). Otomatis A berhak mendapatkan uang sejumlah Rp.5.200.000 (520 x Rp.10.000,-).Apabila dalam sebuah proses produksi juga terdapat staf pemasaran, periklanan yang juga bekerja dengan jumlah jam kerja yang sama, maka jumlah uang yang diterima A dibagi sama menjadi Rp. 2.600.000,-. Masalahnya sekarang apakah pendapatan yang diterima oleh A memang sesuai dengan hasil kerjanya yang menggunakan perhitungan demikian, ataukah hanya sejumlah yang ditetapkan oleh pemilik alat produksi tanpa penjelasan apapun atas hal tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Perhitungan di atas disusun atas kesepakatan bahwa semua manusia seharusnya bekerja: tidak ada seseorang yang mendapatkan hasil lebih banyak dari yang lain apabila kerja yang dilakukan memakan jumlah waktu yang sama.Tidak ada boss yang menghabiskan waktu kerja sedikit tetapi mendapatkan jumlah yang jauh lebih besar. Seharusnya. Tapi sayangnya, di bawah sistem kapitalisme yang terjadi tidak demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dengan demikian, kini kita semua tahu bukan, siapa musuh kelas pekerja sebenarnya di bawah sistem ekonomi kapitalisme di mana ada seseorang yang atas hasil produksinya mendapatkan jumlah lebih besar tapi tidak menghabiskan waktu yang sama (atau lebih) besar daripada pekerjanya. Ya. Orang tersebut adalah sang boss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pertanyaan terakhir. Setelah memahami arti kerja beserta prosesnya, silakan pertanyakan kembali pada dirimu sendiri: apakah upahmu telah sesuai dengan kerja yang telah engkau lakukan selama ini? Apakah tempat kerjamu memberimu transparansi mengenai data keuangan (output dan input) sehingga menjelaskan mengapa jumlah upahmu sebesar yang engkau terima saat ini? Siapakah dari hubungan produksi di tempat kerjamu, yang paling diuntungkan atas terciptanya hasil produksi dimana engkau berikan tenaga dan pikiranmu? Berapa uang yang diterima oleh bossmu atas hasil kerjamu? Terakhir, apa yang akan engkau lakukan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;[Resensi] Buku - Brumaire 18 Bonaparte&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/perangkelas/resized.jpg" title="" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 2 Desember 1851, para pengikut Presiden Louis Bonaparte (kemenakanNapoleon Bonaparte) membubarkan Majelis Legislatif dan mendirikan suatu kediktatoran. Setahun kemudian, Louis Bonaparte memproklamirkan dirinya sendiri sebagai kaisar Napoleon III. Ini adalah gambaran mengenai momen kelanjutan dari perang sipil di Perancis abad 19 yang menandai berakhirnya masa feodalisme di Barat. Toh kelanjutan dari sebuah revolusi memang tak selalu bersifat revolusioner, seringkali ia hanyalah sebuah aksi pengulangan tentang perpindahan kekuasaan dari tangan yang satu ke tangan yang lainnya saja. Dalam masa tersebut ada 3 buah karya penting yang menyoroti kasus bersejarah tersebut, Victor Hugo dengan karyanya yang berjudul 'Napoleon the Little', Pierre Joseph Proudhon dengan 'Coup d'Etat' dan terakhir, buku ini, yang ditulis oleh Karl Marx antara Desember 1851 hingga Februari 1852.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kelemahan Vitor Hugo adalah bahwa dalam proses kritiknya, secara ironis ia justru menempatkan Napoleon justru sebagai individu yang hebat. Sementara Proudhon, sang anarkis, seperti juga mayoritas anarkis lainnya, terjebak dalam kemiskinan pemahaman sejarah dan peran-peran antar kelas sosial yang saling bertentangan.Dengan demikian, tanpa bermaksud mengglorifikasikan, karya Marx hadir sebagai pelengkap (apabila tidak dapat disebut sebagai pengkritisi) dua karya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Terbagi dalam 6 bab, dalam buku ini Marx memulainya dengan era berakhirnya masa revolusioner di Perancis (yang didominasi oleh kaum pedagang yang menolak negara turut campur dalam proses bisnis, sehingga revolusi ini juga seringkali disebut sebagai revolusi kaum borjuis).Dalam bab pertama, Marx mendeskripsikan dengan jelas para tokoh-tokoh penting yang berpengaruh besar dalam revolusi tersebut seperti Robespierre, Louis Blanc maupun Blanqui, lengkap dengan latas belakang tiap-tiap tokoh yang juga mempengaruhi pola-pola pengambilan keputusan dan aksi-aksinya.Dengan memahami tiap tokoh, kita dapat dengan lebih mudah mengikuti gerak sejarah yang terjadi tersebut dan memahami tentang bagaimana revolusi borjuis secara kontras bergerak berbeda arah dan tujuan dengan gerak sosial politis proletariat.Tema utama yang diketengahkan Marx dalam bab pertama ini dengan jelas dapat kita lihat, perbedaan dan pertentangan antara borjuis dan proletariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setelah kita memahami tiap tokoh kunci dan gerakan perjuangan secara umum, dalam bab 2 kita mulai diajak untuk memahami tentang bagaimana sebuah momen kebangkitan proletariat justru menampilkan sekelompok reaksioner untuk menduduki kursi kekuasaan yang berarti juga adalah pemilihan algojo untuk diri para proletariat itu sendiri.Mengesampingkan dulu kenyataan-kenyataan bahwa tiap kebangkitan revolusioner seringkali hanya menampilkan tokoh-tokoh baru yang tak berbeda dengan dunialama, dalam bab 2 ini, kesalahan-kesalahan langkah dari gerak proletariat berusaha dianalisa dan dipaparkan.Selanjutnya, secara lebih mendalam dipaparkan dalam bab 3 tentang apa yang sebelumnya telah merekatkan para borjuis kecil dan pekerja dalam satu barisandan tentang bagaimana proletariat harus membayar mahal atas seluruh kerjasama yang telah mereka lakukan. Tema utama dalam bab 2 adalah Bonapartisme dan arti kebebasan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bab 3 berbicara mengenai hal-hal apa yang melatar belakangi naiknya Bonaparte ke kursi kediktatoran, dan tentang peranan institusi legal di tengah kancah revolusioner yang belum padam. Di sini kita dapat memahami tentang dialektika sejarah melalui kasus ini sebagai contohnya. Bab 4 menyoroti tentang bagaimana demokrasi borjuis dilaksanakan hingga kejatuhannya. Pertentangan kelas dan arti dari demokrasi borjuis digambarkan dengan sangat kentara di sini.Bab 5 yang berbicara mengenai lumpuhnya kekuasaan atas tindak-tanduk Bonaparte yang mulai mengambil alih kontrol atas kekuatan tentara dan menyusun kekuatannya sendiri. Marx di sini secara jelas juga membahas mengenai basis kelas sosial Bonaparte dan tentang bagaimana status tersebut tetap dipertahankan.Hal ini memperkuat premis Marx bahwa latar belakang kelas sangat berpengaruh pada karakter seseorang, yang otomatis juga akan berpengaruh pada seluruh gerak langkah orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bab 6 sesungguhnya adalah sebuah bukti yang memperkuat premis Marx tentang karakteristik kelas dan bahwa hal tersebut tidak terjadi mendadak begitu saja, tapi ia adalah bentukan dari sebuah urutan sejarah yang panjang dan berbagai kejadian yang menyertainya--seperti bahwa kekisruhan di perancis tersebut adalah juga bertalian erat dengan krisis industrial dan komersial tahun 1851. Hal tersebut dibuktikan saat Bonaparte meraih kemenangan mutlaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bab 7 yang merupakan ikhtisar dari seluruh paparan sejarah dalam bab-bab sebelumnya, tampaknya merupakan klimaks dari buku ini.Secara eksplisit, dari sejarah tersebut dapat diambil pemahaman mengenai peran negara, ideologi yang bergumul di dalamnnya, sentralisasi dan desentralisasi kekuasaan.Salah satu konsep dasar dari teori-teori yang dikemukakan Marx memang berbicara tentang kelas, dan dalam rentetan peristiwa pasca revolusi Perancis ini kita dapat turut belajar mengenai peran tiap-tiap kelas dalam aplikasi praksisnya.Dengan kata lain, sejarah naiknya Bonaparte pada kursi kekuasaannya ini telah membenarkan teori-teori yang dikemukakan Marx. Dengan kata lain, buku setebal 140 halaman ini memang layak untuk dibaca dan dijadikan sumber acuan untuk belajar lebih jauh tentang praksis yang terjadi dari teori yang dikemukakan Marx. [ ]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-115124062196325835?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/115124062196325835/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=115124062196325835' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/115124062196325835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/115124062196325835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2006/06/plotanalisa-situasi-nasional-dan.html' title='PLOT/Analisa Situasi Nasional dan Internasional'/><author><name>babylon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04111439370259697471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-114858615152093006</id><published>2006-05-26T02:22:00.000+07:00</published><updated>2006-05-27T18:35:52.520+07:00</updated><title type='text'>SUNARDIAN WIRODONO LUPA MEMATIKAN TV-NYA</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: right;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;SUNARDIAN WIRODONO LUPA MEMATIKAN TV-NYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div face="times new roman" style="text-align: right;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div face="times new roman" style="text-align: right;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/xpembangkangx/buku.jpg" title="" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: right;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Review dari buku "Matikan Tv-mu! Teror media televisi di &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia"&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: right;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penulis : Sunardian Wirodono&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: right;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penerbit: Resist Press&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: right;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tebal: 178 halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: right;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sekian lama peradaban pasca-informasional telah merasuki tiap syaraf organisme masyarakat, sudah lewat empat dekade semenjak hadirnya televisi sebagai vortex media massa di Indonesia, dari diciptakannya sitkom, reality show, sampai dicetaknya &lt;i&gt;lip-singer&lt;/i&gt; kacangan layaknya Agnes Monica, dan baru tahun 2005 kemarin setelah 10 tahun bergelut di dunia pertelevisian, seorang Sunardian Wirodono berhasil menerbitkan tulisannya yang bertajuk "&lt;i&gt;MATIKAN TV-MU! Teror media televisi di &lt;/i&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i&gt;Indonesia"&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;terbitan Resist Press&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Sesuatu yang cukup melegakan, pikir saya, sewaktu menjumpai buku ini pertama kali. Akhirnya ada akademisi yang mau benar-benar jujur mengangkat subyek ini. Pembahasan dunia pasca-informasional seringkali hanya di bahas (ke dalam bahasa &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;) di dalam ruang lingkup teori filsafat tertentu dengan menggunakan istilah-isilah &lt;i&gt;njlimet &lt;/i&gt;dan disiplin-disiplin ilmu rumit yang mencakup dari strukturalisme sampai ke pos-strukturalisme. Untuk itupun kita perlu, setidaknya, memahami buah ide beberapa pemikir-pemikir filsafat dari Karl Marx sampai Jean Baudrillard. Namun buku Sunardian ini, hanya merupakan sebuah kritisisme bagi dunia pertelevisian, yang menurut saya cukup membongkar realitas palsu dari sebuah vortex nilai sosial baru yang disebarkan melalui--stasiun televisi. But don't be so sure, tampak luar bisa menipu bukan? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cukup baik memang, data-data informatif yang di susun Sunardian di buku ini, namun halaman demi halaman dimana ia memaparkan kritik dan kemuakannya akan media televisi menjadi sesuatu yang cukup sia-sia menurut saya, sampai-sampai membuat saya berpendapat kalau Sunardian memang benar-benar perlu mematikan dulu televisinya sebelum ia memberi judul dari bukunya tersebut. Buku yang mudah dipahami ini (kecuali bagi kalian yang memang sangat-cukup-malas untuk membaca) berhasil mengangkat kritik yang nyata ke hampir setiap relung dari keberadaan media televisi dan konsekuensi fatalistiknya terhadap masyarakat. Absurditas program-programnya, banalisasi perspektif publik, nilai-nilai sosial instan yang didapat melaui citra-citra yang dihasilkan oleh kepentingan televisi, kendali pemikiran dan bahkan penyempitan pemikiran, hingga--dalam konteks nasionalistiknya--&lt;em&gt;Jakartasentrisme&lt;/em&gt; yang memberangus wilayah-wilayah Indonesia lainnya agar manut pada satu kultur seragam yang terpusat di ibukota; dari tren bahasa pasar, gaya hidup, idola, hadir sebuah kenyataan pemberangusan keberagaman demi penyuburan rating: Jakartanisasi. Sunardian memahami konsekuensi media ketika hal tersebut dikendalikan oleh pasar yang di istilahkannya di dalam buku ini sebagai globalisasi kapitalisme, keburukan sebuah media yang memasyarakat namun tidak memiliki kepentingan yang memasyarakat, mencerminkan sebuah ideologi neo-liberal di jaman &lt;i&gt;advanced informational society&lt;/i&gt;, dimana pasar memegang kendali penuh, segala macam komoditi dipoles menjadi spektakuler, sensasional, terang-benderang, Hollywood! Sebuah era dimana media komunikasi digunakan sebagai alat penggoda yang mengajak setiap audiens untuk meninggalkan nilai-nilai komunitas, individualitas, menyempitkan imajinasi dan mengabdi pada deodoran, idola, citra, produk, komoditi, kapital: &lt;i&gt;ketidakhidupan&lt;/i&gt;. Akselerasi Spectacle yang semakin meningkat, menurut Guy Debord, yang di dalam tulisannya berpendapat bahwa "kebenaran yang tampak di permukaan adalah kepalsuan". Itulah wujud asli dari media televisi, sebuah inversi dari seluruh nilai agar dapat mengkultivasi budaya citranya, ketika refleksi terlalu melelahkan untuk dilakukan dan imajinasi telah di sediakan di depan meja layaknya hidangan yang telah siap untuk disantap. Dan tiap proses dari pembuatan makanan tersebut tidak pernah disebut-sebut, dari cara memasak hingga bagaimana dan siapa yang menghasilkan bahan-bahannya, esensinya ditiadakan. Eksistensi telah digantikan dengan ketiadaan yang secara bersamaan dicampur-adukan. Selamat lahir di dunia instan dimana kamu bukanlah dirimu sendiri, tapi adalah citra-citra yang kamu konsumsi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada bab awal, Sunardian dengan cukup menggelikan mencoba menelusuri kegagalan dari media televisi &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; yang dipahaminya sebagai akibat dari ketidakmatangan perencanaan awalnya. Mengkambing hitamkan sifat megalomaniak Presiden pertama &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, Soekarno sebagai penyebab sentral dari ketidakmatangan tersebut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;.."lain halnya dengan media televisi &lt;/i&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i&gt;Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;i&gt;, ia lahir dari sebuah kecelakaan. Ia lahir bukan dari sebuah proses persetubuhan yang indah…lahirnya media Televisi Republik &lt;/i&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i&gt;Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;i&gt; (TVRI), lebih karena syahwat megalomanian dan ekshibisionisme Soekarno, presiden pertama RI, ketika &lt;/i&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i&gt;Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;i&gt; menyelenggarakan Asian Games IV di Jakarta".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengudara pertama kalinya TVRI, menurut saya, lebih pada prasyarat kompetitif tiap Negara bangsa di dalam peta internasional daripada sekedar syahwat Soekarno semata, hal tersebut memungkinkan pemerintah untuk mempermudah penyebarluasan pengendalian pemikiran melalui propaganda yang massif, Negara berkembang manapun yang memiiki akses yang sama tidak akan berpikir hal tersebut sebagai sesuatu yang terburu-buru, tapi lebih pada tindakan yang sangat logis bagi Negara untuk meraih kendali penuh atas &lt;i&gt;konsen &lt;/i&gt;dari masyarakat. Dan disisi lain, di dalam sebuah dunia yang telah dipasarkan, setiap persetubuhan dilakukan di rumah bordil, setiap penyetubuh dan yang disetubuhi adalah pelacur. Persetubuhan tidak dilakukan untuk meraih keindahan dan klimaks yang biologis, tapi untuk mereproduksi keuntungan, untuk dapat menghasilkan kembali komoditi, untuk menghasilkan pelacur baru yang bisa menampung sperma! Proses persetubuhan tidak pernah eksis, hasil akhir adalah tujuannya. Di dalam bab pertama tersebut Sunardian lebih jauh menyalahkan konsep &lt;i&gt;learning By doing&lt;/i&gt; yang menurutnya adalah konsep yang dipraktikan media televisi pada waktu itu. Bukannya berangkat dari alasan esensial Negara di dalam memperlakukan media komunikasi, Sunardian malah menyalahkan penggunaan konsep tersebut. Menurutnya pematangan media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; harus dikultivasikan terlebih dahulu sebelum media itu di selenggarakan. Kenyataan sebenarnya adalah justru karena media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; pemerintah tidak pernah melakukan learning by doing, dan karena mereka memiliki tujuan dan landasan yang sudah pasti bahwa, media harus mengabdi pada Negara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kritik banal Sunardian kembali di hadirkan ketika ia menjelaskan bagaimana pada waktu itu TVRI berkualitas sangat rendah, yang ia pertimbangkan dari segi sumber daya manusia hingga penyajian program acara yang cukup minimalis, yang mungkin menurut Sunardian akan lebih bagus apabila terjadinya pematangan lebih awal, maka kualitas akan terjamin. Tapi yang menjadi pertanyaan saya, seperti apa kualitas yang bagus itu, disini seakan-akan Sunardian memiliki &lt;i&gt;comparison&lt;/i&gt; stasiun televisi (korporatik?) yang jauh lebih baik. Di hampir setiap isi dibuku ini Sunardian mengutuk kecenderungan profit-greed dari media televisi korporasi beserta iklim &lt;i&gt;anarki &lt;/i&gt;kompetisinya, sesuatu yang menurutnya perlu ada pengendalian yang lebih dari pemerintah. Bagi saya keinginan untuk mereformasi televisi korporasi di era globalisasi ekonomi sekarang ini, adalah sebuah anakronisme. Masalahnya bukanlah kurangnya "sumber daya manusia", juga bukan karena ketidakmatangan perencanaannya, karena pada waktu itu adalah era awal pembangunan negara Indonesia yang baru seumur jagung, juga bukan karena penyajian yang minimalis akan menghasilkan kualitas yang buruk, melainkan dari tujuan apa kualitas itu akan dibangun? Cara-cara seperti apa yang digunakan? Untuk maksud apa dan siapa yang akan diuntungkan dari hal tersebut? term "baik" disini untuk siapa? apakah bisa mereformasi stasiun televisi korporatik dan menaruh lebih jauh kendali pemerintah di ranah ekonomi, sementara tuntutan jaman menuntut--tanpa ada tawar-menawar--bahwa pasar harus otonom. Perihal isu RUU-APP belakangan ini misalnya, menimbulkan reaksi diantara kalangan dunia hiburan termasuk televisi, karena dengan adanya undang-undang seperti ini, sektor-sektor hiburan yang menjual keseksian (aurat) akan dibatasi atau ditiadakan, ini berarti pembatasan terhadap investasi dan akan menjadi pengaruh yang buruk bagi ekonomi kapitalisme. Isu RAPP merupakan salah satu contoh gampang dari hal tersebut. Seharusnya Sunardian sadar ketika ia menaruh istilah "globalisasi kapitalisme" dengan pemahaman menyeluruh dari latar-belakang anarki media korporasi yang berkembang pesat di Indonesia, bukannya mengajukan argumen-argumen tipikal yang klise. Sunardian bahkan tidak membuat perbedaan diantara media yang dikendalikan dikendalikan secara modal (korporatik) dan yang dikendalikan secara birokratik. Dari sini kita akan kembali pada pertanyaan mendasar yang lebih menyeluruh, karena tidak ada jalan pintas di dalam pembahasan ini apabila kita ingin benar-benar memahami seluruh relasi ekonomi-sosial dengan dunia pasca-informasional. Kalau memang ini sudah di jawab, Sunardian setidaknya menciptakan distingsi antara media korporatik dan media masyarakat, seperti halnya yang berkembang belakangan ini di Eropa, Amerika Utara, dan beberapa wilayah di &lt;st1:place&gt;Asia&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; dengan Indymedia, radio Democracy Now!, dan beberapa stasiun televisi berbasis masyarakat yang menjadi anti-tesis dari media korporasi. Apabila memang ada stasiun televisi yang berbasis masyarakat dan untuk masyarakat, seminimalis apapun penyajiannya, bukankah konsep &lt;i&gt;learning by doing &lt;/i&gt;lah yang harus diterapkan, agar refleksi bisa terus dilakukan untuk mengoreksi dan mengembangkannya kearah yang lebih baik lagi, tentunya dengan mengkreasikan pola yang berbeda dari apa yang biasanya di hasilkan dan digunakan oleh stasiun televisi korporasi. Dari sini argument mengenai kualitas malah terlihat relatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perilaku ekshibisionisme lahir karena adanya respon berlebihan dari penonton terhadap apa yang mereka tonton. Kecenderungan ini sama halnya ketika masyarakat menyerahkan hidup mereka untuk dikendalikan oleh orang-orang tertentu, dengan begitu mereka menghasilkan sifat menguasai-dikuasai, mereka mengatribusikan perasaan tinggi yang istimewa kepada idola mereka sebagaimana mereka menganugerahi ketidakberdayaan kepada diri mereka sendiri. Televisi, menurut kepentingannya, tidaklah seperti yang dianggap Sunardian 'tidak terkontrol', televisi sangatlah terkendalikan bagi kepentingannya sendiri, ia hampir memiliki kemampuan yang sama dengan kehidupan: berefleksi, melakukan adaptasi, konformis, dan lentur kemanapun laba menebarkan aroma. Hanya saja ia tidak nyata, tidak hidup, itulah kelemahan utamanya. Di dalam era globalisasi kapitalisme seperti yang dianggap oleh Sunardian, hanya stasiun televisi yang benar-benar adaptif terhadap pasar yang bisa bertahan dan meningkatkan taraf "kualitasnya" dari iklim anarkik kompetisi antar stasiun televisi. Dengan cara membuka diri pada penanaman modal yang lebih besar atau mungkin menjualnya, seperti yang dilakukan Anteve kepada Star tv baru-baru ini. Keburukan media televisi sekarang ini bersifat multidimensi, ia tidak hanya membuat manusia menjadi impoten, tidak mempercayai dirinya sendiri dan memfragmentasikan pikiran-pikiran aktual manusia, tapi ia juga mencerabut segala sesuatu yang tadinya dimiliki oleh manusia: komunitas yang berubah menjadi pasar, nilai-nilai sosial tergantikan citra-citra palsu, dan semakin mengikisnya kemampuan manusia untuk mengatur dan merubah hidup mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bab-bab selanjutnya mungkin cukup menarik untuk mengingatkan kita betapa absurdnya program-program televisi sekarang ini, godaan superfisialnya yang bersifat destruktif, dan mungkin yang cukup penting adalah pengertian dari &lt;i&gt;Jakartasentrisme, &lt;/i&gt;yang bukan hanya tidak mengikutsertakan audiens di wilayah luar Jakarta, tapi juga memperbudak mereka ke dalam penyeragaman identitas melalui penciptaan trend demi perhitungan rating. Apa yang tadinya tidak berpihak kepada masyarakat tidak akan menjadi manfaat bagi masyarakat, malahan akan menjadi penindasnya. Disini saya cukup terkesima dengan data-data informatif dan argumen Sunardian yang cukup langsung kepada intinya, tapi seringkali Sunardian memberikan kesan bahwa konsep media televisi masih bisa direformasi, jika saja masyarakat mengontrolnya dengan pertimbangan-pertimbangan moral yang baik, yang &lt;i&gt;ketimuran&lt;/i&gt;, jika saja pemerintah benar-benar menjalankan undang-undang yang ia buat melalui aturan penyiaran, jika saja masyarakat lebih aktif di dalam mempengaruhi program penyiaran televisi, inilah buah pikiran dari Sunardian, orgasmenya di dalam buku ini. Sedikit agak jauh di bab terakhir ia bahkan menyangkut-pautkan Suharto di dalam dominasi media televisi di &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; sampai sekarang ini. Suharto adalah orang yang membuka lebar-lebar penjualan segala aset ekonomi dan sosial kepada korporasi multinasional di era Orde Baru, ia juga memanfaatkan televisi untuk mengagung-agungkan namanya meski pada akhirnya media televisi juga harus menjatuhkannya karena keinginan pasar, sama seperti yang dilakukan Soekarno untuk melanggengkan demokrasi terpimpin, atau apa yang dilakukan oleh Bush sekarang ini terhadap media-media internasional. Fakta yang tidak dilihat Sunardian dengan seksama adalah, apabila memang pasar adalah faktor utama yang mendominasi dan mempengaruhi media, bukan hanya media televisinya yang diubah, tetapi orientasinya juga harus dibelokan, tidak ada tawar-menawar untuk hal ini. Hubungan tontonan dan penonton harus dihapuskan.&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fatalisme yang dilakukan Sunardian tadinya saya pikir hanya berakhir sampai disitu, semua pemahaman dan kritisismenya atas media yang susah-payah ia paparkan di bab-bab sebelumnya, hanya menjadi momen amnesia ketika pada bagian lampiran di akhir buku ini, tertera tulisan..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;"BILA anda merasa dirugikan, merasa jengkel atau marah, karena siaran televisi Indonesia, Anda mempunyai hak untuk melakukan penggugatan secara hukum atas hal tersebut. Atau, setidaknya, Anda bisa melaporkannya ke KPI (Komisi Penyiaran &lt;/i&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i&gt;Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;i&gt;) Pusat di Jakarta, atau ke Komisi Penyiaran &lt;/i&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i&gt;Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;i&gt; Daerah (KPID) di &lt;/i&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i&gt;kota&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;i&gt; masing-masing. Di bawah ini, beberapa ketentuan penyiaran, yang diberikan oleh KPI."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;(&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dan dibawah tulisan ini tertera secara lengkap larangan-larangan yang dibuat oleh KPI dari masalah Seksualitas, Kekerasan dsb tanpa ada kajian kritis sama sekali, dan dalam hal ini saya juga memilih untuk tidak mengkajinya secara kritis apalagi menyetujuinya)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengamati orgasme Sunardian membuat saya tersenyum-senyum sinis sendirian. Sunardian sendiri tampaknya belum lepas dari banalisasi yang disebarluaskan oleh televisi, ia bahkan tidak bisa membedakan mana yang anarkis dan mana yang tidak. Karena seperti yang ia bilang, televisi menyempitkan kemampuan orang untuk memahami sesuatu yang lebih luas dari program televisi dan iklan. Semuanya adalah penyederhanaan, seperti apa yang dilakukan oleh Sunardian di dalam buku ini. Sunardian Wirodono, siapapun dia, yang cukup baik memberi kita informasi dan argumen-argumen tulusnya, pastilah merupakan persetubuhan antara A'a Gym dan Boediman Soejatmiko. Matikan televisimu (ya ini juga untuk kamu Sunardian), tutup buku Sunardian Wirodono dan mari sama-sama belajar melakukan persetubuhan yang indah...learning by doing? Why not!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-114858615152093006?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/114858615152093006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=114858615152093006' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/114858615152093006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/114858615152093006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2006/05/sunardian-wirodono-lupa-mematikan-tv.html' title='SUNARDIAN WIRODONO LUPA MEMATIKAN TV-NYA'/><author><name>babylon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04111439370259697471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-114206590024526918</id><published>2006-03-11T15:31:00.000+07:00</published><updated>2006-03-11T15:36:43.376+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RUU APP: FOBIA SEKSUAL PARA ULAMA DAN BIROKRAT ISLAM (Bag. III)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Legitimasi untuk Menginvasi Ruang-Ruang Privat Terakhir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"It's because the real threats to Indonesia's fragile morality, particulary corrupt officials, are too dangerous to attack."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--Inul Daratista, dalam interview majalah Time.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah diterangkan sebelumnya, seks seringkali dinilai sebagai sebuah urusan libido dan tubuh, yang pada gilirannya justru memperbudak tubuh dan gairah manusia sendiri. Sebelum meletusnya revolusi seksual, seks difragmentasikan sebagai sekedar aktifitas prokreasi yang jelas memenjarakan gairah dan kenikmatan yang dihadirkan, dan ia juga menjadi alasan untuk menghakimi tubuh. Seks terasing dari tubuh. Seks menjadi sesuatu yang tabu. Seks menjadi sebuah praktek yang disertai ketakutan dan perasaan bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, agama setidaknya ikut bersalah dalam fragmentasi seks. Agama yang merayakan keberadaan seks semestinya tidak memusuhi seks, menerima seksualitas dalam segala aspeknya, termasuk ketubuhannya. Hal ini yang sepertinya tidak dapat diterima oleh para ulama dan birokrat Islam, apabila tidak bisa dibilang bahwa ini adalah penyakit yang diderita oleh para ulama dalam MUI. Mereka memandang bahwa semakin mereka merendahkan seks demi alasan rohani, semakin mereka menjadi suci. Padahal kesucian tidak terjadi karena seseorang merepresi gairahnya sendiri, yang ada hanyalah represi yang kemudian ditransformasikan dalam bentuk kebencian terhadap tubuh--yang dalam masyarakat patriarkis seringkali ditargetkan pada tubuh yang dianggap membangkitkan gairah seksual oleh kaum lelaki: tubuh perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan, betapa pasal-pasal dalam RUU APP jelas-jelas menyerang perempuan, memposisikan mereka sebagai sumber 'kekotoran' dan segala kehancuran moral--dalam hal ini moralitas Islam. Perempuan dilarang memperlihatkan tubuhnya karena dianggap dapat membangkitkan gairah seks, gairah yang dianggap rendah dan tak suci. Hal ini artinya: tubuh perempuan itu rendah dan tak suci. Perempuan diajarkan untuk membenci tubuhnya sendiri. Di sisi lain, tubuh perempuan lantas diklaim melalui berbagai pembenaran sebagai "milik sang suami". Sebagai sebuah benda kepemilikan, ia tentu bisa diperlakukan dan digunakan kapan saja dengan menempatkan dosa dan hukuman bagi para perempuan yang tak bersedia menyerahkan tubuhnya bagi sang suami. Saat perilaku misogini (membenci perempuan) diadopsi, kebencian itu justru seringkali terletupkan dalam bentuk kekerasan seksual terhadap tubuh perempuan. Perhatikan saja, betapa di Arab Saudi yang merepresi seks melalui beragam aturan hukum dan undang-undangnya justru menjadi salah satu negara dimana kekerasan seksual terhadap perempuan menempati posisi yang tertinggi. Demikian juga Afghanistan di era kediktatoran Taliban yang misoginis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga hal yang ironisnya tak mampu ditangkap oleh rata-rata muslimah sendiri. Puluhan muslimah selalu turut unjuk rasa di jalan-jalan menuntut agar pelegalan RUU APP dipercepat sesegera mungkin. Perhatikan ucapan Neno Warisman mengenai RUU APP belum lama berselang, "RUU ini bagus karena berguna bagi anak-anak dan generasi mendatang yang selama ini selalu digempur oleh tayangan-tayangan yang berbau porno dan membangkitkan syahwat. Maka saran saya adalah agar mereka yang selama ini gencar melakukan penolakan, tolonglah agar mereka memahami betul isi pasal-pasal RUU itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, komentar tersebut adalah komentar dari seorang yang imbisil, seperti yang rata-rata diderita oleh para selebriti yang eksibisionis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, seperti juga para pendukungnya yang lain, sekedar melihat RUU APP dalam kacamata moralitas Islam. Hal yang lebih mengerikan dari RUU tersebut seperti bagaimana ia dapat mendapat legalitas untuk menyerang siapa saja yang memiliki keyakinan berbeda. Dan mereka telah menyatakan diri mereka sendiri sebagai seorang yang secara intelektual tak mampu melihat problematika yang ada di balik fenomena maraknya pornografi dan pronoaksi (yang sebenarnya sebuah terminologi mengada-ada yang tak terdapat dalam kamus apapun--sesuatu yang makin membuktikan bahwa mereka tak lebih dari sekedar makhluk imbisil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problematika fragmentasi seksual yang membuat seks menjadi teralienasi dengan hidup itu sendirilah yang seharusnya dipahami dan dicari solusinya. Sekedar menyerang seks sebagai sebuah gairah kebinatangan (seperti yang selalu dilakukan oleh media massa, dimana di satu sisi seks dieksploitasi habis-habisan, di sisi lain gairah seks dianggap rendah seperti dengan seringnya kata itu diganti dengan "gairah kebinatangan", atau "nafsu purba" yang selalu berkonotasi merendahkan) tak akan membawa kemana-mana selain justru mengasingkan dan merendahkan diri mereka sendiri. Abad pertengahan telah memperlihatkan pada kita semua tentang hal demikian, belum lagi negara-negara yang mengaku menerapkan syariat Islam dengan membenarkan sikap misoginisme mereka, juga Perda kota Tangerang yang mulai memangsa korban-korban perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus demikian, dengan alasan apapun, penerapan aturan demikian hanya akan menyerang semua orang, dengan korban pertamanya adalah perempuan, anak-anak dan mereka yang miskin. Perempuan yang terpaksa bekerja sekedar untuk bertahan hidup di bawah kepungan rezim ekonomi yang semakin represif, yang melakukan segala cara yang dianggap mungkin demi menghidupi anak-anaknya, adalah target-target pertama. Setelah mereka, tentu saja, anak-anak para perempuan itulah yang menjadi korban selanjutnya. Dan itu semua hanya akan dialami oleh mereka yang miskin. Dan pada gilirannya, laki-laki juga akan menjadi korban akibat pelimpahan berbagai tanggung jawab yang seharusnya dapat dibagi bersama partner perempuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelas, para pendukung RUU APP hanyalah kelas menengah ke atas yang dapat dengan seenaknya menyalahkan seseorang atas hidup yang dijalaninya, tanpa mampu memahami mengapa hidup berjalan seperti ini. Ia mengenakan kedok Islam untuk mendapatkan legalitas dan dukungan publik, melibas seluruh kekuatan yang berseberangan dengannya--termasuk kekuatan-kekuatan Islam sendiri. RUU APP hanyalah sebuah usaha negara dan kelompok dominan yang kebetulan Islam, untuk mendominasi individu-individu di dalamnya hingga ke ruang-ruang yang paling privat. Seperti novel terkenal George Orwell, 1984, dimana ruang-ruang privat tidak lolos dari cengkeraman negara. Manusia kehilangan kebebasannya, hingga ke pelosok yang terdalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat, kita sedang menuju sebuah negara totaliter dengan Big Brother yang bernama MUI, beserta barisan tentaranya yang bernama FPI. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-114206590024526918?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/114206590024526918/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=114206590024526918' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/114206590024526918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/114206590024526918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2006/03/ruu-app-fobia-seksual-para_114206590024526918.html' title=''/><author><name>babylon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04111439370259697471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-114206565884510635</id><published>2006-03-11T15:22:00.000+07:00</published><updated>2006-03-11T15:35:10.026+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RUU APP: FOBIA SEKSUAL PARA ULAMA DAN BIROKRAT ISLAM (Bag. II)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Paradoks Pemberontakan Libido: Deseksualisasi Seks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sex is missing, it's because we have too much sex this day."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--Jean Baudrillard&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi seksual yang seringkali dianggap sebagai sebuah pelepasan belenggu represifitas, ternyata juga tidak melulu sempurna. Represi masih ketat berlangsung di tengah-tengah masyarakat yang dianggap telah membebaskan seks. Seks justru menjadi sebuah industri baru yang terang-terangan. Dan dalam dampak lainnya, seks tidak lagi bersifat privat, melainkan publik. Seks bukan lagi sekedar keintiman terdalam dari dua orang manusia. Seks yang berkekuatan sangat dahsyat menjadi lepas tak terkendali. Masalahnya, dalam seks yang meninggalkan posisi sebagai bentuk keintiman sebuah relasi, ia memaksa manusia untuk menjadi pribadi-pribadi eksibisionis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksibisionis disini bukan sekedar dalam artian seseorang yang gemar mempertontonkan alat kelaminnya pada publik seperti yang dipahami banyak orang. Eksibisionis disini dalam artian bagaimana seorang individu bukan lagi mempertontonkan ketelanjangannya, melainkan individu yang mendapat kenikmatan saat dirinya ditonton. Ini terlihat jelas dalam dunia mode fashion. Mode bermain-main dalam batas-batas imajinasi--ia mempermainkan imajinasi. Orang tidak perlu lagi telanjang, tapi ia justru memainkan fantasi ketelanjangan. Orang juga berlomba-lomba untuk tampil seksi--tak peduli perempuan atau lelaki. Batasan-batasan tentang keseksian juga mulai dibentuk dalam masyarakat industri. Perhatikan saja iklan di televisi, perempuan yang seksi adalah mereka yang berambut hitam dan berkilau, serta menggunakan ponsel keluaran terbaru. Sementara lelaki, adalah mereka yang menenggak minuman penambah energi, menghisap rokok merk tertentu atau seperti yang dikatakan oleh salah satu iklan, "Kerempeng, mana keren?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pribadi-pribadi eksibisionis ini jelas menjadi cenderung narsistis. Ia memuja dirinya, bukan lagi sekedar merayakan tubuhnya. Ini juga diperparah oleh kondisi masyarakat urban modern yang telah memilah-milah manusia menjadi individu-individu yang terpecah dan tercerabut dari komunitasnya--dengan ilusi-ilusi individual yang ditawarkan oleh industri media seperti slogan "Gue banget." Ia juga dibentuk oleh lingkungan terdekatnya semenjak kecil dalam tipe keluarga nuklir yang teratomisasi, yang ironisnya justru menjadi tipe keluarga ideal masyarakat modern. Bagi pribadi-pribadi narsistis, mengutip kata-kata Erich Fromm, sebagai manusia yang hanya mementingkan "perasaannya, pikirannya, semangatnya, keinginannya, tubuhnya, keluarganya, pendeknya semuanya, yang merupakan adanya dan (dianggap) miliknya." Apa yang ada di luar dirinya adalah sesuatu yang sama sekali tidak penting. Ia tidak pernah menilai dirinya dari berbagai sudut pandang, tapi ia hanya menilai dirinya, dari dirinya sendiri dan terlepas dari segala sesuatu di luar dirinya. Hasil akhirnya mudah ditebak: individualisme yang terlepas dari komunitas, konsumerisme, luxurisme. Alienasi total. Ia hanya melihat segala sesuatu dari kenikmatan yang diperoleh dirinya, apabila sesuatu hal dianggap tak membuatnya nyaman, maka hal itu yang salah. Ia tak pernah melihat bahwa ada kemungkinan dirinyalah yang bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seks yang terpublikkan secara otomatis juga merajai ruang publik, telah mentransformasikan orgasme dalam segala bentuknya, ia telah mulai menghancurkan nilai kebebasan yang semula diusungnya. Di Jerman, ada sebuah pepatah yang berkata, "die Vergesellschaftung des Orgasmus" atau dengan kata lain: pemasyarakatan orgasme. Segala hal menjadi satu. Uang, materi dan seks, telah menjadi satu dalam satu tujuan: orgasme. Konsekwensinya, materi dan uang bisa ditawarkan dengan efektif, bila ia disatukan dengan seks. Ini jawaban mengapa iklan mobil mewah seringkali dengan diembel-embeli dengan perempuan seksi, mengapa industri rokok menjajakan produknya dengan memanfaatkan perempuan-perempuan cantik dan seksi, begitu juga dengan produk lainnya. Lelaki dipaksa bekerja untuk mampu mengkonsumsi suatu produk, sementara perempuan dipaksa bekerja untuk menjajakan suatu produk. Dan keduanya diikat oleh kehausan (yang tersamarkan) untuk orgasme. Tatanan ideal masyarakat konsumer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada gilirannya, revolusi seksual yang disuguhkan masyarakat industri justru telah mendeseksualisasikan seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seks tidak lagi dinikmati dan dipahami sebagai seks. Seks kini dinilai dan ditemukan dalam sebuah produk. Seks menjadi kehilangan keutuhannya, ia telah terfragmentasikan. Kini, orang semakin haus akan orgasme yang mendalam, yang terus dicari melalui konsumsi segala hal, dari konsumsi produk yang tak terkait langsung dengan seks, maupun produk seks seperti alat-alat bantu seks, mode-mode seksi dan erotik, tawaran-tawaran entertainment seksual dan lain sebagainya. Tidak heran apabila lantas tabloid-tabloid yang belum lama ini marak dan memiliki oplah penjualan yang tak pernah surut, adalah tabloid yang bertemakan seks. Problemnya, semakin kedalaman orgasme itu dicari melalui seluruh produk tersebut, semakin ia menjauh. Tanpa sadar, seks telah menghilang dan memudar. Dan hal ini terjadi di tengah kondisi yang semakin permisif terhadap seks. Saat energi seksual dilepaskan tanpa kendali sama sekali dan diinkorporasikan dalam sebuah komoditi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua telah memahami, saat sesuatu telah terinkorporasikan, maka sesuatu tersebut hanya dapat dimiliki apabila kita memiliki uang. Demikian juga dengan seks. Tanpa uang, tak akan ada seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah paradoks yang lahir dari jalan panjang pembebasan sejak meletusnya pemberontakan libido: libido kini terpenjara dalam kapitalisme. Dan jelas, bahwa pembebasan seksual dalam masyarakat industri tidak memberikan jalan menuju pembebasan, ia hanya mengembalikan seks ke bawah represi seperti yang dialaminya di bawah kekuasaan otoritarian agama di abad-abad sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-114206565884510635?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/114206565884510635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=114206565884510635' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/114206565884510635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/114206565884510635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2006/03/ruu-app-fobia-seksual-para-ulama-dan_11.html' title=''/><author><name>babylon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04111439370259697471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-114198124958229264</id><published>2006-03-10T15:58:00.000+07:00</published><updated>2006-03-10T16:14:14.203+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RUU APP: FOBIA SEKSUAL PARA ULAMA DAN BIROKRAT ISLAM (Bag. I)&lt;br /&gt;Represi Seksual oleh Agama dan Pemberontakan Libido&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Introduksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP), sebelum mencapai keputusan peresmiannya, kini telah mulai memakan korban. Belasan pengecer koran ditangkap karena menjual tabloid-tabloid dan media-media yang dianggap porno, sementara para pemimpin redaksi media tersebut hanya dikenai hukuman wajib lapor; dua orang perempuan yang berprofesi sebagai penari tarian tradisional, ditangkap karena meliuk-liukkan tubuhnya dan dianggap mengundang berahi. RUU ini juga akan mengkriminalkan semua perempuan yang sekedar berpakaian memperlihatkan pusarnya, ia juga akan menyerang siapa saja yang mengekspresikan afeksinya dengan berciuman. Pada hakekatnya, RUU ini, menurut para pendukungnya, akan mengurangi kehancuran moral bangsa Indonesia. Dengan menggunakan pasal-pasal yang multitafsir, sedikit demi sedikit ia mendekati titik final pengesahannya--tidak peduli seberapa banyak penentangnya--pada bulan Juni 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena lain memperlihatkan bahwa pada akhirnya RUU APP ini mengarah pada tudingan bahwa hal ini adalah agenda politik tertentu, seperti yang dikatakan oleh Ayu Utami bahwa, "Keadilan tidak memiliki batas waktu, politik yang punya batas waktu." Bahkan lebih jauhnya lagi, RUU ini mau tidak mau dicurigai sebagai sebuah agenda politik para elit Islam semata--mengingat bahwa RUU ini dicetuskan pertama kalinya oleh wakil dari PKS, dan didukung di tataran akar rumput oleh para ulama termasuk oleh Aa Gym yang terkenal reaksioner itu, dan bahkan juga oleh teror FPI yang mengancam akan mensweeping siapa saja anggota DPR yang masih tidak setuju pada RUU ini serta berpotensi menggagalkan pensahannya. Kecurigaan ini memang tidak berlebihan, semenjak MUI, selaku elit dan birokrat kediktatoran yang berkedok agama Islam, pada tahun 2005 lalu memfatwakan bahwa pluralisme adalah haram. Saat sebuah fatwa anti pluralisme diputuskan, maka mutlak para pengikutnya akan memiliki nilai kebenaran yang tak dapat ditawar lagi: selain kebenaran yang mereka pegang, semua kebenaran lain adalah salah dan layak dihancurkan dengan cara apapun juga. Tak akan ada lagi tersisa dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perda Anti Pelacuran yang diluncurkan di kota Tangerang, bahkan bertindak lebih parah lagi dan mulai mengingatkan pada horor yang dialami oleh perempuan-perempuan di Afghanistan pada era kekuasaan Taliban. Sweeping dilakukan oleh polisi, untuk menangkapi perempuan-perempuan yang berada di luar rumah lewat pukul 7 malam--karena bagi mereka, semua perempuan yang masih berada di luar rumah dianggap pelacur. Korbannya, seorang ibu rumah tangga yang sedang minum teh botol di pinggir jalan, seorang istri yang hamil dua bulan dan sedang menunggu angkutan kota sepulangnya ia dari tempat kerjanya, seorang istri di kamar hotel yang sedang menunggu suaminya keluar membeli makan. Mengesampingkan semua fakta tersebut, Pemerintah Kota Tangerang mengaku bahwa polisi mereka tidak bertindak asal tangkap, dan selektif dalam memilih siapa yang harus ditangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, di sini, berbicara tentang pornografi yang berarti berbicara tentang seks, seakan sebuah monster yang mengerikan yang harus dikikis dari dunia yang dianggap bermoral, setidaknya dari sudut pandang agama. Kini pertanyaannya, sehoror apakah seks itu? Mengapa ia selalu dituding sebagai sumber kehancuran kehidupan sebuah bangsa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Latar Belakang Meletusnya Pemberontakan Libido&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendukung RUU APP selalu mengacu pada kenyataan bahwa seks telah menjadi sedemikian tak terkendali di tengah kehidupan masyarakat modern. Dan hal itu yang selalu didengung-dengungkan oleh para imam pengkotbah di mesjid-mesjid maupun media-media internal mereka. "Seks telah menjadi sangat menyimpang," demikian kata seorang imam di kala ceramah hari Jum’at di sebuah mesjid Bandung, "dan sebelum segalanya terlambat dan terlalu merusak, kita harus segera menghentikan semua praktek penyimpangan itu." Maka, dengan kata lain, menurutnya, seks hanyalah sebuah aksi prokreasi alias sekedar untuk memperpanjang keturunan, dan semua aktifitas seksual yang memberi nilai lebih pada sisi kenikmatannya dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Berbicara mengenai penyimpangan, publik Indonesia lebih akrab dengan aktifitas seksual 'tak biasa' yang dapat dirunut pada buku yang ditulis oleh seorang penderita voyeurisme, 'Jakarta Undercover', dimana dilaporkan olehnya bahwa di Jakarta praktik seks memang telah menjadi sedemikian 'tak biasa'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebelum lantas mencap hal tersebut sebagai sebuah penyelewengan, ada baiknya kita seharusnya melihat konsep yang dikemukakan oleh salah seorang penggiat Frankfurt School, Herbert Marcuse, bahwa pada kodratnya seksualitas adalah polymorphous perverse, penyimpangan yang beranekaragam. Konsep Marcuse tentang seksualitas lahir seiring dengan analisa dan refleksinya tentang revolusi seks yang dicemaskan oleh para ulama Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad pertengahan, agama berkaitan erat dengan politik. Sesuatu yang benar menurut politik dan dilegitimasi oleh agama, menjadikan politik itu sendiri sebagai sesuatu yang suci. Segala sesuatu diatur oleh aturan berdasarkan norma agama, termasuk seks. Seks ditentukan oleh kekuatan dan kekuasaan di luar individu, yang artinya seperti apa definisi seks, bagaimana praktik yang diperbolehkan, sejauh apa pemahaman tentangnya diterima, semua didikte keras oleh agama melalui instrumen politiknya. Dan tentu, seperti penyakit kronis yang dialami oleh banyak agama, dengan demikian pandangan soal seks dipersempit dengan hanya mendefinisikannya sebagai aktifitas reproduksi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini berubah dengan datangnya masyarakat borjuis. Ciri masyarakat borjuis adalah sikap mental yang mengarah pada efisiensi, penumpukan modal dan perluasan investasi yang kompetitif. Untuk meraih itu semua, diperlukan rasio yang kuat dan dingin. Maka, ciri lain masyarakat tersebut adalah juga rasionalitas. Segala sesuatu dikontrol oleh rasio, dan dibawahnya, seks yang dipersempit maknanya dan ditindas oleh masyarakat agama, kini dikontrol oleh rasio. Rasio mengatur bagaimana agar seks menjadi efektif, tidak hanya sebagai prokreasi, tapi juga untuk memajukan iklim kompetitif itu sendiri. Jelas, upaya ini tidak berhasil, mengingat bahwa seks adalah bagian dari hidup emosi dan afeksi manusia. Seks, tak bisa diatur dan ditundukkan oleh rasio, kecuali apabila semuanya dijalankan oleh represi. Maka, hal itu menjadi pilihan rasionalisme masyarakat borjuis, yang dengan dalih membebaskan seks dari represifitas agama, kembali merepresinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir abad sembilan belas, situasi berubah drastis. Seksualitas manusia bangkit membebaskan diri dari represifitas yang dipraktekkan atas mereka selama berabad-abad. Dua orang teoris ternama hadir di garda depan pemberontakan ini, Sigmund Freud dan Herbert Marcuse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigmund Freud dalam menghadapi represi seksual, tampak mendua. Satu sisi ia melakukan protes keras terhadap represi seksual, tapi di sisi lain ia begitu khawatir juga terhadap gelora dahsyat naluri seksual. Seperti pemikir borjuis lain, Freud yakin, bahwa peradaban manusia bisa dipertahankan hanya apabila ia mampu mengontrol naluri seksualnya. Bukan dengan cara merepresinya seperti yang dilakukan oleh para penguasa sebelumnya, tapi dengan mengarahkan atau dengan kata lain, mensublimasikannya. Bukan represi libido, tapi manajemen libido.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Herbert Marcuse berpendapat bahwa peradaban modern dibangun di atas represi rasio atas spontanitas manusia. Spontanitas manusia ditindas agar masyarakat mampu menghasilkan lebih dan lebih, sesuai dengan prinsip hasil dan keuntungan dari masyarakat borjuis. Atas penindasan inilah, yang menurut Marcuse akhirnya meletupkan revolusi seksual di tahun 1960-an. Para aktifis revolusi seksual tahun 1960-an, yakin bahwa represi terhadap naluri seksual telah mengarah pada agresifitas yang tak tersalurkan secara seksual dan terepresentasikan melalui agresifitas fasisme dan perang, termasuk kekerasan harian yang melingkari peradaban manusia modern. Menurut mereka, apabila seks dibebaskan, maka ia juga akan membebaskan manusia dari kejahatan-kejahatan yang ditimbulkannya apabila ia direpresi. Maka, praktik seks mulai diumbar dimana-mana dan secara terang-terangan. Dimanapun dan kapanpun. Melihat konteks ini maka konsep Marcuse menjadi jelas, bahwa seks adalah sebuah polymorphous perverse. Pertama, karena ragam praktik seksual mulai berlawanan dengan praktik seksual yang biasa; kedua, karena tak kenal batas itu pulalah sesungguhnya kodrat dan hakikat seksualitas manusia itu sendiri. Hanya dengan menuruti kodrat itulah maka manusia tidak hanya menjadi jujur dan otonom, tapi juga terbebas dari penindasan terhadap nalurinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan apa yang terjadi di Indonesia, dari meluasnya industri pornografi terselubung hingga praktik seksual yang telah terjadi di kalangan anak-anak muda secara terbuka, masyarakat sedang berjalan menuju keterbukaan. Di bawah bendera keterbukaan, segala sesuatu dituntut menjadi otonom, sementara otonomi menolak dogma-dogma atau ideologi-ideologi yang bersifat mengikat. Dan itulah yang sangat ditakutkan oleh ulama-ulama Islam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-114198124958229264?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/114198124958229264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=114198124958229264' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/114198124958229264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/114198124958229264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2006/03/ruu-app-fobia-seksual-para-ulama-dan.html' title=''/><author><name>babylon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04111439370259697471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-114190039239822636</id><published>2006-03-09T17:23:00.000+07:00</published><updated>2006-03-09T17:42:23.333+07:00</updated><title type='text'>TENTANG PEMBLOKIRAN PT FREEPORT</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Pemberontakan di Tengah Masifnya Pembantaian Melalui Penghapusan sebuah Kultur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;                            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;If I am a primitivist, let me be primitivist&lt;br /&gt;If I am animist, let me be animist&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;If I am un-contacted/unevangelised, let me be so&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;If I am poor, let me be poor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;If I am starving, let me be starving&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;If I am naked, let me be naked&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;If I am in the jungle, let me be there&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;If I am illiterate, let me be so&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;If I don't know English, leave me knowing nothing about it&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;If I am not a Christian, let me be so&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;If I don't eat rice, don't drink medicine, that is fine for me&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;If I can not drive, it is absolutely acceptable for me&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Just get out of my land, and leave me alone.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;--Wiwa Wewo, seorang anggota suku Dani di Papua Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;"We are thrusting a spear of economic development into the heartland of Irian Jaya. We're going to mine all the way to &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;New Orleans&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, and thanks to Indonesian government and their military forces for they always really helpful at this task. This is not a job for us. It's a religion."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;--Jim Bob Moffet (CEO Freeport McMoran di New &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Orleans&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, AS)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;"Apa yang dilakukan atau tidak dilakukan TNI AD atas keputusan pemerintah. Itu termasuk apakah TNI AD akan ditarik dari pengamanan PT Freeport atau dilanjutkan. Sampai sekarang, sesuai dengan keputusan pemerintah, kami akan tetap melanjutkan pengamanan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;--Jend. Djoko Santoso (Kepala Staf TNI AD) tentang pasukan TNI AD di sekitar PT Freeport&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aksi pertama dari sebuah drama revolusioner baru di kontinen Papua Barat telah dimulai, dan bersamaan dengannya juga dimulai melodrama kontra-revolusioner usang. Di Tembagapura, para penduduk telah menerima sebuah kekalahan gemilang dan kekuasaan dominan menerima sebuah kemenangan yang menyedihkan; revolusi telah merasuki kehidupan sehari-hari dan reaksi yang muncul adalah penerjunan lebih banyak anjing penjaga. Frustrasi dengan referendum yang dipaksakan oleh pemerintah Indonesia yang berakhir dengan penyerahan seluruh negeri dari kontrol Belanda ke bawah kontrol Indonesia, dimana konsekuensinya adalah 'pemberadaban' yang melibas seluruh nilai-nilai kearifan lokal mereka, penduduk Papua tampil kembali ke atas pentas dan memaksa banyak pihak internasional memperhatikan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pendudukan di Mil 72-74 Tembagapura oleh penduduk setempat yang dimulai para hari Rabu 22 Februari lalu telah membuka sebuah periode baru tentang krisis masyarakat modern. Even tersebut menandai kembali tentang perlunya solidaritas gerakan revolusioner antar regional dan lintas sektoral. Di depan universitas Cendrawasih jalan utama menuju bandar udara Sentani diblokir, di Jakarta kantor PT FI diserang dan berulang kali didatangi publik yang menuntut agar PT FI ditutup, demonstrasi yang menuntut penutupan PT FI juga terjadi di beberapa &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; lainnya. Gerakan publik di ranah urban di daratan Jawa yang telah mengalami proses transformasi advance dari sekedar teori pada perjuangan di jalanan kini bersanding dengan perjuangan untuk mengambil alih kontrol atas kehidupan sehari-hari di daratan Papua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tanggal 26 Februari blokade di Mil 72 dibersihkan, sekitar 700 orang insurgen Papua membuka ruas jalan tersebut pada pukul 17.50 WIT. Tapi untuk yakinnya, pendudukan sesungguhnya belum lengkap dan dibuka terlalu dini: belum ada pengambil alihan pabrik oleh para pekerja PT FI yang sebagian dari mereka di awal pendudukan meninggalkan alat-alat beratnya di pinggir-pinggir jalan sebagai solidaritas terhadap para insurgen dan operasi kantor-kantor representatif di regional lain belum sempat terhenti total, alias masih ditolerir. Demokrasi tidak pernah total: para birokrat masa datang yang mendukung Pilkada Papua mengklaim bahwa diri mereka berguna dan para birokrat lain juga mencoba kemungkinan manipulatifnya. Partisipasi publik dari ras non-Papua masih sangat sedikit yang akhirnya kehadiran mereka malah jadi dipertanyakan. Banyak mahasiswa, profesor, jurnalis dan imbisil-imbisil dari profesi lainnya hanya melihat kasus ini sebagai pengamat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengesampingkan kelemahan ini, yang memang tidak mengejutkan apabila memperhatikan betapa kita semua hidup dalam alienasi dan keterpisahan yang menyedihkan, aspek dari pendudukan di Tembagapura telah memperlihatkan signifikansinya yang eksplosif. Walau terbatas di Mil 72-74 yang terbebaskan dari kuasa negara, hal ini telah memapankan program revolusioner dalam bentuknya sendiri. Sehari setelah pendudukan, jalan menuju bandar udara Sentani di depan Universitas Cendrawasih, Jayapura, diblokir dan kantor PT FI di Plaza 89, Kuningan, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; diserang. Hari ketiga, demonstrasi anti PT FI terjadi di Salatiga dan Solo, hari keempat dan kelima Plaza 89 kembali dibanjiri demonstrasi--beberapa di antaranya berhasil melukai 7 polisi, 4 di antaranya kini dirawat di rumah sakit. Di hari keempat, Presiden Direktur PT FI, Adrianto Machribie mengaku menderita kerugian sebesar 10-12 juta dolar Amerika per hari atas seluruh rentetan aksi tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pembukaan blokade di Tembagapura pada hari keempat dengan demikian jelas terlalu dini. Korporasi masih berdiri tegak, militer masih bebas beroperasi dan menentukan agendanya sendiri dan penduduk Papua masih terus tergerus dalam perjalanan menuju proses kepunahan total. Negosiasi yang dilakukan oleh Polda Papua, Panglima Kodam Trikora, Bupati Timika, pimpinan PT FI yang berkedudukan di Jakarta, para tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tokoh pemuda setempat, yang dipimpin oleh kepala Polda Papua Tomy Yacobus dan berlangsung di guest house MIL 68, Tembagapura, telah menetralisir arus revolusioner. Tuntutan dari para insurgen akhirnya menjadi tak lebih dari sekedar tuntutan reformis yang jelas kontra-revolusioner seperti: bahwa PT FI harus memperhatikan pembangunan pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan ekonomi masyarakat, khususnya di 7 suku yang memiliki hak ulayat di lokasi pertambangan PT FI, juga tuntutan untuk menaikkan royalti 1% dari seluruh total penghasilan PT FI. Pemda dan PT FI juga harus membuka lapangan kerja untuk menampung penduduk asli yang menganggur di Timika, serta peran polsek dan koramil harus ditingkatkan di sekitar areal penambangan. Pemerintah berjanji bahwa tuntutan tersebut akan direalisasikan secara bertahap mulai bulan Maret 2006 ini. Jelas, bahwa tuntutan-tuntutan tersebut justru melupakan alasan awal pendudukan seperti dominasi dan penyingkiran seluruh nilai lokal yang berarti juga pembunuhan terhadap masyarakat Papua sendiri. Hal ini dapat jelas terlihat apabila kita mampu melihat kasus lain seperti kasus 'pemberadaban' indian setelah era pendaratan Columbus di Amerika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada abad pertengahan, setelah Columbus mendarat di daratan Amerika, seluruh kultur dan nilai lokal indian dihabisi satu demi satu, dan berlangsung selama berabad-abad, hingga pada akhirnya yang tersisa kini adalah reservasi kaum indian yang didegradasikan oleh 'kultur kulit putih' dengan tuhan-tuhan yang tidak mereka kenal sebelumnya dan dipaksakan atas nama 'peradaban'. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tahun 1971, Suharto mengirimkan puluhan babi yang sengaja diinfeksi dengan cysticercosis (cacing pita yang dapat hidup di dalam tubuh babi) sebagai sebuah "tawaran perdamaian" setelah ia menginisiasikan kekerasan brutal untuk menindas pemberontakan di daerah Enaratoli tahun 1969. Babi adalah bagian fundamental dari kehidupan ras Melanesia dan sebelumnya cacing pita tersebut tidak dikenal di Papua. Hasilnya, mayoritas suku Ekari terinfeksi dan cacing tersebut segera menyebar pada suku Dani. Pemerintah Indonesia menolak mengirimkan bantuan obat-obatan dan hanya sekedar mengatakan agar penduduk Papua, "mengganti kebiasaan dan cara hidup." Operasi militer yang dinamai 'Operasi Koteka' dilancarkan TNI pada akhir 1970-an menyudutkan kultur Papua sebagai sesuatu yang hina. Tahun 1980 dilakukan 'Operasi Sapu Bersih' difokuskan di kawasan-kawasan perbatasan dan membantai setidaknya 1000 penduduk asli di bulan Juni saja. Para transmigran dari Jawa kemudian ditempatkan di lokasi-lokasi yang telah 'dibersihkan'. Slogan yang popular di tengah TNI dalam operasi militer tersebut, "Biarkan tikus-tikus lari ke hutan, maka ayam-ayam dapat diternakkan di lahan yang sudah diambil alih." 'Demokrasi di Tanah Papua', acara televisi yang diselenggarakan oleh Metro TV dan disponsori oleh bankir-bankir yang menanamkan investasi di Papua akhir-akhir ini juga tak lain sebuah penanaman nilai-nilai yang jelas berbeda dengan nilai-nilai tradisional penduduk asli Papua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pemusnahan sebuah tata nilai budaya suatu masyarakat, adalah sebuah pemusnahan terhadap masyarakat itu sendiri. Dan cara ini terbukti jauh lebih efektif dan meraih hasil yang maksimal dibandingkan dengan sekedar menggunakan cara-cara kekerasan militeristik yang biasanya hanya menuai bom waktu dimana-mana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pemblokiran Mil 72-74 bermula setelah PT FI berusaha menyapu bersih para pendulang emas tradisional di areal limbah tailing bersama aparat Brimob setempat. Limbah tailing PT FI tersebut telah mencemari dan merusak ekosistem setempat yang sebelumnya menjadi penopang hidup penduduk asli sekitar. Penduduk kini bertahan hidup dengan memanfaatkan limbah PT FI dimana seringkali di dalamnya ditemukan emas, yang kemudian dapat dijual ke kota terdekat untuk menyambung hidup penduduk setempat. Maka tidak heran apabila penyapuan para pendulang emas tersebut--apalagi karena dilakukan dengan mengandalkan kekerasan militer sebagai senjata utamanya--hanya menemui reaksi keras dari penduduk Papua, yang berakhir dengan pemblokiran. Ini adalah sebuah perjuangan untuk mengambil alih hidup. Ini adalah sebuah aksi demi hidup. Dengannya, pengajuan tuntutan dan janji pemerintah untuk merealisasikan tuntutan, hanyalah sebuah upaya untuk merangkul kembali mereka-mereka yang berupaya untuk membangun jalan keluar dari sistem ini. Sekali saja langkah reformis ini berlanjut, maka nasib dari para penduduk asli Papua tersebut tak akan jauh berbeda dengan nasib kaum-kaum asli yang dipinggirkan oleh 'peradaban', seperti suku-suku Indian di Amerika dan suku Aborigin di Australia. Selama pemaksaan peradaban seperti dibukanya lahan bagi korporasi-korporasi 'beradab' untuk menanamkan investasinya disana, selama korporasi seperti PT FI diberi keleluasaan maksimal dan dibiarkan tetap beroperasi dengan bebas di sana bahkan dilindungi oleh negara dengan seluruh aparat militeristiknya, selama itu pula penduduk asli Papua tak akan menemui kebebasan untuk menentukan hidup mereka sendiri dan juga berarti lenyapnya harapan untuk meraih harga dirinya kembali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kekuatan yang eksis hanya dapat diambil dari diri kita, dan karenanya hanya oleh kita jugalah kekuatan tersebut dapat diambil kembali untuk menghancurkan kekuatan dominan. Kita tidak berhutang dan harus berterima kasih atas apapun, karena kita tak memiliki apapun. Tapi karena hal itu jugalah maka kita jauh lebih berbahaya bagi sistem saat ini!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kamerad Papua! Target kita bukan hanya militer, tapi juga para birokrat yang pro pada pembangunan dan pihak korporasi. Dimana reformasi bermula, di situ jugalah revolusi mulai berakhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Panjang umur para insurgen dalam pemblokiran Mil 72-74!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Panjang umur para pemuda Papua dalam penyerangan Plaza 89!&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-114190039239822636?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/114190039239822636/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=114190039239822636' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/114190039239822636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/114190039239822636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2006/03/tentang-pemblokiran-pt-freeport_09.html' title='TENTANG PEMBLOKIRAN PT FREEPORT'/><author><name>babylon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04111439370259697471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-114189912341909310</id><published>2006-03-09T16:57:00.000+07:00</published><updated>2006-03-10T16:17:01.576+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;KERUSUHAN PARIS 2005&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Refleksi Aksi dan Bukti Kompetensi Anak Muda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;"Kami telah membakar Paris. Dan kini semua orang memusuhi kami, tapi mereka juga tak menawarkan apa-apa kepada kami. Maka mengapa kami harus mendengarkan mereka saat tak pernah seorangpun juga dari mereka yang mau mendengarkan kami selama ini?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;--Seorang insurgen kota Paris yang berusia 21 tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dua kali, kota Paris diguncang oleh insureksi popular yang dimotori oleh kaum mudanya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pertama kali, adalah saat musim semi tahun 1968 saat mahasiswa dan pekerja-pekerja muda Paris bangkit memberontak terhadap represifitas rezim De Gaulle. Di tahun tersebut, kaum muda yang biasanya terlena dengan imaji-imaji dari televisi dan pesta-pesta tidak lagi meleburkan diri dalam olah raga kaum urban modern tersebut, tapi mereka menyulut pemberontakan yang segera menyebar dengan cepat dari kota ke kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pemberontakan di Paris kali ini memang berbeda dengan event tahun 1968 tersebut. Para pelakunya memang sama-sama muda, hanya kali ini mereka bukan mahasiswa dan juga bukan pekerja kerah biru. Dalam faktanya, nyaris sebagian besar dari mereka adalah kaum penganggur--walaupun sebagian dari mereka telah berhasil mengantongi ijazah Sorbonne--hampir sepanjang hidup mereka. Kali ini mereka tidak berkulit putih, mereka adalah ras Arab dan Afrika, anak-anak dari hasil kolonialisme Perancis. Kebanyakan dari mereka lahir di Perancis dari keluarga-keluarga imigran yang berasal dari koloni-koloni Perancis. Dan Perancis tidak menawarkan apapun bagi mereka selain catatan kriminalitas dan pengangguran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para pemberontak tahun 2005 ini bukanlah anak-anak muda yang beraksi dari hasil pembacaan mereka atas buku-buku Marxis, Anarkis atau bahkan literatur Situationist. Mereka berada di jalanan bukan karena "dunia yang berbeda itu adalah sesuatu yang mungkin". Mereka berada di jalanan karena sepanjang hidup mereka, untuk hidup di dunia inipun dianggap sebagai sesuatu yang tak mungkin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tidak seperti generasi tahun 1968, mereka tak memiliki batas kompromi. Mereka tak mampu memiliki potongan rambut yang tepat, membeli pakaian yang terbaik atau setelahnya bekerja sebagai pengacara atau akuntan. Kulit mereka, yang mereka miliki sejak lahir, telah menandai mereka bahwa tanpa perlu dipertanyakan lagi, mereka adalah warga negara kelas dua, tak memiliki keistimewaan apapun, dan bahkan tak dianggap benar-benar "Perancis" di mata banyak warga kulit putih Perancis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka untuk alasan-alasan tersebutlah mereka menjadi jauh lebih berbahaya bagi penguasa Perancis dibandingkan dengan para pemberontak tahun 1968.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para mahasiswa Perancis tahun 1968 telah memberikan sebuah pendekatan romantis bagi dunia Kiri, bahkan hingga hari ini berpuluh tahun kemudian, baik di Eropa maupun di negara-negara lain. Memang benar, bahwa pemberontakan Paris tahun 1968 adalah sebuah event yang ikonik, baik bagi anak muda pada masanya, maupun hingga kini--atau dalam kata lain ia adalah simbol internasional dari seluruh dekade tahun 1960-an. Event tersebut juga jauh daripada sekedar nostalgia tahun 1960-an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka saat Paris kembali menyala, kami berpikir kembali pada tahun 1968.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semua imaji yang menyebar dimana-mana tahun 1968, adalah insureksi Paris, pemogokan mahasiswa dan pelajar di Amerika Serikat, Red Guards di Cina, meletupnya mahasiswa di Amerika Latin, hadirnya insureksi Musim Semi Praha, partai Black Panther dimana nyaris seluruh anggotanya adalah anak muda di awal 20 tahunan dan para pemimpinnya hanya berusia sekitar 10 tahunan atau lebih sedikit, semuanya menunjukkan bahwa generasi muda akan menjadi garda depan transformasi global dalam bidang kultur dan politik. Dan semuanya tentu saja, berharap dapat melakukannya sebelum usia mereka beranjak 30.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sayang, segalanya tidak berlangsung sesuai dengan harapan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akhir musim panas 1968, para mahasiswa Perancis dikalahkan. Sebagian alasan adalah karena mereka kekurangan pengalaman--sebagaimana juga yang dialami oleh semua anak muda--dan sebagian besar adalah karena pengkhianatan para "Revolusioner" yang seharusnya menjadi kawan mereka, selain karena alasan lain seperti kenyataan bahwa kapitalisme memang terlalu kuat untuk dikalahkan hanya oleh satu atau beberapa insureksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;De Gaulle telah memahami benar tentang kekuatan negara dibandingkan dengan para pemberontak muda tersebut. Hal pertama yang ia lakukan, saat ia menyadari bahwa ia menghadapi sesuatu yang jauh lebih serius daripada sekedar pemogokan kampus, adalah kunjungannya ke markas besar militer Perancis di Jerman dan meyakinkan bahwa mereka masih loyal terhadap pemerintah Perancis. Walau pada kenyataannya kemudian, De Gaulle tidak membutuhkan intervensi militer, kebrutalan polisi Perancis sendiri telah berhasil menghalau para insurgen. Dan De Gaulle telah berhasil juga meyakinkan bahwa seluruh kekuatan politik yang mapan--baik itu "Kiri" dan Kanan--berdiri menentang pemberontakan aliansi anak muda mahasiswa dan pekerja kerah biru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anak-anak muda tersebut, yang berbicara lantang soal bagaimana mereka mempersenjatai imajinasi, masih sangat sangat kurang dalam intelejensi praksis. Mereka membayangkan bahwa mereka akan dapat menduduki kampus demi kampus, pabrik demi pabrik, hingga revolusi sosial terjadi dan negara De Gaulle menjadi semakin tak relevan lagi. Mereka tidak memahami betapa musuh mereka sangat deterministik dan berbahaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tentu saja itu bukan kesalahan mereka. Semenjak mereka adalah anak-anak muda, yang selalu dikorbankan oleh orang tua mereka, generasi sebelumnya, negara dan bahkan juga oleh para elit-elit oposisi yang mengaku "Revolusioner"--mereka tumbuh dalam satu pemahaman, bahwa mereka harus menolah seluruh institusi dan kekuatan mapan dunia modern. Tak seorangpun dari mereka akan berpikir tentang bagaimana caranya apabila militer hadir di hadapan mereka. Bagaimana mereka akan mempertahankan kampus dan pabrik menghadapi para veteran perang Aljazair yang mungkin akan berbaris menuju mereka? Hal itu jauh dari sekedar pengalaman harian anak-anak muda Perancis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hal demikian memang tak dimengerti oleh anak-anak muda tersebut, tentang bagaimana deterministiknya kekuatan negara. Setidaknya saat mereka melakukan insureksi. Hal demikian lebih dimengerti oleh mereka, para "Revolusioner" dari generasi sebelumnya. Banyak dari para "Revolusioner" tersebut telah hidup dalam masa kudeta dan kontra-kudeta di Aljazair saat De Gaulle meraih kekuasaannya 10 tahun sebelumnya. Banyak dari mereka adalah aktifis organisasi Resistance yang melawan pendudukan Nazi saat Petain dan komando tinggi Perancis justru berkolaborasi dengan kekuasaan Hitler. Para pemberontak veteran tersebut dapat--dan sudah seharusnya--mengambil sikap dan membantu para pemberontak muda Perancis tersebut untuk membangun pertahanan yang lebih kuat melawan negara De Gaulle. Mereka dapat membangun agitasi melawan intervensi militer, termasuk melakukannya di dalam kekuatan militer sendiri. Atau setidaknya, mereka dapat menggalang dukungan publik atas tuntutan para mahasiswa dan pekerja muda yang melakukan pemogokan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tetapi seperti yang juga dialami oleh anak muda dimana-mana, mereka dianggap sebagai sebuah kelompok usia yang reaksioner dan tak mengerti apapun soal dunia dan kehidupan. Para anak muda Perancis dikhianati oleh para komunis tua dan para pemimpin serikat-serikat "Revolusioner" yang selalu saja berharap dapat memonopoli "Revolusi", dan bukannya berharap dapat bersanding bersama mereka yang meletupkan aksi revolusi. Bahkan terlepas dari itu juga, para intelektual "Revolusioner" seperti Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir yang telah "dewasa" justru--kadang secara terbuka--bersikap memusuhi para anak muda insurgen tersebut. Para kaum "dewasa" tersebut telah menghabiskan nyaris seluruh waktu hidup mereka untuk mencapai kekuasaan atau popularitas, dalam serikat pekerja, partai politik, masyarakat sipil dan bahkan juga dalam institusi resmi negara. Tak ada satupun dari mereka yang bersimpati pada para anak muda amatir. Tak ada satupun yang mau meresikokan segalanya, demi beraliansi bersama anak-anak muda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagaimana pemberontakan tahun 1968 menyebar dengan cepat, para kaum Kiri yang "Revolusioner" dan telah "dewasa" tersebut mendapati posisi mereka jauh lebih buruk daripada yang dialami oleh De Gaulle. Mereka tak memiliki kekuatan militer atau polisi untuk melanggengkan monopolinya, mereka hanya memiliki pengaruh partai dan kantor-kantor serikat pekerja--dimana tak ada seorangpun anak muda yang menaruh respek padanya. Mereka hanya punya satu peran yang harus dipertahankan: sebagai representatif bagi "Kelas Pekerja".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seperti yang dialami oleh anak muda generasi 1968, para pemberontak muda generasi 2005 ini dikhianati oleh para "Revolusioner" yang telah "dewasa" yang merasa tak memiliki keharusan sama sekali untuk mendukung insureksi. Anak-anak muda 2005 ini, bahkan juga dikhianati oleh para imam mereka, yang mengisukan fatwa melawan insureksi dan para insurgen. Hal ini sangat menyedihkan dan tragis sekaligus telah terprediksikan. Maka, adalah sebuah kejahatan besar, apabila kami juga menolak mereka, hanya apabila mereka tidak berhasil untuk mengadopsi gaya bahasa dan simbol-simbol yang kami terima dan gunakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sangatlah alamiah apabila orang mengekspresikan diri mereka melalui bahasa dan simbol yang familiar bagi mereka. Tahun 1968, anak-anak muda yang memberontak menggunakan bahasa Frankfurt School serta berpenampilan a la Che Guevara ataupun Mao. Dan kini, para anak muda insurgen generasi 2005 tidak melakukannya sama sekali. Mereka juga tidak menunjukkan kepeduliannya atas pentingnya publikasi--yang menjadi karakteristik generasi 1968--yang dalam bayangan kami memang tetap penting, setidaknya untuk dapat memahami agenda dan tuntutan mereka. Tapi itu bukan alasan untuk menolak dan menyepelekan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pemerintah Perancis mencap bahwa mereka adalah korban agitasi para ekstrimis Islam. Banyak dari anak muda insurgen generasi 2005 ini memang memiliki latar belakang keluarga muslim. Tetapi berapa banyak yang benar-benar memeluk agama Islam ataupun setuju dengan program teror para ekstrimis Islam, tak pernah jelas. Tapi juga tidak mengherankan apabila orang-orang dari latar belakang muslim mengekspresikan kepedihan mereka melawan kolonialisme dengan bahasa yang diambil dari kultur Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Program revolusioner dan visi politis yang koheren memang absen dari anak-anak muda tersebut. Mereka hanya mengekspresikan kehidupan mereka dengan satu-satunya cara yang dianggap mungkin. Apakah itu lantas juga akan dianggap sebagai sebuah kesalahan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Adalah sebuah arogansi berlebihan apabila seluruh insurgen yang melawan intervensi kekuatan kapitalisme diharuskan mampu untuk berbicara dengan bahasa Marx atau Bakunin, atau bahkan juga Marcuse dan Baudrillard, hanya sekedar agar dapat dianggap serius. Kami tidak peduli apa mereka muslim atau bukan, sebuah hal yang pasti, mereka mengekspresikan bahasa mereka sendiri dalam menyerang intervensi kapitalisme. Ini justru sebuah tantangan bagi kami dan bagi kita pada umumnya. Bagaimana kita dapat mampu memapankan sebuah program revolusioner yang mampu berbicara dalam bahasa yang dapat dipahami oleh mereka untuk dapat menyalakan impuls revolusioner mereka dalam mengambil alih kontrol atas hidup mereka sendiri? Dan bagaimana kita dapat memberi respek pada mereka yang berbicara berbeda dengan tata bahasa kita, agar dapat kita mengerti dan begitu juga sebaliknya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam hal ini, kami justru tidak menyarankan agar kita memberikan "pendidikan" atau "kursus politik" bagi mereka, kaum muda dimanapun juga. Justru sebaliknya, kita harus belajar banyak dari mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anak muda Perancis itu adalah salah satu bukti bahwa anak muda memang dan selalu brilian. Dalam beberapa hari saja, nyaris seluruh daerah pinggiran kota Paris menjadi daerah yang tertutup bagi polisi--sesuatu yang membuat kepala polisi Paris memohon-mohon agar militer turut meredam apa yang ia sebut sendiri sebagai insureksi. Dan dalam beberapa hari berikutnya juga, insureksi telah menyebar ke kota-kota lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tahun 1968, para anak muda insurgen berpikir bahwa mereka harus bertahan di kampus dan pabrik karena itulah tempat mereka, membangun otonomi mereka dari tempat tersebut. Tapi justru hal ini juga memberi sebuah kepastian bahwa kekuatan negara akan dapat dengan mudah mendeteksi mereka dan memukul balik mereka dengan mudah. Tak ada yang sulit bagi kekuatan negara untuk menyerang kampus-kampus, apalagi apabila kekuatan militer mulai hadir. Toh apabila memang polisi gagal menyelesaikan tugasnya dalam meredam insureksi, militer telah siap dan selalu siap menggunakan senjata mereka yang lebih berat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sementara bagi generasi 2005 ini, saat mereka tak memiliki apapun, mereka juga tak memiliki apapun untuk dipertahankan dan dijadikan basis pertahanan. Hal ini justru juga menjadi keuntungan bagi para insurgen ini, mereka dapat dengan bebas menentukan lokasi dan terminologi pertempuran jalanannya serta juga tentang bagaimana polisi diharapkan akan meresponnya. Para insurgen bertempur dalam tim-tim kecil yang sangat mobile, yang dapat menyerang kapan dan dimana mereka mau, untuk kemudian berpisah dan menghilang. Hal yang memaksa kekuatan polisi untuk mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk mempertahankan aset negara dimanapun dan dalam waktu yang sama--yang tentu saja tak mungkin dilakukan. Bahkan apabila polisi melakukan penahanan acak, jelas hal tersebut hanya semakin tidak efektif. Apabila para insurgen menyerang sebuah target yang tak dijaga polisi, sudah dapat diperkirakan bahwa polisi akan datang dalam waktu yang sangat terlambat, dan apabila polisi kemudian menangkap mereka yang sekedar kebetulan hadir di lokasi kejadian, hal itu hanya akan menyudutkan polisi sebagai sebuah kekuatan musuh komunitas. Dalam hal ini, dominasi negara telah di ambang kekalahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kini, sekali lagi, anak-anak muda ini dikalahkan karena mereka dibuang oleh generasi yang seharusnya mendukung mereka. Mereka kembali dikalahkan, hanya karena mereka adalah anak muda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Melihat itu semua, kami tidak akan mengakhiri tulisan ini dengan berusaha mengagitasi anak-anak muda tersebut agar dapat lebih menilik pada program revolusioner yang lebih koheren. Kami hanya ingin menunjukkan bahwa inilah kesalahan kita selama ini--yang terus diulang-ulang entah untuk keberapa kalinya--bahwa kita selalu menolak menganggap serius mereka yang memiliki bahasa yang berbeda dalam penentangannya terhadap sistem kapitalisme ini. Yang kami tahu juga, bahwa sesungguhnya anak-anak muda dimanapun juga--tak hanya di Perancis--adalah mentor-mentor yang sesungguhnya dari kehidupan ini. Mereka telah menunjukkan pada kita semua, bahwa tak ada yang tak mungkin untuk dilakukan, untuk mengambil alih kontrol atas hidup kita sendiri. Hanya saja, semua itu akan dapat lebih berhasil apabila kita tidak menganggap remeh semua yang memiliki bahasa dan perbendaharaan kata dan kultur yang berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sekali lagi, anak muda telah membuktikan diri sebagai mentor terbaik kita semua, terlepas dari seluruh kesalahan yang mereka lakukan.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-114189912341909310?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/114189912341909310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=114189912341909310' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/114189912341909310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/114189912341909310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2006/03/kerusuhan-paris-2005-refleksi-aksi-dan.html' title=''/><author><name>babylon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04111439370259697471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-113491901662020524</id><published>2005-12-18T22:16:00.000+07:00</published><updated>2006-03-09T15:56:54.616+07:00</updated><title type='text'>ANARKI DAN PENJARAHAN PASCA-BENCANA DI NEW ORLEANS (Bag. II)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Harapan kami hanya dapat lahir dari mereka yang tak memiliki harapan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;--Grafiti di tembok kota Paris saat revolusi 1968&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kurang dari setengah mil, di New Orleans Convention Center, Sadique Jabbar menyantap sarapan pertamanya Jumat ini dengan sebungkus Cheetos yang seseorang berikan padanya sekitar pukul 11 AM. Kalian tahu bagaimana aku bisa mendapatkan makanan? Ujar Jabbar, Beberapa orang yang kabur dari penjara menjebol ke dalam beberapa gedung, mengumpulkan makanan untuk kami dan membawanya kemari.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;--Koran San Fransisco Chronicle, 3 September 2005&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seperti yang pernah kami tulis dalam artikel awal kami tentang Tsunami, memang selalu ada harapan sesungguhnya yang muncul dari ketiadaan harapan. New Orleans, adalah sebuah daerah di Amerika Serikat yang dianggap paling dekaden karena angka kemiskinan yang sangat tinggi sebanding dengan angka kriminalitas dan dihuni oleh mayoritas penduduk kulit hitam. Ini juga menjadi salah satu lokasi yang dihantam badai Katrina dan dibiarkan luluh lantak tanpa bantuan sama sekali dari pemerintah.Salah satu kasus dimana pemerintah secara sistematik melakukan genosida terhadap kaum kulit hitam yang walaupun perbudakaan secara resmi telah dihapuskan, tetapi mereka tetap ditempatkan sebagai warga negara kelas dua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Pupusnya Harapan Terakhir&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lebih banyak korban meninggal daripada tragedi 11 September WTC. Tapi bahkan tak ada liputan media besar-besaran dan perhatian publik yang layak. Bahkan tak ada juga pengibaran bendera setengah tiang tanda berkabung. Media massa resmi hanya melaporkan kasus penjarahan, perampokan dan pemerkosaan. Tak ada liputan khusus mengenai bagaimana para pengungsi kulit hitam yang ditampung di Superdome dibiarkan sendiri tanpa bantuan air bersih, makanan dan toilet yang memadai, sementara polisi bersenjata menjaga di luar Superdome untuk mencegah para pengungsi untuk keluar dari lokasi penampungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Juga tak ada liputan mengenai bagaimana jembatan utama yang dapat digunakan untuk meninggalkan kota yang luluh lantak akibat bencana, dijaga ketat oleh polisi bersenjata api. Mereka ditugaskan untuk mencegah mereka yang selamat untuk dapat keluar dari New Orleans. Ada sebuah password bagi para polisi yang menjaga jembatan, bila engkau miskin dan berkulit hitam, maka engkau dilarang menyeberangi sungai Mississippi dan tak diperbolehkan keluar dari New Orleans. (Get Off the Fucking Freeway: The Sinking State Loots Its Own Survivors, Larry Bradshaw dan Lorrie Beth Slonsky).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tak ada liputan juga mengenai bagaimana Palang Merah dilarang secara resmi untuk memasuki lokasi bencana. Departemen Pertahanan Dalam Negeri negara telah memintadan terus memintaagar Palang Merah Amerika tidak kembali lagi ke New Orleans. Kehadiran kami dianggap hanya akan mendorong orang untuk melakukan evakuasi dan mendorong bantuan lain untuk datang ke kota tersebut. (situs resmi Palang Merah Amerika).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Banyak orang muda kehilangan akal karena beberapa helikopter terus menerus terbang di atas kami dan tak mau berhenti sama sekali.Kami berdiri di tempat terbuka, melakukan sinyal SOS, kami melakukan segalanya. Hingga sampai pada satu titik, dimana anak-anak muda tersebut benar-benar frustasi sehingga mereka mulai menembakkan senapannya ke udara. Mereka tidak menembak helikopter seperti yang diberitakan oleh media. Mereka menembak dengan harapan pilot helikopter melihat mereka. Tetapi itu juga membantu sama sekali. Tak ada satupun helikopter yang membantu kami.(dari transkript interview video dengan Neville).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Hadirnya Bibit Harapan akan Dunia Baru&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di sebuah lokasi di French Quarter, dataran tinggi kota New Orleans yang tak terendam air, dua orang paramedis lokal membangun hotel sebagai rumah sakit dan pusat komunitas. Kami membentuksebuah tempat yang diprioritaskan bagi yang sakit, manula dan bayi-bayi yang belum lama lahir. Kami saling bantu membantu agar kami semua bisa dapat tetap bertahan hidup disini, karena bantuan yang dijanjikan oleh negara federal, pusat dan institusi lokal tak pernah termaterialkan sama sekali. Kami harus mulai belajar untuk bekerja sama tanpa membutuhkan campur tangan pemerintah. (Get Off the Fucking Freeway: The Sinking State Loots Its Own Survivors, Larry Bradshaw dan Lorrie Beth Slonsky).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sadar dalam ketiadaan informasi dan asistensi dari luar, kelompok-kelompok baik yang kaya maupun miskin saling bergabung bersama di French Quarter, sebuah tempat di dataran tinggi New Orleans yang tidak terendam air, membentuk kelompok tribal mereka sendiri dan membagi-bagi pekerjaan yang harus dilakukan untuk dapat bersama bertahan hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beberapa turun ke sungai untuk mencuci disaat yang lainnya menjaga peralatan dan tempat tinggal mereka. Dalam sebuah bar, seorang bartender berusaha kerasdan dengan hasil yang nyaris sempurnaberalih peran menjadi seorang dokter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saat kekerasan antar mereka yang bertahan hidup dan alienasi justru semakin menjadi-jadi, di kota yang nyaris terlupakan ini, sesuatu justru lahir di tengah-tengah lingkungan penduduk yang sebelumnya adalah tempat paling dekaden di Amerika Serikat: kemanusiaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Membangun tempat tinggalnya di antara bangunan-bangunan yang telah ditinggalkan di daerah-daerah dataran tinggi dan diperlengkapi dengan sambungan listrik bawah tanah yang masih berfungsi, para penduduk yang ditinggalkan tanpa penyelamatan menganggap tempat-tempat tersebut sebagai tempat paling aman yang bisa didapatkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bahkan tempat-tempat tersebut menjadi jauh lebih baik daripada mereka yang pergi menyelamatkan diri dan dibiarkan hidup berdesakan tanpa bantuan yang layak seperti air bersih dan listrik di tempat penampungan resmi pemerintah seperti Superdome dan Convention Center. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Para penduduk yang ditinggalkan dan diabaikan tanpa dikirimi bantuan, yang kemudian membangun sendiri komunitas dari mereka yang selamat tanpa mengharapkan lagi bantuan apapun dari pemerintah ataupun badan bantuan resmi lainnya, adalah contoh terbaik dimana publik dapat bekerja sama tanpa instruksi atasan ataupun para spesialis dan intelektual.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yang paling menarik adalah apa yang terjadi di sebuah bar bernama Johnny White, yang terkenal tak pernah tutup, bahkan setelah badai tetap tak mau mengunci pintunya. Hanya saja, ada sebuah transformasi pasca bencana. Ia tak lagi menjadi sekedar bar. Di antara bir hangat, bartender menyediakan biskuit-biskuit dan air mineral bagi siapapun yang dapat membantu membantu para pengusahanya untuk bekerja sama membangun komunitas di antara reruntuhan dan kekacauan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ia menjadi semacam pusat kegiatan komunitas, yang bagi beberapa lainnya ia adalah juga berfungsi sebagai rumah sakit. Semua orang saling bantu, menyediakan jasa mereka secara gratis dan sukarela.12 orang menjalankan pusat komunitas Johnny White dengan baik dan teratur walaupun tak memiliki pemimpin. Kelompok tribal tersebut terdiri dari seorang dokter, kasir dan seorang pedagang. Mereka saling bertukar pikiran tentang pengembangan taktik bertahan hidup bersama orang-orang lainnya dalam kelompok mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saat pada akhirnya ada sebuah bus yang dikirimkan oleh lembaga bantuan internasional dan menawari kelompok tersebut untuk pergi, hanya empat orang anggota kelompok tribal tersebut yang memilih untuk pergi. Sisanya memilih untuk tetap tinggal dan terus membangun komunitasnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seperti apa yang dikatakan oleh seorang anggota kelompok tersebut, Mark Rowland, Hatiku akan sangat hancur apabila harus meninggalkan tempat yang kucintai ini. Tidak seharusnya semuanya berakhir seperti ini. Kita dapat membangun dunia baru disini, saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beberapa kelompok radikal di luar New Orleans merayakan penjarahan yang terjadi sebagai sebuah praksis anarkisme karena dalam pola penjarahanlah si miskin dapat merebut kembali hak hidupnya selain bahwa penjarahan berarti pula runtuhnya dunia jual-beli yang dimapankan kapitalisme. Tetapi penjarahan tanpa pembangunan komunitas, adalah sebuah hal yang setengah-setengah, ia bukanlah sebuah tindak revolusioner karena ia tak menawarkan sebuah tatanan dunia baru. Justru apa yang dilakukan oleh Larry Bradshaw dan Lorrie Beth Slonsky, dua paramedis yang membangun pusat komunitas di French Quarter, serta kelompok tribal Johnny White itulah anarkisme melebur ke dalam praksis dan meninggalkan label utopia-nya. Dan itulah sebuah bukti bahwa dunia baru adalah sesuatu yang mungkin. Ia telah lahir di tengah puing dan kehancuran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Problem bagi mereka disana sekarang adalah bagaimana mereka dapat memapankan relasi sosial baru yang mulai terbentuk disana, sementara bagi kita di luar New Orleans adalah bagaimana kita mulai mengubah relasi sosial kita sehari-hari di manapun kita tinggal, demi dunia baru yang mulai menampakkan sinarnya di reruntuhan New Orleans. Terakhir, alangkah pantasnya apabila artikel ini ditutup dengan sebuah kutipan dari Durrutti, seorang anarkis yang hidup di era perang sipil Spanyol 1936, Setidaknya, kami tidak pernah takut lagi pada kehancuran, semenjak kami membawa dunia baru di hati kami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-113491901662020524?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/113491901662020524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=113491901662020524' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/113491901662020524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/113491901662020524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2005/12/anarki-dan-penjarahan-pasca-bencana-di.html' title='ANARKI DAN PENJARAHAN PASCA-BENCANA DI NEW ORLEANS (Bag. II)'/><author><name>hypatia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14395516969596435214</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-112722836524743869</id><published>2005-09-20T21:59:00.000+07:00</published><updated>2005-09-20T21:59:25.266+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size=2&gt;ANARKI DAN PENJARAHAN PASCA-BENCANA DI NEW ORLEANS &lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;font size=2&gt;&lt;b&gt;(Bag. I)&lt;br /&gt;Festival Revolusioner Ataukah Festival Mega-Konsumsi &lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;font size=2&gt;&lt;b&gt;di Atas Puing?&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Beberapa saat lalu, setengah tahun lebih setelah Tsunami melanda Asia-Afrika, badai yang juga berkekuatan maha dahsyat, Katrina, memporak porandakan New Orleans, Amerika Serikat. Dan juga, persis seperti yang terjadi di Asia, sebenarnya bencana alam ini telah dideteksi beberapa saat sebelumnya. Hanya saja peringatan para ahli tersebut dikesampingkan, seperti biasa, kecuali daerah-daerah tersebut dihuni oleh mereka yang secara ekonomi tidak berada di bawah standar kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sebagai badai yang juga &lt;i&gt;telah&lt;/i&gt; terprediksikan, para ahli telah menyatakan bahwa semakin tahun badai semakin mengganas dan membesar. Kita semua telah menyaksikan bagaimana perubahan iklim terjadi tepat di depan mata kita semua, disajikan melalui berita di layar-layar televisi. Kepala Badan Penasehat Ilmu Pengetahuan Inggris berkata, Pemanasan global mungkin yang harus disalahkan atas terjadinya Katrina.Persis seperti saat Tsunami terjadi, pemanasan global satu-satunya yang disalahkan. Para apologis kapitalisme seperti Bjorn Lomborg, seorang penulis asal Denmark yang menyusun buku berjudul Skeptical Environmentalistberkata bahwa tak ada bukti manusia yang harus disalahkan atas terjadinya pemanasan global. Mungkin ia benar, bukan manusia yang harus disalahkan, tetapi sistem ekonomi-sosial-politik-teknologi yang manusia bangun, yang bernama kapitalisme, yang harus disalahkan. Tetapi lantas membiarkan manusia tak bersalah sama sekali? Oh, tentu saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Saat kapitalisme menuntut agar kita mengabaikan perubahan iklim global dan konsekuensi logis yang timbul setelahnya, demi berjalannya bisnis kapital dan perputaran roda ekonomi, kita juga terus mengatakan bahwa kita, manusia, sama sekali tidak bersalah. Dalam artikel berikut ini kita akan menelusuri tentang bagaimana manusia memegang perananpenting dalam menentukan hidupnya sendiri dan kita tak dapat sekedar menyalahkan sistem untuk segala hal, walaupun sistem itu sendiri telah mempengaruhi manusia sedemikian rupa, sehingga kericuhan yang terjadi sebelum ataupun setelah bencana tak pernah lepas dari hasil pengaruh sistem itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pasca Bencana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Seperti juga di lokasi bencana lain yang pernah terjadi, kepanikan melanda lokasi bencana, semua orang bermigrasi semampu mereka dan membawa apapun yang mereka mampu. Beberapa saat setelahnya, kota terjerumus ke dalam rengkuhan kematian, baik bagi mereka yang datang ataupun bagi mereka yang masih tinggalentah itu sengaja tinggal ataupun tertinggal. Pertanyaan yang timbul lantas adalah: siapa yang masih tertinggal? Saat semua yang memiliki kendaraan terbaik berhasil pergi; meninggalkan ribuan lainnya tak memiliki kendaraan apapun, mereka yang miskin dan cacat, sakit dan lanjut usia. Tak ada rencana evakuasi bagi mereka. Undang-undang keadaan darurat diberlakukan di Misissipi, tetapi telah terlalu terlambat bagi mereka yang tak cukup beruntung dan ditinggalkan tersia-sia. Tidak seperti di New Orleans dimana evakuasi telah dilakukan dengan cukup cepat, di Misissipi negara menerapkan hukum tersebut untuk melindungi kasino-kasino dari tangan-tangan mereka yang berhasil bertahan hidup pasca bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Bus berhenti beroperasi di New Orleans, pesawat terakhir telah lepas landas. Institusi resmi negara tidak berupaya untuk memberikan transportasi bagi mereka yang tertinggal. Tentu saja tidak, semenjak sebagian besar dari mereka yang bertahan hidup berkulit hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penjarahan Sebagai Proses Bertahan Hidup dan Pengambil Alihan Hidup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sementara itu, reportase pertama dari situasi pasca bencana Katrina adalah tentang penjarahan. Penjarahan? Orang-orang yang ditinggalkan dan dibiarkan tanpa bantuan tersebut mengumpulkan air-air mineral dari toko-toko, pakaian kering, dan makanan awetan yang mulai rusak apabila dibiarkan tak tersentuh. Orang-orang saling tolong-menolong, bahkan reporter CNN mengabarkan bahwa penjarahan tersebut adalah sesuatu yang esensial. Mereka tidak menjarah; mereka bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;CNN dan stasiun berita lainnya telah diterjunkan di tengah badai dan setelahnya, dan masih, bantuan resmi dari pemerintah tak kunjung datang. Para reporter melihat bencana tersebut dalam visi yang sama dengan para korban yang bertahan hidup: kapan dan dimana operasi penyelamatan akan hadir? Tak ada laporan resmi untuk menolong mereka yang bertahan hidup, selain sebuah rencana untuk mengevakuasi mereka yang mampu pergidari lokasi bencana. Pasukan National Guard dikirim kesana &lt;i&gt;tidak&lt;/i&gt;untuk menolong mereka yang tertinggal; mereka dikirim untuk mempertahankan sisa-sisa properti korporasi yang selamat. Kuba juga telah mendapat serangan badai yang sama parahnya dalam waktu dekat ini, tetapi angka korban yang meninggal jauh lebih sedikit karena disana, pemerintah mengevakuasi &lt;i&gt;semua &lt;/i&gt;orang. Tapi New Orleans adalah New Orleans, dimana mayoritas penduduknya adalah kulit hitam dan lebih dari sepertiganya hidup di bawah garis kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katrina telah membuka tabir perang kelas yang sebelumnya tak pernah tampak di tubuh Amerika sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Para penjarah yang mayoritas berkulit hitam mengisi tong-tong sampah logam dengan pakaian, perhiasan dan apapun yang bisa mereka dapatkan. Dalam beberapa kasus, penjarahan bahkan juga dilakukan di hadapan barisan polisi dan National Guard. Menurut laporan the Associated Press, di sebuah toko obat orang-orang mengumpulkan susu bayi, air mineral botol, soft drink, makanan kaleng, snack dan popok. Toko telah menjadi lokasi yang dapat diakses oleh semua orang. Seperti yang dikatakan oleh seorang pria dengan beberapa potong celana jeans yang disampirkan di lengannya tentang dari toko milik siapa ia mendapatkan pakaian itu, saya mendapatkan ini dari toko milik &lt;i&gt;semua orang.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Para penjarah juga mengisi tempat sampah-tempat sampah ukuran industri, penuh dengan pakaian mahal dan perhiasan dari toko-toko perhiasan mewah, lantas mengapungkannya di jalan-jalan utama dengan beberapa kayu, dengan tujuan memecah konsentrasi para anggota National Guard yang menghalangi mereka dari aksi penjarahan toko. Tentu saja, para National Guard yang bukan berasal dari New Orleans tersebut berebut untuk bisa mengantongi perhiasan, sementara para penjarah terus mengumpulkan bahan-bahan makanan, obat atau pakaian kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Mike Franklin, seorang penjarah berkata pada CNN, Kami miskin di tempat kami sendiri hidup sepanjang hidup kami, dan kini adalah kesempatan untuk mengambil alih kembali masyarakat kami yang terebut dari tangan kami selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Seorang pasangan suami istri yang menggendong sekeranjang makanan berkata juga, Ini bukan penjarahan, ini masalah bertahan hidup. Kami punya anak-anak untuk diberi makan. Kalau bukan kami, siapa yang akan memberi mereka makan? Pemerintah? Seumur hidup kami, tak pernah sekalipun pemerintah memberi kami makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Seorang komandan polisi lokal bahkan memerintahkan anak buahnya untuk membiarkan orang-orang melakukan penjarahan di toko-toko, karena ia pikir hal tersebut adalah permasalahan krusial. Kami tidak berkata bahwa kami menerima hal seperti ini. Tapi situasi memang seperti ini, kalau tidak dengan hal tersebut, bagaimana mereka akan dapat bertahan hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Dan juga menarik saat membaca laporan dari Associated Press, tentang bagaimana sekelompok orang malah bermain-main di tengah air yang menggenang setinggi pinggang sebagaimana layaknya anak-anak kecil bermain air di pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penjarahan Sebagai Bentuk Kontra-Revolusioner&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Penjarahan adalah hal yang menjadi lumrah dalam situasi pasca bencana, terlebih lagi apabila dilihat dari sudut pandang dimana lokasi bencana nyaris selalu dihuni oleh mayoritas masyarakat miskin. Bahkan dalam kasus penjarahan di Jakarta tahun 1998 sekalipun, ia menjadi tragedi yang membuka tabir perang kelas yang tersembunyi. Tetapi, bagaimanapun juga, menilik bahwa seluruh tragedi tersebut (dari hadirnya perubahan iklim global yang menimbulkan bencana alam dahsyat, hingga pengabaian mereka yang selamat, hingga penjarahan dan kerusuhan yang terjadi setelahnya) adalah bermula dari persoalan properti. Dan dalam kasus penjarahan, pertanyaan yang timbul setelahnya adalah: apakah ia hadir sebagai akhir sistem ekonomi atau ia hanya menjadi sebuah pembenaran atas hukum kepemilikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Saat seorang pria bergerak di antara puing-puing toko yang rusak akibat banjir dan penjarahan, dengan membawa 12 pasang celana, pertanyaan yang muncul adalah: apakah ia akan mendistribusikannya. Semuauntuk dirinya sendiri ataukah juga untuk para tetangganya yang bermukim di atap-atap bangunan? Persis seperti yang terjadi dalam penjarahan di Jakarta tahun 1998, kaum miskin menjarah toko-toko perhiasan, televisi dan mega-bass-audio system di tengah krisis ekonomi yang mencapai titik puncaknya. Apa guna benda-benda di tengah kerusuhan dan kebutuhan untuk bertahan hidup? Ataukah ia hanya menjadi semacam korban dari komodifikasi? Luapan keinginan karena ketidak mampuan mereka menikmati apapun yang ditawarkan oleh iklan-iklan di hari-hari mereka sebelum kerusuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Apakah memang penjarahan menempati bentuk krusial dari tatanan ekonomi baru? Ataukah penjarahan tersebut hanyalah sebuah cara lain untuk memindahkan barang, sebuah lahan pendistribusian komoditi tanpa label harga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sebuah stasiun televisi mengajukan pertanyaan kepada Sherrif di New Orleans tentang apakah benar penjarahan yang terjadi adalah bagian dari proses bertahan hidupia mengatakan bahwa memang sebagian adalah taktik bertahan hidup, tapi nyaris sebagian besar hanyalah benar-benar tindak kriminal dan mengganggu para pekerja penyelamat untuk bergerak di jalanan kotamaksudnya kanal, karena tak ada jalanan yang kering. Tentu saja, kapital hanya peduli pada properti, bukan pada hidup manusia. Dan seluruh situasi di New Orleans adalah sebuah ilustrasi yang sempurna tentang atomisasi dan separasi massa. Bukannya bekerja sama untuk saling bantu membantu, mereka melakukan apa yang selama ini telah diprogramkan di kepala mereka: mengakumulasikan produk konsumer (seperti orang gila). Maka dengan demikian, apakah benar bahwa penjarahan adalah aksi frustrasi dari orang-orang yang tertindas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Media-media massa menyatakan bahwa banyak orang-orang yang selamat kini berada di bawah bayang-bayang ketakutan bahwa diri mereka akan menjadi sasaran perampokan atau bahkan orang-orang yang mereka sayangi akan diperkosa. Bagaimana dengan hal-hal seperti ini? Penjarahan barang-barang yang sama sekali tidak diperlukan dalam proses bertahan hidup, perkosaan, penyerangan rasial terhadap kaum kulit putih, perampokan alat-alat transportasi yang membawa bantuan, pembunuhan. Ada sesuatu yang perlu dibenahi disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Orang-orang yang dirampok oleh para bajingan memiliki pola yang sama seperti bagaimana para gelandangan di kota-kotabesar sering menjadi sasaran perampokan. Psikopat dan sosiopat eksis dimana-mana dan di setiap level kehidupan. Bajingan melukai orang-orangtak peduli ia kaya, miskin, tua, muda, hitam, putih, lelaki ataupun perempuan. Bagi mereka, ini semua hanya sebuahpiknik dalam pengakumulasian properti. Kejahatan tetap akan eksis walaupun properti telah melenyap. Ia juga hadir di tengah-tengah komune dan zona otonom. Kita harus menghadapi ini semua, ini bukan sekedar kapital, spectacle atau[un peran sosial yang jadimenyebalkan. Beberapa orang juga demikian, dan ini tidak karena mereka kaya atau miskin. Dan hanya karena seseorang itu miskin, tidak lantas berarti bahwa segala yang ia lakukan dapat dibenarkan. Contoh kasus adalah saat seorang pengemudi truk diserang dan dipukuli kepalanya berulang kali hanya karena ia berkulit putih. Hal ini lebih disebabkan karena kehidupan harian di New Orleans yang memarginalkan kaum kulit hitam. Tapi sekedar menyalahkan rasisme, tidak menyelesaikan apa-apa. Kata kuncinya adalah jugabahwa sang penyerang tersebut tak pedulian, brutal dan bajingan yang bodoh dan patut dikasihani. Saran pertama kami adalah bahwa kita tidak seharusnya bagitu saja terjebak dalam jebakan yang mengatakan bahwa semua kata media massa adalah salah dan semua kata media independen itu benar. Tak ada absolutisme disini. Amat sangat berbahaya untuk segera menuduh bahwa laporan media massa tentang tindak perkosaan dan rasisme serta penjarahan komoditi itu adalah sesuatu yang berlebih-lebihan dan menekankan bahwa disana hanya ada sekedar penjarahan sebagai proses bertahan hidup. Kita harus belajar untuk melihat dari seluruh sisi, sebanyak mungkin sisi yang kita mampu dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Penjarahan masih sulit untuk disebut sebagai sebuah tindakan yang revolusioner. Ia seringkali menghancurkan nilai-guna, tetapi ia juga tak jarang mendapatkan skuadron cheerleader nihilisnya sendiri. Ingin mengubah relasi sosial? Jendela memiliki sebuah nilai guna dalam sebuah bentuk bangunan, mengapa tidak menendang nilai-tukar gedung itu sendiridengan mendudukinya sebagai sebuah teritori yang bebas, yang dapat digunakan untuk lokasi penampungan bagi mereka yang selamat dan tempat tinggal baru bagi semua orang. Penjarahan dan perampokan barang untuk lantas ditimbun di lokasi penimbunan pribadi atau hanya sekelompok orang saja, hanyalah sebuah aksi yang tak lebih dari sebuah kontinuitas mentalitas hasil kapitalisme. Penjarahan saja, itu bukan sebuah aksi revolusioner apabila ia tak dibarengi dengan pembangunan komunitas dari mereka yang selamat dan pendudukan zona-zona yang masih dapat diambil alih dan ditransformasikan menjadi zona otonom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Tanpa itu semua, kekacauan dan ketiadaan hukum negara hanya berperan sebagai sebuah bukti bahwa negara memang masih dibutuhkan. Ia hanya mendorong kontinuitasrezim hirarkis, kebodohan dan kekerasan. Para penjarah itu seharusnya membangun komunitas dari mereka yang selamat, sebuah komunitas tanpa perampok, polisi dan setumpuk komoditi yang tak berguna seperti televisi dan perhiasanmaka kami akan tunjukkan sebuah aksi yang lebih revolusioner daripada sekedar sekelompok orang beraksi penuh kekerasan menjarah toko-toko dan mengakumulasikan komoditi di sebuah tempat tersembunyi yang dijaga ketat secara eksklusif dan diperuntukkan bagi kepuasan diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Usulan Pertanyaan Bagi Semua Orang Saat Menghadapi Krisis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Mengetahui bahwa menurut laporan para ahli badai dan bencana alam masih terus berlanjut di berbagai belahan bumi, dan mengetahui juga bahwa selalu ada kemungkinan bagi kita untuk dapat bertahan hidup setelah kita mengalami bencana, maka akan ada pertanyaan serius yang patut direnungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quiz no 01:	Apakah televisi dapat digunakan untuk rakit?&lt;br /&gt;Quiz no 02:	Apakah snack dapat membuat tubuh kita kuat di saat krisis?&lt;br /&gt;Quiz no.03:	Apakah Levis atau Prada akan membuat kita kedap air?&lt;br /&gt;Quiz no.04:	Apakah kita benar-benar mengambil alih hidup kita yang tercuri?&lt;br /&gt;Quiz no.05:	Ataukah kita hanya sekedar konsumer yang tak melihat label harga?&lt;br /&gt;Quiz no.06:	Apakah hal itu adalah sebuah video game soal bencana?&lt;br /&gt;Quiz no.07:	Apakah kita adalah pemeran video game yang dimainkan oleh orang lain?&lt;br /&gt;Quiz no.08:	Siapakah pemeran sesungguhnya dalam permainan ini?&lt;br /&gt;Quiz no.09:	Siapakah yang telah tahu bahwa badai di Asia adalah pre-season game?&lt;br /&gt;Quiz no.10:	Apakah kita memang spesies yang layak untuk terus hidup?&lt;br /&gt;Quiz no.11:	Apakah bertahan hidup adalah satu-satunya level terakhir dalam game ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Akankah perang kelas ini harus berakhir dengan mayat-mayat manusia miskin berikutnya yang akan mengambang, tetapi kali ini dalam kostum high-fashion, remote dan menggenggam snack? Penjarahan yang sesungguhnya adalah sebuah penjarahan atas apapun dan dimanapun, untuk merebut kembali hidup kita yang tercuri. Sebuah penjarahan dengan konsekwensi dan perhitungan jangka panjang. Tanpa itu semua, ini memang hanya sebuah kontinuitas kapitalisme belaka, sebuah imitasi kehidupan harian pra-bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjarah, kalian butuh satu langkah sosial lagi untuk menjadi revolusioner!&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-112722836524743869?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/112722836524743869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=112722836524743869' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/112722836524743869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/112722836524743869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2005/09/anarki-dan-penjarahan-pasca-bencana-di.html' title=''/><author><name>hypatia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14395516969596435214</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-112489164354377467</id><published>2005-08-24T20:54:00.000+07:00</published><updated>2005-09-20T22:08:02.360+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size=2&gt;KAMPANYE ANTI-NARKOBA DAN PERMASALAHAN KOMUNITAS (BAG. II)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Komunitas Penderita&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Narkoba adalah komoditi, sebuah komoditi adalah sebuah item yang didesain dan diiklankan untuk dibeli dan dijual. Komoditi adalah apa yang membuat tatanan masyarakat saat ini terus berjalan, dari mobil dan ponsel hingga senjata dan narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Seperti juga komoditi lainnya, narkoba berdiri menghalangi jalan menuju potensi pembebasan manusia. Ia bukanlah masalah alterasi pikiran dengan substansi kimiawi, melainkan ia adalah masalah konsumsi sensasi yang diproduksi oleh sistem alienasi. Ia mendistorsikan hasrat kita sebagaimana gaya hidup selebritis dan orang-orang kaya telah mendistorsikan hasrat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Bagi para ekonomis, narkoba adalah sekedar komoditi lain yang perlu dimanajemeni. Sialnya, di mata publik tidak ada yang aneh tentang kondisi dimana para pemuda penganggur miskin menjual narkoba dan para eksekutif muda mendesain iklan di gedung perkantoran; saat mereka yang miskin dianggap melawan hukum, sesungguhnya kedua sosok tersebut telah menjadi bagian integral dari sistem ini. Keduanya telah mendistribusikan lebih dan lebih banyak lagi komoditi yang dalam prosesnya menghancurkan hidup banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Narkoba telah membuat sistem ekonomi untuk terus berkembang dengan caranya sendiri, tetapi kekacauan yang potensial dapat ditimbulkan darinya tetap harus dibatasi. Melegalkan narkoba hanya akan membuat betapa kapitalisme terlalu rakus. Maka jawaban atas problem pengiklanan narkoba adalah bagaimana caranya menciptakannya menjadi komoditi yang berhasil, dengan menciptakan histeria anti-narkoba. Histeria anti-narkoba ini menawarkan sebuah pelarian dari kenyataan, yang justru takberbeda dengan apa yang dilakukan oleh para pengguna narkoba. Seperti yang ditawarkan oleh agama-agama, penekanannya adalah pada perasaan takut (takut akan dosa pada kasus agama, takut pada represifitas polisi pada kasus narkoba). Orang-orang yang hidupnya hancur oleh kemiskinan ekonomis dan psikologis dan berusaha melarikan diri dengan menggunakan narkoba dengan mudah dicap sebagai orang-orang yang frustrasi dan disorientasi. Memang sangat mudah untuk mengatakan demikian apabila kita tidak menyadari betapa menyedihkannya hidup di bawah sistem sekarang ini, dengan narkoba ataupun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Pada intinya, narkoba dan histeria anti-narkoba hadir dari sebuah ketakutan untuk tidak menjadi apa yang didefinisikan oleh publik terhadap diri kita, ketakutan untuk tidak menjadi kaya dan terkenal. Dengan cara ini, kebencian terhadap diri sendiri atas kegagalannya menjadi sosok yang dianggap sempurna oleh publik telah bertransformasi menjadi kebencian pada siapapun juga yang gagal mengikuti konformitas aturan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Melampaui represifitas polisi, histeria anti-narkoba juga dilakukan oleh sebagian besar organisator komunitas dari LSM. Para manajer dari gerakan anti-narkoba dapat melihat bagaimana narkoba dapat dihentikan dengan sebuah konsensus yang terorganisir dalam sebuah area yang diteror oleh maraknya pemakaian narkoba, tetapi semenjak para manajer tersebut hanya dapat beraksi dalam terminologi imaji atau pencitraan, maka menciptakan sebuah imaji tentang area yang menolak narkoba. Pengorganisiran komunitas adalah sebuah spesialitas kecil yang secara ideal cocok untuk menciptakan imaji seperti di atas. Para organisatornya mendapat posisi mereka dengan menyimbolkan (merepresentasikan) sebuah komunitas (aspirasi setiap orang). Mereka tampil sebagai sebuah badan yang penuh pemahaman dan pengorbanan saat aktifitas mereka yang sesungguhnya biasanya masih terikat oleh birokrasi dan manuver-manuver legal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Orisinilnya, metode pengorganisiran komunitas adalah untuk dapat beroperasi di luar sistem, menolak ketidak adilan sistem dan para pengontrolnya dengan merepresentasikan sebuah komunitasyang diharapkan akan dapat eksis. Tetapi toh yang terjadi adalah sebaliknya. Para organisator mendorong anggota komunitas untuk mampu berbicara menyuarakan aspirasinya, tetapi tidak untuk memprotes mengenai kerja dan konsumsi yang menjadi akar masalahnya. Mereka dapat membuat sebuah komunitas berbaris ke gedung DPRD untuk meneriakkan tak lebih dari agenda penyempurnaan sistemsistem yang sebenarnya telah menciptakan penderitaan itu sendiri dan tak mungkin lagi dapat diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Gerakan anti-narkoba juga kini telah membuat para organisator komunitas berfungsi lebih jauh, membuat mereka menjadi salesman yang menjual ide-ide dominan pada publik. Kerusuhan-kerusuhan akhir dekade 1990-an sangat sufisien bagi para penguasa untuk membenarkan bahwa publik membutuhkan representatif yang lebih kuat untuk mengontrol dan menyalurkan kemarahannya. Tokoh-tokoh protes era Orde Baru telah memberikan bagiannya sendiri pada sistem. Iwan Fals, salah satu tokohgerakan anti-narkoba di samping Slank, adalah satu contoh kasus yang paling dekat dalam mengikuti alur ini. Ia kini memang dapat berteriak lantang tentang gerakan anti-narkoba atas nama individu dan spesialisasinya dalam soalan representatif. Ia kini tampak tak menginginkan apapun selain penghentian irasionalitas narkoba (yang telah merenggut nyawa anaknya, Galang Rambu Anarki) dan membiarkan kontinuitas penindasan rasional terhadap mereka yang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Karena mereka berusaha untuk merepresentasikan sebuah komunitas yang eksis, mereka selalu berada di balik radikalisme yang terlepas dari komunitas. Saat setiap orang telah terisolasi sebagai pekerja dan konsumer dalam masyarakat ini, tak akan pernah ada yang dinamakan konsensus positif. Yang ada hanyalah segelintir mereka yang ingin melarikan diri. Inilah satu-satunya komunitas yang eksis saat ini. Dan satu-satunya persamaan yang dimiliki adalah proteksi, ketakutan akan hasil yang lebih buruk apabila mereka benar-benar melarikan diri. Penduduk yang berada dalam komunitas dewasa ini hanya dapat berpikir, bagaimana membuat daerah kita tetap baik sehingga tidak terlihat semiskin para penduduk di daerah sana. Bahasa yang digunakan tetap sama, bagaimana kita dapat tetap nyaman dengan hidup kita dan di saat yang sama dapat memenuhi tanggung jawab pada pekerjaan, boss dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Dalam poin ini, melindungi komunitas artinya tak lebih dari memapankan keterlenaan seperti yang dilakukan oleh televisi. Untuk melakukan ini, baik polisi ataupun organisator komunitas harus dapat menyuntikkan kesadaran hukum pada publik, yang pada akhirnya adalah soal bagaimana ketertundukkan dapat dilakukan dengan sukarela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Serikat-serikat pekerja yang mengklaim mereka memihak komunitas pekerja, juga memiliki peran yang serupa, merepresentasikan pekerja hanya sejauh para pekerja menikmati pekerjaannya. Mereka mengusahakan demokrasi pekerjayang artinya tak lain daripada sebuah hak untuk mencari kenikmatan saat dieksploitasi. Serikat pekerja juga tak akan segan-segan memihak perusahaan saat tempat kerja mulai terancam oleh radikalisme pekerjanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Saat organisator komunitas melayani kepentingan pembenaran represi polisi atas pengguna narkoba, kita dapat mengekspos mereka dengan memperlihatkan betapa omong kosongnya saat mereka mengklaim mengorganisir komunitas. Bahkan para organisator komunitas yang terlibat dalam pemberontakan melawan kapitalisme juga hanya menuntut integrasi kembali pada kapitalisme. Terlibatnya LSM dalam pemberontakan publik di Porsea misalnya, jelas hanya sebuah usaha untuk mengintegrasikan perjuangan kembali ke dalam sistem. Para organisator tidak berusaha menutup pabrik dan menyingkirkannya dari tanah Porsea, melainkan hanya mendorong agar tercipta lahan pekerjaan bagi penduduk lokal agar kemarahan pendudukatas pabrik dapat terobati. Inilah error yang dialami oleh banyak organisator komunitas. Mereka seharunya menuntut lebih dari sekedar integrasi dan kebaikan sistem. Mereka harus menuntut lebih jauh atau tak usah sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menyerang Dunia Konsumer&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Satu bagian dari gerakan anti-narkoba adalah bahwa ia dapat berguna untuk mendiskreditkan bintang-bintang yang telah direkrut ke dalam gerakan kampanye yang cukup masif ini. Saat Slank menggunakan videonya untuk kampanye anti-narkoba, sebagian besar penggemarnya yang merupakan generasi pengguna narkoba mulai meninggalkannya. Setiap gerakan demi pembebasan total memang sudah seharusnya menolak untuk bergerak bersama dengan gerakan anti-narkoba. Mereka yang bersedih hati karena kehilangan komunitascukup hanya berkabung untuk hilangnya kesempatan mereka untuk menatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kekerasan yang diperlukan bagi resistansi terhadap orde saat ini eksis dalam bentuk resistansi terhadap berbagai bentuk komoditi (yang terkadang dilakukan sebagai sebuah resistansi yang dilakukan tanpa kesadaran akan sistem komoditi secara umum). Apa yang perlu dilakukan adalah membuat kemarahan ini koheren, untuk mencegahnya menjadi sebuah komoditi yang diperjual belikan oleh berbagai geng, baik geng jalanan ataupun geng polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Komunitas muslim radikal di beberapa kota Indonesia memulai karirnya dengan menyerang para pengedar narkoba di area mereka. Dan dengan demikian kelompok-kelompok muslim tersebut menjadi masalah baru sendiri. Dalam sebuah komunitas yang aktual, komunitas yang menolaktatanan masyarakat saat ini, harus menolak juga organisator komunitas yang hadir bersebelahan dengan polisi. Pilihan yang tersedia adalah ruang yang diorganisir oleh para spesialis ataukah pembukaan ruang yang diorganisir oleh diri mereka sendiri. Bukan sebuah pilihan palsu seperti Coca Cola atau Pepsi, Siemens atau Nokia, sekolah atau bekerja, pilihan-pilihan yang tak membawa kita kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Satu-satunya komunitas aktif yang paling mungkin adalah sebuah komunitas dari mereka-mereka yang menolak kerja ataupun komoditinya dengan membangun self-sufisiensi komunitas. Komunitas yang seharusnya diorganisir oleh diri mereka sendiri, bukan klub yang diorganisir oleh polisi. Ini adalah komunitas yang menolak komoditi sebagai bagian terpenting dalam tujuan hidup mereka, dari toko kecantikan hingga pengedar narkoba dalam basis dasar penolakan komodifikasi hidup. Komunitas ini hanya dapat eksis hanya apabila hukum kerja upahan dan komoditi yang mengalienasi digantikan dengan sebuah tatanan masyarakat yang dioperasikan oleh dewan-dewan ketetanggaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kami tidak menulis ini untuk mempertahankan kepentingan proletariat melawan serangan crusader anti-narkoba. Kami tidak melihat adanya bagian dari tatanan masyarakat saat ini yang perlu dipertahankan dan dilindungi. Proletariat tak memiliki kepentingan apapun dengan berjalannya tatanan masyarakat seperti ini, tak ada yang dapat diambil manfaatnya. Kami hanya mendukung segala upaya untuk mengeliminasi kolonisasi atas sebuah area, dari pengedar narkoba hingga organisator komunitas LSM hingga korporasi. Gol kami adalah mengekspos kebohongan yang dilancarkan untuk menghambat jalan menuju kemungkinan terjadinya insureksi: ide-ide komoditi yang ditawarkan tatanan masyarakat saat ini yang seringkali oleh kita dianggap perlu untuk diterima. Untuk alasan ini jugalah maka gerakan anti-narkoba menjadi sangat berbahaya, seberbahaya narkoba itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Ini bukan soalan bagaimana mencari sisi baik dari tatanan masyarakat saat ini, saat sudah tak ada apa-apa lagi yang tersisa di dalamnya. Dan gerakan-gerakan seperti gerakan anti-narkoba adalah sebuah usaha dari sistem ini untuk mencegah publik mengekspresikan kekecewaannya terhadap tatanan masyarakat yang berlaku. Sebagaimana juga pengorganisiran komunitas oleh LSM yang membangun ide-ide palsu untuk mencegah timbulnya oposisi yang terorganisir yang dapat menyerang tatanan masyarakat. Dan penolakan ini hanya mampu hadir apabila kita mulai mengambil alih kontrol atas diri kita sendiri. Tak ada kerja sosial yang mampu melakukannya untuk kita, juga tak ada LSM yang mampu, kecuali kita sendiri yang mengontrol komunitas kita sendiri. Bahkan kita juga tidak bisa membiarkan kaum radikal yang banyak berkoar-koar di sekitar kita untuk mengatur bagaimana kita harus beroperasi, walaupun hal termudah adalah dengan mengikuti saja apa yang dikatakan oleh mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-112489164354377467?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/112489164354377467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=112489164354377467' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/112489164354377467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/112489164354377467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2005/08/kampanye-anti-narkoba-dan-permasalahan_24.html' title=''/><author><name>hypatia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14395516969596435214</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-112365113650434684</id><published>2005-08-10T12:18:00.000+07:00</published><updated>2005-08-10T12:18:56.520+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size=2&gt;KAMPANYE ANTI-NARKOBA DAN PERMASALAHAN KOMUNITAS (BAG. I):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Palsu Melawan Narkoba&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;font face="'Times New Roman'"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Tanggal 26 Juni lalu, dianggap oleh banyak pihak sebagai hati anti-narkoba internasional. Di beberapa kota besar di Indonesia sendiri, kita akan dapat melihat betapa banyak spanduk atau selebaran yang mengusung isu anti-narkoba ini.Di televisi kita dapat melihat grup Slank bicara seperti ustad kacangan pada para penggemarnya yang tinggal di kawasan-kawasan kumuh kota-kota besar. Suara-suara tertawa sinis yang dikumandangkan oleh para preman di kawasan tersebut memang menunjukkan kepalsuan skema anti-narkoba ini, walau mereka juga tidak menunjukkan darimana semua kekacauan ini bermula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kunci utama dari skema anti-narkoba ini adalah iklan. Bersamaan dengan gencarnya kampanye anti-narkoba yang mempertontonkan para pengguna narkoba sebagai sosok setan yang hidup di luar kehidupan normal, sebenarnya hal tersebut juga justru telah mengkampanyekan betapa narkoba adalah sebuah produk yang sangat sangat menarik. Saat di sekolah-sekolah kampanye juga gencar serta memberi selamat pada mereka yang bisa mengatakan tidak pada narkoba, para siswa sama sekali tidak diberi pilihan selain hanya duduk diam dan mengangguk. Imaji penolakan narkoba menjadi sesuatu yang terpenting disini. Dan dimana-mana imaji sama saja, ia tak pernah menjadi bagian substansial dari kehidupan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Seperti senjata ataupun film Star Wars, narkoba adalah komoditi yang sangat ideal dalam krisis kapitalisme. Ini bukanlah sekedar sesuatu yang klise bahwa dengan membeli narkoba telah membuat para konsumernya menjadi semakin miskin dan terpaksa harus bekerja. Bukan sama sekali. Dalam krisis ekonomi dewasa ini, sistem tak mampu lagi menjual cukup produk dengan nilai-nilai yang positif. Saat narkoba, alkohol dan senjata telah menggantikan komputer dan mesin cuci, tatanan masyarakat saat ini telah kembali terjerumus ke dalam komoditi negatif, komoditi yang berfungsi benar-benar hanya untuk menyerang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Secara keseluruhannya, sistem saat ini telah mengembangkan sebuah imaji untuk menutupi situasi yang sesungguhnya terjadi. Di mata para penguasa di Indonesia, masalah narkobaadalah masalah masyarakat yang harus disimbolkan sebagai sesuatu yang berada di luar nilai masyarakat. Bukannya dipaksa membeli janji-janji akan kehidupan yang lebih baik, kini kita dipaksa membeli kemarahan yang seharusnya dapat kita manfaatkan untuk menyerang sistem ini sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Narkoba dan gerakan anti-narkoba telah diperjual belikan dengan cara yang sama. Masing-masing dijual sebagai sebuah alat pertahanan yang saling bertentangan dan melawan penderitaan hidup harian di bawah sistem yang menyedihkan ini.Kebutuhan akan pertahanan ini jelas selalu bertambah. Penderitaan ekonomi ataupun psikologis yang dihasilkan dari kerja dan alienasi harian telah membuat panggungnya sendiri di setiap akhir pekan, dimana hiburan satu-satunya yang eksis bagi semua orang adalah dengan cara melarikan diri dari kehidupan nyata (contoh terbaik adalah kata pesta yang selalu didefinisikan sebagai event pengkonsumsian narkoba atau alkohol).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kecanduan adalah sebuah sistem yang membuat penyakit menjadi semakin memburuk; pecandu narkoba akan dapat dengan mudah terus menaikkan dosisnya hingga saat kematian tiba.Tetapi mari kita generalisir dulu masalah candu ini. Beberapa orang memang kecanduan narkoba, beberapa lainnya kecanduan agama, tentara yang kecanduan perang dan beberapa tenaga administratif kecanduan represi polisi.Hal ini dapat dilihat dalam program-program pembersihan komunitas dari narkoba, sekali urusan narkoba membuat sebuah lokasi daerah menjadi area yang tak aman, solusi yang ditawarkan oleh gerakan anti-narkoba pada penduduk adalah keberadaan polisitapi siapa yang akan melindungi penduduk dari kehidupan menyedihkan yang mengharuskan mereka semua bekerja sehari penuh hanya sekedar untuk mampu bertahan hidup? Dengan kondisi seperti ini, narkoba tetap menjadi sesuatu yang dihasratiharga-harga bahan pokok terus menerus meningkat, korupsi semakin kuat, represifitas negara mengetat dan dengan demikian, narkoba akan kembali menjadi produk yang dicari.Semakin meningkatnya kampanye anti-narkoba selalu bersamaan dengan semakin meningkatnya konsumsi narkoba. Saat penangkapan dan penggerebekan pengedar narkoba kecil ditangkapi, harga narkoba semakin tinggi, ini membuat profit yang didapat oleh para pengedar raksasa semakin membengkak karena para pecandu bagaimanapun juga tetap butuh untuk terus mengkonsumsi entah penggerebekan sedang gencar atau tidak. Para pengedartersebut banyak yang mengatakan bahwa tak jarang pengedar narkoba adalah polisi sendiri. Hal itu memang dapat dibenarkan tetapi statemen tersebut juga sama sekali tidak membawa kita ke akar masalah sebenarnya: sistem kapitalisme lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Masalah-masalah seperti ini bukanlah soal bagaimana budaya modern telah terpecah, melainkan ini adalah sebuah usaha pelarian yang gagal dari budaya modern. Dislokasi sosial semakin meningkat dengan meningkatnya kampanye kembali pada nilai-nilai Timur, sejak nilai Timur di Indonesia adalah berarti ketertundukan dan ketaatan pada perintah yang dalam prosesnya selalu mereduksi nilai individu.Nilai Timur ini bukan sesuatu yang berharga untuk dipertahankan sejak ia memang memfokuskan diri pada rasa takut, paranoia akan sesuatu yang berada di luar dirinya. Persis seperti kampanye anti-narkoba yang tak pernah dapat menghentikan distribusi narkoba, hal ini hanya menyebarkan rasa takut atas segala sesuatu yang berhubungan dengan narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Keberhasilan utama dari kampanye anti-narkoba adalah saat hal tersebut dapat menekan setiap konsep yang dapat benar-benar mengubah situasi.Dengan menyebarkan kebohongan besar, maka mereka berharap dapat menutupi kebohongan-kebohongan kecil dalam masyarakat. Saat dalam bahasa birokratis para pelaku kampanye berkata bahwa adalah bohong seorang pemuda penganggur miskin dapat menjadi kaya dengan cara menjual narkoba, mereka menawarkan solusi dalam bentuk kontrol dirisebuah kata ganti bagi partisipasi pasif ke dalam dunia kerja, agama dan pengorganisiran komunitas, membuat para pemuda miskin menjadi kader-kader terbaik bagi produksi tenaga kerja yang penurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Solusi-solusi yang ditawarkan oleh para pakar tak pernah beranjak kemana-mana. Saat Indonesia telah gagal untuk mempertahankan imaji tentang peningkatan kemakmuran dengan peningkatan konsumsi (antara lain dengan dipopulerkannya sistem kredit), ia hanya dapat mempertahankan posisinya dengan menciptakan imaji perang melawan kemiskinan. Dan selalu saja publik dijauhkan dari argumen sesungguhnya yang berada di balik maraknya penggunaan narkoba: para pengedar tuh kayakmonster dan nggak ada yang tahu kenapa mereka tega melakukan hal seperti itu. (&lt;i&gt;interview &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Indosiar, 8 Juli 2005&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Penderitaan yang diproduksi sendiri oleh masyarakat sangat sangat memprihatinkan sehingga tak dapat lagi terucapkan. Para organisator gerakan anti-narkoba seperti organisasi yang menyebut diri mereka Granat tak pernah sama sekali berkata mengenai abolisi kemiskinan yang menyebabkan banyak pemuda miskin beralih pada bisnis narkoba; masalah narkoba ditutupi dengan ilusi kemandirian dan hidup positif, sama seperti bagaimana buruknya sistem dan kondisi kerja ditutupi dengan ilusi pertumbuhan ekonomi. Mabuk atas hidup seperti yang dibicarakan oleh para sufi bukan lagi sebuah pilihan bagi banyak orang, sejak nyaris sebagian besar orang telah mengalami overdosis hidup dan mencari cara melarikan diri darinya; di saat seperti ini orang-orang pemuja just say no to drugstidak pernah dapat menawarkan solusi apapun, apalagi soal bagaimana mengubah hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Relasi Polisi dan Penjahat yang Saling Menguntungkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sebagaimana propaganda anti-narkoba semakin gencar, para pengedar narkoba juga semakin gencar memperlihatkan bagaimana caranya mengatasi kemiskinan dan penderitaan hidup harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Perang yang seharusnya saling mematikan antara pengedar narkoba dan kekuatan gerakan anti-narkoba kini justru memperlihatkan bagaimana mereka saling menguntungkan dan memperkuat diri. Bukan saja bahwa propaganda anti-narkoba telah memberikan alasan bagi polisi dan organisasi semacam Granat untuk menyerang para pemuda-pemudi yang tak mau mengikuti aturan main sistem dominan (kebanyakan dari mereka adalah pengedar dan pengguna kecil), tetapi hal itu juga justru membuat mereka beraliansi dengan para pengedar raksasa.Para pengedar raksasa membutuhkan polisi dan gerakan anti-narkoba untuk membuat harga tetap tinggi dan polisi membutuhkan pengedar untuk tetap membuat publik merasa takut akan kekuasaan dominan.Sudah menjadi rahasia umum bahwa para pengedar raksasa justru dapat terus beroperasi dengan memanfaatkan kekuatan polisi untuk mempertahankan monopoli mereka melawan kompetitor bisnis narkoba lainnya. Narkoba adalah komoditi yang paling berbahayabagi setiap gerakan pembebasan karena ia berdiri sebagai sebuah oposisi palsu bagi masyarakat. Saat pemuda-pemudi miskin tidak mampu memasuki pasar komoditi yang normal, mereka menemukan satu-satunya pasar komoditi yang menerima mereka adalah narkoba.Para pengedar kecil adalah para pemberontak palsu yang menyedihkan, karena saat mereka mengikuti aturan main masyarakat kapitalisme lanjut, masyarakat sendiri yang bersikap menolak mereka dan mencapnya sebagai musuh terbesar masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Memperhatikan itu semua, maka seluruh usaha untuk mengakselerasikan perang polisi melawan narkoba jelas sangat tidak efektif untuk menghentikan penggunaan narkoba.Menyadari kegagalannya, gerakan anti-narkoba menciptakan imaji penindasan yang lebih besar lagi. Taktik mulaidiubah dari sekedar memanfaatkan kekuatan polisi secara virtual kepada taktik penggerebekan para pengedar (kecil) tanpa bantuan polisi. (Walau pada kenyataannya secara operasional mereka tetap bersama dengan polisi, tapi penampakan polisi secara virtualmulai dihindari). Dengan ini penanaman rasa takut dan saling curiga di antara sesama anggota masyarakat menjadi semakin kuat. Dan ini adalah program yang sebenarnya menguntungkan bagi sistem ini sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Seekor Kera&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Walaupun tak mampu menghentikan penggunaan narkoba, produksi imaji akan sesosok musuh yang mematikan tetap menjadi sebuah metoda yang penting untuk mempertahankan tatanan masyarakat saat ini tetap berada di tempatnya.Para ilmuwan telah menggunakan metoda yang brutal untuk mengilustrasikan problem narkoba sebagai sesosok musuh yang tanpa ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Dalam eksperimen di laboratorium seperti yang pernah diberitakan oleh majalah Intisari, seekor kera ditempatkan dalam sebuah kurungan dan diberi sejumlah pilihan tombol untuk ditekan. Setiap tombol yang ditekan memproduksi stimulasi yang berbeda-beda.Satu tombol memberi makanan, tombol lain air, tombol ketiga alkohol dan keempat kokain. Diperhatikan bagaimana kera tersebut mencoba semua tombol hingga ia menekan tombol keempat. Sekali ia mendapatkan kokain, ia terus menerus menekan tombol tersebut. Awalnya hingga kera tersebut menjadi kecanduan, kemudian hingga pada taraf mengabaikan makanan, dan pada akhirnya terus menekan tombol tersebut hingga ia mengalami overdosis dan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Konklusi yang disusun oleh para ilmuwan yang melakukan eksperimen ini adalah tentang bagaimana narkoba menciptakan sebuah hasrat irasional bagi siapapun yang mencobanya.Irasionalitas narkoba menjadi jelas bagi para ilmuwan tersebut; sang kera telah membunuh dirinya sendiri, dan ia tak mampu lagi dijadikan obyek bagi eksperimen lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Tanpa bermaksud mengesampingkan isu kekejaman terhadap binatang seperti yang diangkat oleh para aktifis pembebasan binatang, para ilmuwan tersebut sebenarnya telah memberikan pada sang kera sebuah posisi yang jelas-jelas mirip dengan yang dialami oleh manusia normal. Tapi tidak seperti para ilmuwan tersebut, kami melihat destruksi diri sang kera telah menjelaskan sesuatu tentang binatang yang berada dalam kurungan.Tidak mengherankanbagi kami, bahwa bagi kera tersebut yang telah diputuskan secara paksa secara keseluruhan dari aktifitas dan habitat alaminya, akan dengan sukarela mengkonsumsi produk kimiawi untuk dapat melarikan diri dari kondisi yang dialaminya, walaupun hal itu harus dibayar dengan kematian.Sejak kera tersebut memang binatang-binatang laboratorium, yang telah dideterminasikan nasibnya akan berakhir dengan kematian tragis di kurungan dan berbagai macam eksperimen, kami anggap sangat rasional apabila ia memilih untuk berkutat dengan simulasi kenikmatan saat ia harus menunggu kematian hadir; setidaknya ia tidak mati dalam kesadaran akan penderitaan yang mengenaskan.Juga tak mengherankan bagi kami melihat bagaimana para ilmuwan yang melakukan eksperimen tersebut tetap tak mampu memahami mengapa manusia yang telah mengerti efek bahaya narkoba tetap mengkonsumsinya. Mereka tak memahami bahwa manusia modern telah berada dalam sebuah kurungan kasat mata dalam proyek domestikasi perumahan, kerja, produksi mobil, pabrik dan kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Saat segala pilihan hidup yang disediakan, dari program televisi hingga simulasi komunikasi dengan internet dan mode busana telah memperlihatkan pada kita semua, betapa perilaku kita terhadap kehidupan telah tereduksi menjadi sekedar konsumsi komoditi, sebuah situasi yang berkutat pada simulasi hidup itu sendiri. Seperti kera di laboratorium, rasionalitas dalam membeli komoditi sama rasionalnya dengan keinginan untuk tetap eksis dan merasa berarti.Juga seperti kokain yang dikonsumsi oleh sang kera, komoditi tersebut tak pernah benar-benar mampu menawarkan pelarian yang sesungguhnya. Secara konstan kita disuguhi imaji-imaji komoditi yang mampu membuat kita menjadi bebas, merasa bebas.Tentu saja, faktanya dengan mengandalkan imaji komoditi kita tak pernah bisa lepas dari eksistensi kita yang terkurung, yang juga menciptakan komoditi sosial seperti narkoba dan gerakan anti-narkoba&lt;/div&gt;.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-112365113650434684?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/112365113650434684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=112365113650434684' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/112365113650434684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/112365113650434684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2005/08/kampanye-anti-narkoba-dan-permasalahan.html' title=''/><author><name>hypatia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14395516969596435214</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-112260609993420718</id><published>2005-07-29T10:01:00.000+07:00</published><updated>2005-07-29T10:07:59.866+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;b&gt;MEMAHAMI WAKTU YANG SPEKTAKULAR&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/anarkrisna/0942299795.01._AA240_SCLZZZZZZZ_.jpg" title="" border="0"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Review Buku The Society of the Spectacle karya Guy Debord&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Selama beberapa tahun di awal, buku karya Guy Debord Society of the Spectacle hanya beredar dalam bahasa Perancis saja, tahun 1980an baru beredar edisi bahasa Inggris yang diterbitkan tanpa pernah diedit sama sekali oleh Guy Debord atau siapapun yang memang bergelut dengan Situationist International (SI) di jamannya. Barulah pada tahun 1994 lalu, terbit buku ini dalam versi bahasa Inggris yang telah mendapat approval dari salah seorang mantan anggota SI sendiri: Donald Nicholson-Smith. Yang ironisnya justru buku ini terbit bersamaan dengan tahun dimana Guy Debord mengakhiri hidupnya sendiri.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Terbit pertama kali di Perancis pada tahun 1967, buku ini nyaris tak menarik perhatian sama sekali selain di beberapa bidang yang hingga kini banyak mendapat pengaruh dari ide-ide di dalamnya filsafat, studi media, teori sosial, ilmu-ilmu sosial politik. Sesuatu yang sebenarnya tak berbeda dengan di Indonesia, buku ini hanya mendapat perhatian di kalangan mereka yang bergelut dengan filsafat. Sangat jarang buku yang merangkul juga prinsip-prinsip dan kritik seni avant-garde serta politik radikal, mendapat tempatnya di kalangan seniman avant-garde ataupun juga para aktifis politis radikal.Padahal dalam buku ini, Debord berintensi untuk menyediakan sebuah kritik yang komprehensif atas manifestasi sosial dan politik dalam bentuk produksi modern, dan analisa yang ia tawarkan di tahun 1967 masih sangat komprehensif hingga saat ini.Bahkan filsuf yang dirayakan bak-selebritis di abad terakhir ini, Jean Baudrillard, mengajukan teori simulacra, sebuah teori yang juga berangkat dari buku karya Debord ini.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Nomor-nomor yang berada dalam kurung yang tersebar dalam artikel ini, menunjukkan nomor tesis dalam buku Debord ini.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Dibagi menjadi 9 chapter, dan dipecah dalam 221 tesis, Society of the Spectacle cenderung menuju pada sebuah peringkasan atas ambiguitas-ambiguitas puitis atas berbagai polemik di tataran diskursus analisis.Disitulah, bagaimanapun juga, tak ada justifikasi atas radikalismenya. Hegel mendapat tempat di kalangan radikal, Marx apalagi, begitupun dengan Lenin dan Rosa Luxemburg. Sementara Debord mengajukan sesuatu yang justru mengundang debat, seperti menyediakan sebuah teori yang belum selesai, Society of the Spectalce dianggap banyak pihak sebagai sebuah pekerjaan yang diselesaikan terlalu cepat, ia menjadi sebuah manifesto seni yang membutuhkan basis historis dan teoritis. Tetapi para kritikusnya sebenarnya sering lupa, bahwa provokasi Debord justru memberi analisa baru dimana segala analisa radikal sebelumnya telah gagal dalam menganalisa masyarakat (pasca)modern. Dalam chapter pertamanya, Separation Perfected, menubuhi pernyataan yang tegas, yang mana menjadi salah satu poin yang banyak mempengaruhi pemikiran para teoris setelahnya, yang menjadi tesis pertama yang menyatakan bahwa:&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;the whole of life of those societies in which modern conditions of production prevail presents itself as an immense accumulation of spectacles. All that was once directly lived has become mere representation.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sebuah pernyataan yang telah memapankan keputusan Debord, dimana tesis sisanya sebenarnya cenderung berusaha untuk memperjelas pernyataan tadi, dan berelaborasi pada kebutuhan akan sebuah resistansi revolusioner praksis.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sejauh ini, hasil karya terkenal Debord ini, berada di antara sebuah manifesto provokatif dan sebuah analisis ilmiah dari politik modern. Ia tetap berada di antara buku-buku yang sering dikutip tetapi jarang dibaca secara menyeluruh. Kata spectacle telah menjadi begitu populer (di Barat, tidak di Indonesia), yang menyatakan sebuah implikasi visual dari representasi dan politik pecah belah. Duplikasi yang terdistorsikan dari realitas akan menemukan dirinya pada sebuah lahan dimana segala sesuatu memiliki spectacular nature, dan dengannya juga kita akan dapat melihat bagaimana cyberspace ternyata telah cocok dengan kerangka kerja yang menjadi kritik para situationist.Society of the Spectacle dapat digunakan untuk melacak jejak dari pengembangan spectacle dalam berbagai kontradiksinya, mendemonstrasikan sebuah kebutuhan bagi spectacle untuk mereplika dirinya sendiri dengan cara yang parasitistik, dan menawarkan sebuah ide bahwa hanya dengan resistansi yang tak terjebak dalam spectacle-lah maka kekuatan dominan dewasa ini dapat runtuh.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Mengapresiasi buku ini berarti kita tak dapat melepaskan diri dari apa yang dilakukan oleh Debord dalam tataran praksisnya. Ia adalah salah satu pendiri organisasi Situationist International, sebuah grup yang terdiri dari para teoris-teoris sosial, seniman-seniman avant-garde, para intelektual Left-Bank yang hadir dari berbagai gerakan seni Eropa. SI dan para pengikut alurnya mengambil akar sejarahnya yang dimulai dari gerakan Futurist, Dada dan Surrealis dalam konteks dimana mereka meleburkan batas antara seni dan kehidupan, serta bertujuan untuk mentransformasikan secara konstan pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari.Kohesi dan persuasi analisa politik yang dibawa ke depan oleh Debord, bagaimanapun juga, telah membuat organisasi SI sendiri terlepas dari relevansinya dengan gerakan-gerakan seni sebelumnya. Society of the Spectacle, merepresentasikan aspek-aspek teori situationist yang mendeskripsikan dengan tepat bagaimana setiap orde sosial diadakan dengan perawatan sistem ekonomi global, yang mengekspansikan pengaruhnya melalui manipulasi representasional. Tak lagi tergantung pada kekuatan fisik ataupun ilmu pengetahuan, status quo dari relasi sosial, mulai dimediasikan melalui imaji [4]. Spectacle itu sendiri, baik penyebab ataupun hasil akhirnya adalah berkutat dari bentukan-bentukan organisasi modern.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Dengan perilaku yang sama dengan apa yang ditulis oleh Marx saat ia menulis Capital dengan memberikan sebuah detail yang kompleks dari mekanisasi kapitalisme, Debord-pun demikian saat ia mendeskripsikan intrikasi-intrikasi inkarnasi modern, yang berarti bahwa sistem inipun mengambil alih kontrol atas seluruh realitas kehidupan harian. Spectacle, menurut argumen Debord, adalah sebuah fase dimana kapitalisme telah memproklamirkan dominasinya atas setiap imajidan menyatakan bahwa seluruh hidup manusia hanyalah sekedar penampakan (pencitraan/pengimajian). [10]. Baik dalam subyek maupun referensinya, kita dapat melihat bagaimana Debord mendapatkan alur yang sama dengan Herbert Marcuse dalam Counter-Revolution and Revolt, dimana Marcuse mendeskripsikan motif-motif dan metoda-metoda di balik toleransi represifkapitalisme, dan kemampuannya untuk merangkul setiap resistansi, memapankan kekuasaan, serta memberikan sebuah imaji tentang semakin membaiknya kualitas hidup keseharian.Kritik kultur global Debord kemudian juga menemukan gaungnya pada seorang teoris riset Norwegia, Johan Galtung, yang mengembangkan sebuah analisa tentang imperialisme kultural. Adalah fokus SI terhadap peran imaji dan representasi, yang membuat kontribusi mereka pada pemahaman politis menjadi unik dan masih relevan hingga saat ini.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Spectacle sendiri, secara konstan akan terus berubah, mereorganisir dirinya sendiri dan mengembangbiakkan dirinya sendiri juga melalui ekspresi modern dari bentuk produksi. Ia telah menjadi chief productdari masyarakat dewasa ini [15]; buktinya perhatikan bagaimana segala aspek produksi saat ini hanyalah berkutat pada pembentukan imaji, seseorang dapat menjadi revolusioner hanya dengan mengenakan kaos bergambar Che Guevara ataupun mengenakan imaji-imaji revolusioner lainnya. Atau misalnya, seseorang muslimah dapat dianggap beriman, cukup dengan mengenakan jilbab yang menjadi imaji keberimanan seorang muslimah.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Revolusi borjuis yang membawa bentuk negara modern telah mendapat kredit sebagai pelopor basis sosio-politik dari spectacle modern [87]. Dan dalam chapter terpanjangnya, The Proletariat as Subject and Representation, mengikuti perkembangan negara modern baik dalam bentuk pasar bebas dan bentuk kapitalisme negara, serta keduanya berusaha mendeskripsikan bagaimana pengembangan ini menakankan pada transformasi relasi sosial yang nyata menjadi sebuah representasi atas relasi sosial.Dalam chapter berikutnya juga diterangkan bagaimana representasi spectacle atas sejarah, waktu, lingkungan dan kultur.Kritik Debord ini juga sangat efisien untuk mendemonstrasikan bahwa spectacle ini bukanlah sekedar imaji-imaji yang tampak di layar televisi kita. Spectacle adalah sesuatu yang jauh lebih besar dari peralatan elektronik yang juga berkontribusi dalam membuat kita menjadi sebuah penerima pasif; melainkan ia adalah sebuah manipulasi total yang dibentuk berdasarkan sejarah, waktu dan kelas, yang pada hakikatnya hanya berkontribusi pada penguatan spectacle itu sendiri.Seperti juga disiplinnya Foucault, spectacle adalah sebuah entitas yang otonom, tak lagi melayani kepentingan kekuasaan lain, tetapi sebuah entitas yang secara selektif memilih siapa yang akan diuntungkan darinya. Konsekwensinya, resistansi akan menjadi bertambah sulit dan perjuangan untuk itu jelas akan menemui banyak jalan buntu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Di satu sisi, Debord mengkritisi para Marxis atas ideologi mereka yang terlalu baku, dan keyakinan kebanyakan mereka ata perlunya negara sosialis yang merepresentasikan proletariat. Di sisi lain, Debord juga mengkritisi para anarkis atas utopianisme mereka dan kebodohan mereka dalam melihat perlunya dasar historis yang transformasional. Walaupun apa yang ditawarkan oleh Debord sepertinya tak kalah abstraknya, seperti:&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Consciousness of desire and the desire for consciousness together and indissolubly constitute that project which in its negative form has as its goal the abolition of classes and the direct possession by the workers of every aspect of their activity.&lt;/i&gt; [53]&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Dalam chapter Negation an Consumption, Debord menggaris bawahi pendekatan para situationist, dalam memahami bahwa teori-teori kritis adalah sesuatu yang dialektikal, sebuah gaya menegasi [204]disini kita juga menemukan sebuah deskripsi tentang apa yang kemudian sering disebut sebagai sebuah taktik modern para situationist: d&amp;eacute;tournement. Strategi ini, dalam tataran teoritis, adalah sebuah manifestasi dari sebuah logika mapan tentang hubungan antara spectacle dan apa yang diciptakannya. Dalam tataran praksis, d&amp;eacute;tournement ini menemukan ekspresinya dalam komik strip yang diganti semua balon katanya dengan slogan-slogan revolusioner, utopis ataupun grafiti yang tak bermakna dalam. Ia juga terekspresikan dalam penggantian pesan-pesan dalam billboard. Ini semua adalah bagian dari subversi modern yang memanfaatkan baik teks maupun grafis yang diciptakan oleh spectacle modern. Dalam poin ini, merunut pada Debord adalah untuk memberikan sebuah efek kepemilikan dialog oleh komunitas, dan relasi yang penuh permainan pada waktu, dimana hasil kerja para penyair dan seniman benar-benar direpresentasikan. [187]. Kritik teoritis yang menyeluruhini, tentu saja tak akan dapat menemukan kekuatannya tanpa praktek sosial yang menyeluruh, sebuah poin yang seringkali diabaikan oleh para filsuf modern dimana-mana.Para situationist, bagaimanapun juga, adalah sekelompok intelektual, dan bukanlah para pekerjasebuah fakta dimana Debord sendiri tidak ragu-ragu mengakuinya. Walau demikian, ia dengan tegas meyakini bahwa hanya dengan kelas tersebutlah makaseluruh (sistem) kelas dapat diakhiri, sebagai satu-satunya harapan untuk mengembalikan semua umat manusia kepada hidup yang sesungguhnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Mengesampingkan status intelektual yang mendominasi mereka, SI tak dapat disangkal juga telah memiliki pengaruh praksis yang cukup besar. Salah satu anggota mereka juga perlu diberi kredit karena telah menulis pamflet legendaris On the Poverty of the Student Life dan bersama para perusuh kampus menginfiltrasi serikat mahasiswa Strasbourg pada tahun 1966; sesuatu yang seringkali dianggap sebagai salah satu katalis bagi even penting Mei 68. Dalam insureksi tersebut SI juga memainkan perannya, mendorong terjadinya kemungkinan untuk melakukan pemogokan massal dalam masanya; menciptakan sebuah komune modern.Lantas, penting juga dilihat mengenai terbentuknya kelompok-kelompok geng-geng jalanan yang sangat politis, yang menggabungkan antara kelompok seniman intelektual radikal bersama para preman jalanan yang penuh kekerasanthe Kings Mob, Black Mask dan Up Against The Wall Motherfuckers. Mereka juga dianggap sebagai pemberi pengaruh bagi kelompok anarkis teroris Inggris yang mendapatkan hari kebesarannya di tahun 1970-an bernama Angry Brigade.Juga tak kalah penting adalah kemunculan kultur punk rock di akhir dekade 1970-an yang hadir (pada era tersebut) bukan sekedar sebagai sebuah revolusi musikal, melainkan juga sebuah kritik sosial yang menyeluruh.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Digerogoti oleh perang internal (dimana Debord, dengan perilaku yang mirip dengan Andre Breton, secara sepihak memecat nyaris setiap anggota SI selama kurang lebih 15 tahun, dengan sebuah kritik yang tajam setiap kalinya) yang berarti juga mendeterminasikan bahwa hal tersebut akan mengalienasikan para simpatisan revolusionernya yang sangat potensial, SI membubarkan dirinya pada tahun 1972. Ini memang agak ironis, karena buku karya Debord yang dipublikasikan tahun 1994 ini diterjemahkan dengan tepat oleh Donald Nicholson-Smith, seorang anggota SI yang ditarik keanggotaannya oleh Debord pada tahun 1967 bersama koleganya, Christopher Gray.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Saat Debord mempublikasikan buku lanjutannya Comments on Society of the Spectacle nyaris 20 tahun sejak buku pertamanya dipublikasikan di Perancis, ia membuat beberapa komentar tentang hal-hal penting yang terjadi saat ini, memberikan kaitannya dengan tesis orisinilnya yang nyaris tak diberi revisi sama sekali.Tetapi itu memang sebenarnya demikian, karena toh tanpa revisipun Society of the Spectacle masih akurat dengan kondisi modern saat ini. Di mana pada tahun 1967 spectacle mengambil dua bentuk dasarnyabentuk yang menyebar dan yang terkonsentrasi, mengambil dasarnya dari bentuk struktur sosial blok Timur dan blok Barat dalam era Perang Dinginsekarang kita telah memasuki era spectacle yang terintegrasi, sesuatu yang justru membawa semakin minim harapan untuk bebas dan semakin kuatnya kontrol yang terjadi. Spectacle kini telah menggantikan nyaris seluruh realitas, membuat nyaris seluruh relasi sosial termanipulasi dan seluruh kritik sosial terkooptasi, atau terekuperasi apabila meminjam bahasa yang digunakan oleh SI. Hidup yang semakin tergesa, pereduksian seluruh hidup ke area digital yang semakin cepat dan ditambah percepatan komunikasi, semuanya menjadi contoh bagaimana kritik Debord masih koheren hingga saat ini.Dalam abad ini juga dimana Disney, Baudrillard, dan rekuperasi total radikalisme menjadi semacam Prada-Meinhof, membuat mau tak mau kita perlu untuk memfamiliarkan diri kita dengan kritik para situationist.Tantangan saat ini yang masih tersisa adalah bagaimana kita menyembuhkan kritik para situationist dari sekedar spectacle itu sendiri. Tidak dengan menunggu, tetapi dengan menggabungkan kritik teoritis dengan perjuangan praksis dimana hasrat akan kesadaran dan kebebasan menjadi elemen terpentingnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Catatan penting: Situationist International telah mempublikasikan seluruh materialnya tanpa hak cipta samasekali. Mereka selalu memberikan catatan penting bahwa material mereka &lt;i&gt;freely reproduced, translated, or adapted, without even indicating their origin&lt;/i&gt;."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-112260609993420718?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/112260609993420718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=112260609993420718' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/112260609993420718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/112260609993420718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2005/07/memahami-waktu-yang-spektakular-review.html' title=''/><author><name>hypatia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14395516969596435214</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-111327069294674100</id><published>2005-04-12T08:51:00.000+07:00</published><updated>2005-07-19T20:14:39.520+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;b&gt;SEBUAH REALITY SHOW MODERN&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;font size=2&gt;Kritik Atas Kemiskinan Visi Aktifis Aksi Demonstrasi Damai&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;&lt;div align="justify"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sekali lagi, semenjak subsidi bagi BBM dikurangi oleh pemerintah, ratusan orang di berbagai kotaterutama kota-kota besardi Indonesia, berbaris di ruas-ruas jalan utama untuk menyuarakan ketidak setujuan mereka. Ini sebuah kesempatan bagi semua orang untuk melatih otot kaki, paru-paru dan ego kita, kemudian pulang kembali ke rumah. Tak ada yang akan berubah dan memang tak seorangpun yang terkejut dengan pernyataan tadi. Seperti biasa juga, semua berjalan seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu, orang-orang, ekosistem dan juga hewan di berbagai belahan dunia, dari Aceh hingga Irak dan juga tempat lainnya, harus terus membayar kegagalan kita semua atas miskinnya imajinasi dan keberanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Bangsa Perancis memiliki sebuah nama untuk hal seperti di atas: spectacle. Kembali ke tahun 1960-an, Guy Debord dan gerombolan teoris dan aktifis yang menyebut diri mereka Situationist International, mendeskripsikan kultur kapitalisme lanjut &lt;i&gt;(late-capitalism) &lt;/i&gt;sebagai Society of The Spectacle, sebuah Masyarakat Dunia Tontonan. Jauh sebelum iklan-iklan televisi mempromosikan tontonan reality show dan ring-tones untuk ponsel-ponsel canggih, para Situationist telah menunjukkan bahaya dimana rata-rata kita semua kini menjalani hidup sehari-hari yang telah tereduksi pada sebuah pola relasi menonton dan membeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Saat ini, kultur konsumer telah bergerak ke titik yang sangat ekstrim, melampaui impian-impian para pemikir politis yang paling surreal sekalipun. Hanya beberapa fiksi seperti 1984-nya George Orwell dan Brave New World-nya Aldous Huxley yang mampu memprediksikan dengan cukup tepat apa yang akan kita hadapi di masa datang (atau telah terjadi di masa kini?), yang menyisakan kita pilihanuntuk menerimanya begitu saja ataukah terus berusaha menemukan cara untuk dapat melarikan diri dari sistem ini dengan cukup efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Dalam sebuah Masyarakat Tontonan, tak pernah ada bisnis lain selain bisnis pertunjukan. Imaji adalah segala-galanya. Bahkan mereka yang secara aktif berpartisipasi dalam even-even besar di tengah kehidupan harian kita, tetap saja kembali menjadi barisanpenonton atas hidup mereka sendiri. Seluruh aksi, termasuk dan khususnya aksi-aksi politis, telah menjadi sekedar pertunjukan, tontonan. Resistansi yang kreatif sekalipun dengan cepat terserap ke dalam proses inkorporasi Dunia Tontonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Terdengar familiar? Sudah seharusnya. Para remaja yang bermasalah menulis di weblog, bukan lagi dalam diary-diary privatnya, saat para mahasiswanya mengolok-olok ide-ide subversif dalam setiap obrolan kampusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kita pasti telah hidup dalam sebuah kultur yang demokratis, saat orang-orang bahkan diperbolehkan membaca literatur subversif atau mengenakan kaos merah berlogo palu-arit di mall-mall. Para aktifis juga diperbolehkan berdemonstrasi di jalan-jalan kota, tanpa ancaman penculikan seperti pada era rezim Orba.Apakah kita semua ingat bagaimana para pengamat politik di televisi berbicara mengenai demonstrasi? Mereka berkata bahwa demonstrasi-demonstrasi tentu saja diperbolehkan untuk digelar, selama mereka tidak mengganggu arus lalu lintas atau melakukan tindak perusakan propertisebuah demonstrasi damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Semenjak demonstrasi damai diijinkan oleh negara, maka sejak itu pula taktik tersebut tak lagi mampu mengguncang sistem dalam tingkat yang paling signifikan.Bukannya menantang Tontonan Demokratis, protes-protes kita telah terinkorporasi ke dalam sebuah Tontonan baru, membuat Dunia Tontonan semakin kuat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.Semakin spektakuler demonstrasi yang kita organisir, semakin meriah dan cerah para peserta demonstrasi, semakin mudah bagi publik untuk melihat para demonstran sebagai sebuah peserta casting reality show yang langsung ditayangkan di muka mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Inilah sebuah pengulangan. Sebuah demonstrasi damai yang besar, yang telah menjadi sangat popular, kini bukan hanya kehilangan efektifitasnya, mereka bahkan membuat segala sesuatu menjadi semakin buruk. Dengan menyalurkan waktu, energi, uang dan kreatifitasnya, banyak para aktifis bergabung dalam sebuah demonstrasi damai merepresentasikan tantangan yang simbolis (bukan aktual) terhadap dominasi korporasi beserta kekuatan militer yang mendukungnya.Lebih jauh lagi, demonstrasi-demonstrasi seperti itu memberikan sebuah sensasibaik itu terhadap para aktifisnya maupun publik secara umumsebuah perasaan nyaman untuk terus melanjutkan hidup di bawah orde pemerintahan yang eksis.Saat membaca laporan aksi di koran keesokan harinya, publik merasa nyaman, bahwa pada akhirnya mereka hidup di bawah sebuah orde pemerintah yang lebih demokratis.Sementara para aktifis pulang ke rumah dengan sebuah perasaan lega, bahwa pada akhirnya mereka telah melakukan sesuatu. Pada akhirnya, bagaimana sebuah tontonan pemberontakan didemonstrasikantelah menjadi tujuan akhir, bukannya bagaimana kita berusaha mencapai tujuan akhir dengan taktik demonstrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Saat kita mulai dengan premis bahwa kita tak dapat melakukan perubahan, apakah kita juga mempertanyakan: mengapa tidak bisa melakukannya? Saat kita memilih taktik yang spektakular, bukan yang substansial, apakah lantas kita perlu terkejut saat apa yang kita lakukan terinkorporasi ke dalam sebuah Tontonan? Apakah benar bahwa yang kita butuhkan adalah sebuah liputan media yangsuperfisial, yang mempertontonkan bagaimana beberapa orang tidak setuju dengan sebuah kebijakan tertentu dari pemerintah?Apakah kita benar-benar berani untuk bermimpi lebih ekstrim lagi? Beranikah kita mengambil resiko dengan benar-benar berusaha menentang sistem atas nama kita sendiri, bukan sekedar memperlihatkan bahwa kita tak setuju kebijakan pemerintah? Apa yang mungkin dapat kita lakukan untuk membuat sebuah perubahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Pertama-tama, kita perlu untuk memahami perbedaan antara aksi langsung dan aksi tak langsung. Sudah sekian lama, terlalu banyak aktifis yang salah mengerti tentang aksi langsung. Sebagai sekedar catatan saja, taktik yang menghasilkan efek langsung bagi beberapa elemen dari problem yang dihadapi, termasuk ke dalam aksi langsung.Sementara, aksi tak langsung berusaha mencari rute melingkar dan memutar, seperti misalnya berusaha mencari cara untuk mengubah pola pikir masyarakat dengan harapan bahwa suatu saat mereka akan mengubah perilakunya dan pada gilirannya akan dapat mengubah kebijakan-kebijakan nasional.Aksi pemogokan, boikot, sabotase, pencurian, demonstrasi yang secara substansial mengganggu kelancaran perputaran roda ekonomi, termasuk dalam aksi langsung. Pengedaran petisi, mengirimkan surat pada editor media massa, pendidikan komuniti dan demonstrasi yang mengekspresikan ketidakpuasannya secara simbolik, termasuk dalam aksi tak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sejarah menunjukkan bahwa gerakan perubahan sosial selalu mendapatkan suksesnya saat kedua taktik tersebut tampil bersamaan dan terkoordinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Seorang demonstran pasifis (pecinta damai) merasa bahwa march dan rally damai yang melibatkan banyak publik dalam barisannya sangat efektif selama masa penggulingan rezim Suharto, akan memiliki efek yang sama terhadap opini publik hari ini. Ia telah lupa bahwa waktu telah berubah; ia telah lupa bahwa publik tak lagi terkejut dengan hadirnya ratusan orang di jalanan membawa bendera dan spanduk; ia telah lupa, bahwa baik bagi partisipan maupun pengamatnya, demonstrasi damai di jalanan tak beda jauh dengan sebuah parade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Bahkan sebagian besar dari kita telah lupa betapa aksi langsung menjadi sebuah elemen yang esensial dari banyak protes yang efektif di masa lalu. Aksi damai yang dipimpin oleh Gandhi di India (yang menjadi banyak panutan bagi para aktifis pasifis), berhasil membebaskan India dari belenggu kolonial, karena aksinya bertransformasi menjadi sebuah pemogokan umum dan pemboikotan yang melumpuhkan sistem perekonomian kolonial. Aksi tersebut juga berbarengan dengan terjadinya penjarahan besar-besaran di toko-toko kolonial di kota-kota besar India.Atau dengan kata lain, aksi damai dari Gandhi dan para pendukungnya telah menohok sistem ekonomi secara langsung, yang bahkan juga kemudian berhasil melumpuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Ini sangat kontras dengan apa yang terjadi dalam demonstrasi damai dewasa ini. Ia hanya mengulang-ulang pesan-pesan lama pada partisipannya sendiri. Even protes disusun dengan sangat mendetail, dengan memberi penekanan pada gaya protes, bukannya pada substansi. Para aktifisnya menyimbolkan penentangan, tetapi tak pernah benar-benar memberontak. Para demonstran dan polisi bukan tak jarang saling bekerja sama sehingga membuat sistem yang oleh para aktifis diklaim harus diganti, menjadi tampak baik hati dan kooperatif. Dan sementara mereka bekerja sama, sistem ekonomi yang mendasari seluruh masalah sosial dewasa ini tetap tenang tak terusik sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Poin dari beberapa skenario dramatis dewasa ini (seperti aksi penolakan kenaikan harga BBM di berbagai kota yang dipelopori oleh mahasiswa) jelas tidak mengkonstitusikan aksi langsung. Aksi langsung memang tidak perlu tampak dramatis, dan dalam Dunia Tontonan dewasa ini, aksi menjadi sangat efektif saat ia tidak menjadikan dirinya bagian dari tontonan. Aksi langsung menolak kenaikan harga BBM, secara definitif, jelas mengarah pada lokasi-lokasi dimana sumber BBM dikuasai oleh negara.Merampok pompa bensin, membagi-bagikannya secara gratis pada seluruh kendaraan yang lewat seperti yang dilakukan oleh segerombolan preman di Bandung empat tahun lalu, jelas adalah sebuah bentuk aksi langsung; sementara berteriak Tolak kenaikan harga BBM! di jalanan yang terik di siang bolong, jelas bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kalau kalian tidak mau harga BBM mahal, ambil alih sumber BBM. Ambil yang kalian butuhkan, distribusikan sisanya secara gratis. Tak ada yang spektakular dalam ide tersebut.&lt;/div&gt;&lt;/font&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-111327069294674100?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/111327069294674100/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=111327069294674100' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/111327069294674100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/111327069294674100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2005/04/sebuah-reality-show-modern-kritik-atas.html' title=''/><author><name>hypatia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14395516969596435214</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-111318599996970843</id><published>2005-04-11T09:19:00.000+07:00</published><updated>2005-04-11T09:19:59.970+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size=2&gt;KONFLIK AMBALAT: SIAPAPUN YANG MENANG, KITA TETAP PIHAK YANG KALAH&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;font size=2&gt;Dimana jiwa nasionalisme kamu, ingat kita lahir, makan, tidur, berlindung, bekerja di Nusantara Indonesia! [...] GO TO HELL MALAYSIA! [...] Saya mendukung bumi hanguskan Malaysia, dan teman-teman seperjuangan, mari kita bangkit!&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;Dari sebuah blog seorang nasionalis muda Indonesia&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;font size=2&gt;Secara alamiah, orang kebanyakan tidak menginginkan terjadinya perang: baik itudi Russia ataupun di inggris, bahkan juga di Jerman. Semua ini dapat dimengerti. Tapi, bagaimanapun juga, para pemimpin negaralah yang menentukan kebijakan dan adalah sesuatu yang sangat mudah menggiring rakyatnya untuk melakukan sesuatu, apakah itu dalamsebuah demokrasi, ataupun kediktatoran fasis, ataukah dalam parlemen, ataupun juga di bawah kediktatoran komunis. Dengan atau tanpa hak berpendapat, rakyat dapat selalu dibawa untuk menjadi taruhan para pemimpin. Itu semua hal yang mudah. Apa yang perlu kalian lakukan adalah mengatakan pada mereka bahwa mereka sedang diserang, dan menyudutkan mereka yang mengusahakan perdamaian sebagai orang-orang yang kurang patriotik, serta mengekspos bahaya yang sedang mengancam negara. Hal ini berlangsung di setiap negara manapun juga.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;Hermann Goering, dalam persidangan Nuremberg.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;div align="justify"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Keputusan Malaysia untuk memenangkan sebuah konsesi atas eksploitasi minyak bumi dan perawatannya di area Ambalat bagi korporasi Royal Dutch Shell dan korporasi lainnya bulan Februari lalu menimbulkan respon yang reaktif dari kelas penguasa di Indonesia dan juga para suporternya. Keputusan tersebut mengindikasikan bahwa Malaysia hendak menegaskan bahwa Ambalat adalah bagian dari teritorinya, sementara Indonesia juga demikian.Respon yang muncul di Indonesia banyak membenarkan dirinya dengan alasan trauma yang didapat Indonesia setelah belum lama berlalu International Court of Justice memutuskan pulau Sipadan dan Ligitan menjadi milik Malaysia setelah melalui proses yang kompleks dan panjang. Setidaknya, ini yang menjadi pusat perhatian para nasionalis di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Di banyak kota di Indonesia, muncul posko-posko perekrutan sukarelawan untuk diterjunkan ke Ambalat dalam rangka kampanye Ganyang Malaysia!; di internet belasan blogspot para nasionalis menyerukan aksi pengganyangan terhadap Malaysia; guru-guru sekolah memanas-manasi para muridnya untuk mengobarkan kebencian terhadap Malaysia; dll., dsb. Beberapa juga mengkaitkannya dengan kasus perlakuan warga Malaysia terhadap para TKI ilegal disana untuk mengompori agar terjadi konflik yang lebih parah. Patriotisme dikobarkan habis-habisan. Dan lucunya, hanya segelintir respon yang muncul dari pihak yang anti-nasionalis-anti-patriotis, atau bahkan anarkis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Lantas pertanyaannya adalah, apakah patriotisme itu? Apakah benar bahwa kita &lt;i&gt;harus&lt;/i&gt; mencintai tempat kita lahir, makan, tidur berlindung, kerjaseperti kata banyak para patriotis dan nasionalis di blogosphere? Dengan sebuah tempat dimana kita merasa selalu terlindung, dihargai, dibebaskan? Apabila benar itu patriotisme, maka hanya akan ada sedikit orang Indonesia yang memilih jadi patriotis, karena tempat tinggalnya tidak menawarkan itu semua. Apakah kita merasa terlindungi dan aman di tempat kita tinggal saat ini? Apakah kita cukup dihargai atas pilihan hidup dan mimpi-mimpi kita saat ini? Apakah kita merasa diri kita terbebaskan untuk meraih mimpi-mimpi kita yang paling fantastis? Kita semua telah tahu jawabannya. Jadi apa itu patriotisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Leo Tolstoy, penulis Russia, mendefinisikan patriotisme sebagai sebuah prinsip yang membenarkan pelatihan untuk mencetak para pembunuh; yang memang dalam faktanya nyaris seluruh fokus devisa negara dihabiskan untuk berkutatdengan program ini daripada untuk keperluan lain seperti membangun rumah, biaya kesehatan, dan sejenisnya. Dari pendapatan negara di Indonesia saja, sebesar Rp. 349,299.5 milyar pada tahun 2004, Departemen Pertahanan dan Keamanan telah menghabiskan Rp. 21,422.5 milyar; sementara untuk keperluan lain tak ada yang melebihi angka Rp. 6,717.0 milyar (dana untuk kesehatan) selain Rp. 19,191.6 milyar (untuk pendidikan) dan Rp. 11,998.5 milyar (untuk perumahan dan prasarananya). Sementara untuk tahun 2005 ini, Departemen Hankam juga mendapat kenaikan rencana anggaran sebesar 28% lebih tinggi dari tahun 2004, sementara untuk keperluan subsidi mendapat kenaikan paling tinggi sebesar 26,3% sementara sisanya paling tinggi hanya mendapat kenaikan sebesar 12% (&lt;i&gt;Laporan APBN 2004&lt;/i&gt;). Dapat disimpulkan bahwa bagi Indonesia saja anggaran belanja terbesar adalah untuk keperluan militer.Bisa dibayangkan apa saja yang bisa dipenuhi dengan uang sebesar anggaran militer tadi apabila digunakan untuk keperluan lain seperti makan, perumahan, dan kesehatan, misalnya. Walaupun tentu, toh perang adalah konsekwensi logis dari adanya negara dan kebijakan sistem ekonomi neo-liberalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Memangnya bagaimana sebuah negara bisa berperang dengan negara lainnya? Tentu saja, apabila setiap perang dikaji lebih jauh, kemarahan patriotis selalu dibangkitkan dengan kampanye yang intens dan terus menerus selama berbulan-bulan lamanya. Darimana rasa kemarahan orang-orang Amerika saat mereka memutuskan untuk memilih George W. Bush Jr. dalam pemilu yang lalu, agar hasrat balas dendam mereka terhadap Afghanistan, Irak dan komuniti muslim terpenuhi? Ingat bagaimana emosi publik dipermainkan dengan adanya tragedi 11 September di menara kembar WTC.Sementara kepentingan apa yang ada di balik sebuah perang antar negara sebagai konsekwensi logis dari kebijakan sistem ekonomi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Perhatikan perang besar di awal milenium baru ini meletus di Afghanistan. Bush dengan lantang menyatakan bahwa ini adalah sebuah era baru dalam lembaran Perang Melawan Terorisme, dan menuduh Taliban menyembunyikan dan mendanai seluruh kegiatan gerombolan Al-Qaidah. Tapi apabila kita mau melihat sedikit ke belakang, kita akan menemukan sebuah kenyataan yang meragukan. Awal tahun 2001, sebuah negosiasi antara pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Taliban menemui jalan buntu.Dick Cheney, seorang perwakilan bagi pengembangan industri minyak AS berusaha untuk merayu dan bahkan memaksa dan pada akhirnya menuntut agar Taliban menerima ide tentang jalur pipa minyak/gasyang dikontrol oleh kepentingan bisnis ASakan dibangun segera melalui Afghanistan menuju ladang minyak Asia Tengah yang juga akan segera dibangun. Saat Taliban menolak hal tersebut, Departemen Pertahanan AS mulai menyusun rencana untuk menggulingkan pemerintahan Taliban dan mendudukan penguasa-penguasa baru yang tunduk kepada segala keputusan AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Bagi Washington, masalah utama dengan Taliban bukanlah soal pengabaian hak asasi manusia seperti yang selama ini terjadi disana. Ini semua adalah soal ladang minyak. Dick Cheney sendiri berkata, "Saya tidak dapat membayangkan saat kita mendapatkan sebuah wilayah regional yang secara langsung menjadi daerah strategis sebagaimana lautan Kaspia." Inilah masalah utama dari penyerbuan AS ke Afghanistan, untuk membangun jalur minyak/gas dari laut Kaspia dan daratan Asia Tengah yang kaya akan bahan bakar minyak bumi. (&lt;i&gt;John Pilger, November 2001&lt;/i&gt;).Perseteruan antara AS dan Taliban telah mulai sebelum tragedi 11 September terjadi. Dan tragedi yang menyerang publik Amerika, jelas menjadi sebuah pemicu untuk melancarkan serangan militer demi tunduknya Afghanistan pada proyek minyak dan perekonomianAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Perang Dunia II meletus akibat keterpurukan ekonomi Jerman yang harus membayar sekian banyak hutang pada negara-negara Sekutu akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Kebanggaan satu-satunya ras unggul, Arya, adalah propaganda untuk mendorong bangkitnya rasa patriotik bangsa Jerman untuk dapat dengan sukarela mendukung seluruh program perang Adolf Hitler untuk menguasai seluruh Eropa (bahkan juga Afrika) dan menempatkan Jerman pada posisi yang terbalik: bangsa-bangsa lain yang apabila Jerman menang perang, akan mendukung seluruh perekonomian Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kini kembali pada kasus perebutan area Ambalat, apa isu pertama yang membuat Malaysia menyoroti Ambalat? Potensi keberadaan sumur-sumur minyak dalam jumlah yang besar. Tentu saja.Beberapa blogosphere yang mengedarkan kampanye Ganyang Malaysia juga banyak yang mengkaitkannya dengan pemotongan subsidi BBM yang mengakibatkan seluruh harga melonjak naik. Sebuah bukti lagi tentang keimpotenan intelejensi.Seandainyapun Indonesia memiliki area Ambalat dan mengeksploitasi sumber daya alamnya, tentu Indonesia juga akan menyerahkan proyek tersebut kepada korporasi-korporasi minyak seperti Royal Dutch Shell, Exxon Mobile Oil, Freeport McMoran, atau juga Unocal. Bagi korporas-korporasi tersebut tak ada bedanya apakah Ambalat menjadi milik Indonesia ataukah menjadi bagian dari kerajaan Malaysia.Tak akan ada sekalipun pertanyaan kepada penduduk yang bermukim Ambalat tentang pendapat mereka mengenai konflik ini, sekalipun ada, tentu ia tak akan terhitung di tengah-tengah kompetisi ekonomi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila sudah begini, pertanyaan yang muncul adalah: apakah kita masih butuh nasionalisme dan jiwa patriotisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Seandainya perang berlangsung, siapakah yang akan dikirimkan dan mati demi perebutan Ambalat? Orang miskin. Siapakah yang tidak akan mendapatkan apa-apa seandainya Ambalat berhasil direbut oleh Indonesia (atau Malaysia)? Orang miskin. Orang miskin yang dimaksud adalah mereka yang miskin di kedua negara, Indonesia maupun Malaysia. Sebuah negosiasi damai antara Indonesia dan Malaysia juga tak akan dapat mampu berbuat banyak untuk menaikkan derajat hidup kaum proletarian yang hidup di kedua negara. Perebutan Ambalat adalah pertikaian proyek ladang minyak bagi kelas dominan. Kini mengapa tidak kita biarkan mereka sendiri yang mengurus masalahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Dalam kasus seperti ini, tak akan ada solusi jangka pendek untuk menyelesaikannya.Rezim kerajaan Malaysia hanya akan dapat runtuh atas tekanan kontradiksi yang dihasilkan oleh proletariat Malaysia sendiri sementara pemerintah Indonesia akan menjadi semakin terpenjara oleh logika program neo-liberalisme yang diterima dan diterapkannya. Seluruh kompromi publik yang diberikan pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla beserta seluruh jajarannya, yang dipersatukan dari kepingan-kepingan ketidakpuasan massa untuk disalurkan menjadi kebencian terhadap Malaysia, akan terkumpul dan terakumulasi menjadi sebuah kekuatan kontra-revolusioner yang besar dalam satu cara atau cara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kekuatan revolusioner Indonesia yang seharusnya lahir dari keterpurukan ekonomi dan kondisi sosial yang menindas, harus mengetahui benar bahwa mereka tidak memiliki kaitan apapun lagi dengan siapapun yang berada di kursi kekuasaan negara serta takmenaruh respek lagi terhadap kekuatan kelas dominan yang mapan, yang mendominasi seluruh orde saat ini, siapapun mereka. Pertanyaan-pertanyaan tentang kebutuhan sumber daya alam, terlalu serius untuk diserahkan begitu saja pada negara, yaitu, presiden beserta kabinetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Secara keseluruhan, adalah bahwa kami mengatakan bagaimana proletariat di Indonesia dan juga Malaysia harus mempertanyakan dan menyerang pemerintahnya sendiri, untuk kemudian menempatkan kekuatannya pada kekuatan-kekuatan Dewan-Dewan non-hirarkis yang diorganisir oleh proletariat sendiri, sebelum fasisme mencengkeram kesadaran publik terlalu kuat&lt;/div&gt;.&lt;/font&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-111318599996970843?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/111318599996970843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=111318599996970843' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/111318599996970843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/111318599996970843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2005/04/konflik-ambalat-siapapun-y_111318599996970843.html' title=''/><author><name>hypatia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14395516969596435214</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-111293734940289156</id><published>2005-04-08T12:15:00.000+07:00</published><updated>2005-04-08T12:18:26.286+07:00</updated><title type='text'>PREDIKSI ORWELL DAN PASIFITAS MASYARAKAT MODERN</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size=2&gt;PREDIKSI ORWELL DAN PASIFITAS MASYARAKAT MODERN&lt;br /&gt;Resensi buku 1984 karya George Orwell&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/perangkelas/3548234100.03.LZZZZZZZ.jpg" title="" border="0"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;font face="'Times New Roman'"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Di awal tahun ini, salah satu buku yang menarik, diterjemahkan dan dipublikasikan ke dalam bahasa Indonesia: 1984, karya George Orwell.Diterjemahkan oleh Landung Simatupang dan dipublikasikan oleh penerbit Bentang, karya Orwell ini tampak jauh lebih buruk daripada versi bahasa Inggrisnya, karena kehilangan substansi yang digarap oleh Orwell (terutama dalam penerjemahan beberapa istilah yang membuatnya menjadi tidak relevan, seperti Big Brother menjadi Bung Besar, Ingsoc menjadi Sosing, atau yang lebih parah: thought dalam bahasa Inggris berbeda dengan think dalam struktur waktu, dan dalam Newspeak, thought diganti dengan think, kata dasar; seperti dalam crimethought menjadi crimethink. Sementara dalam bahasa Indonesia tak dikenal struktur waktu yang mengubah sebuah kata, pikir tetap saja pikir baik itu masa lalu ataupun masa kini atau kata dasarnya. Ini tentu membuat makna Newspeak sebagai bahasa reduksi menjadi kabur dan tak relevan). How pathetic you are, Landung Simatupang! Tapi walau bagaimanapun juga, sesungguhnya ini adalah salah satu buku yang kami rekomendasikan. Maka apabila mungkin, carilah edisi bahasa Inggrisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;War is Peace&lt;br /&gt;Ignorance is Strenght&lt;br /&gt;Freedom is Slavery&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan slogan-slogan tersebut, 1984 melejit dalam dunia literer sebagai sebuah novel anti-utopian di pertengahan abad ke 20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Dipublikasikan pertama kali pada tahun 1949, visi yang gelap tentang masa depan yang segera hadir di dunia, menjadi sebuah peringatan melawan bahayanya sebuah pemerintahan totalitarian yang didukung oleh teknologi tinggi. Orwell menggambarkan sebuah dunia yang diluluh lantakkan oleh perang nuklir dan kemiskinan, dimana Barat jatuh ke bawah kaki pemerintahan diktator totaliter sosialis: Big Brother. Pemerintahan yang dijalankan bukan oleh seorang yang tampak secara visual, tetapi oleh sebuah perasaan ketidakamanan publik akibat pengawasan yang terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Ingsoc Party, partai politik yang berkuasa, telah secara sempurna menggunakan teknologi tinggi untuk memonitor setiap gerak hidup populasi di bawahnya, membuatnya tunduk dengan pengawasan, propaganda dan cuci otak. Tetapi di samping itu semua, proyeknya yang paling brilian adalah dengan diterapkannya sebuah dekonstruksi aktual bahasa Inggris ke dalam Newspeak, bahasa yang digunakan oleh Partai penguasa.Setiap edisi dari kamus Newspeak, menampilkan semakin sedikit kata daripada sebelumnya. Dengan melenyapkan arti dan nuansa dari bahasa sehari-hari, pemerintah berharap akan dapat mengikis pemikiran-pemikiran anti-sosial sebelum ia dapat merasuki pikiran seseorang. Tanpa adanya kata-kata dan bahasa untuk mengekspresikan revolusi, maka revolusi tak akan dapat eksis. Bagi mereka yang tetap bertahan untuk tidak mengikuti jalur partai (atau disebut sebagai Thought Criminals dalam Newspeak), pasukan keamanan Ingsoc, Thought Police, akan segera hadir mengintervensi, memasukkan para pemikir bebas tersebut ke dalam Ministry of Love, dimana mereka akan dicuci otak kembali, atau mungkin malah lebih parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Hal yang paling mengganggu dalam kehidupan sehari-hari penduduk Oceania (sebagaimana Orwell disitu menyebut negara besar Eropa-Amerika) adalah keberadaan telescreen, televisi interaktif dua arah yang tak dapat dimatikan, dan memberi akses pengawasan ketat 24 jam penuh dimanapun juga terhadapmasyarakatnya. Siapakah yang berada di balik telescreen tersebut? Apakah masyarakat dapat seluruhnya termonitor? Apakah seluruh program tersebut dijalankan oleh mesin? Tak pernah ada masyarakat yang tahu, selain bahwa hanya para anggota elit partailah yang diperbolehkan mematikan telescreen mereka untuk sementara waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Winston Smith, tokoh protagonisnya, bertransformasi menjadi seorang Tought Criminal. Pekerjaannya adalah menulis ulang arsip-arsip dari London Times agar dapat konsisten dengan kebijakan gaya bahasa Newspeak.Saat Ingsoc mengubah kebijakan politiknya saat beraliansi dengan negara superpower lain dan mulai mengobarkan perang terhadap bekas aliansinya, tugas Winston adalah menulis ulang seluruh informasi untuk memperlihatkan bahwa Oceania tak pernah memiliki aliansi dengan negara yang kini berperang dengannya. Keadaan tersebut diperparah oleh orang-orang yang ia temui, yang tak pernah menyadari bahwa berbagai perubahan telah dilakukan. Winston yang sedih dan kesepian, tetapi juga cukup pintar, mulai memahami manipulasi berbahaya disuntikkan ke dalam kesadaran masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Maka ia menjadi sebuah korban berikutnya bagi kebijakan pemerintah. Winston mulai mempelajari sebuah kopian buku yang telah dibreidel karena dianggap revolusioner oleh Ingsoc, yang ditulis oleh musuh negara yang paling terkenal: Goldstein.Termotivasi dan terinspirasi oleh apa yang ia baca, ia mulai menceburkan diri dalam sebuah kisah cinta dengan sesama pekerja bernama Julia, dan merasa mendapatkan sebuah kawan dalam pemberontakannya melalui seseorang yang bekerja dalam Ingsoc, OBrien. Diliputi kerinduan untuk dapat melarikan diri dari dunia kaku menuju sebuah dunia baru yang lebih baik, ia tak menyadari bahwa ini semua adalah sebuah plot untuk menangkapnya. Ia terlalu terlambat menyadari bahwa sesungguhnya OBrien adalah kepala Thought Police, dan ia jugalah yang sebenarnya menulis buku atas nama Goldstein, dengan tujuan menangkap sebanyak mungkin para revolusioner dan menyeret mereka ke ruang 101sebuah ruang penyiksaan dimana ketakutan seseorang menjadi nyata. Maka, dalam keadaan hancur sepenuhnya, tercuci otak dan terprogram ulang (sehingga menyetujui bahwa 2+2=5 seperti kata OBrien), Winston dikembalikan ke tengah masyarakat sebagai seorang pemuja Big Brother yang tak berbahaya. Di akhir buku, Winston, berlinang air mata karena takut dan gembira, memproklamirkan kecintaannya pada Big Brother. Seluruh pemikirannya, harapan dan impiannya akan pelarian diri dan kebebasan, secara permanen telah terhapus dari kesadarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Tujuan dari Newspeak, adalah secara drastis mereduksi sejumlah kata-kata dalam bahasa Inggris, dengan tujuan untuk mengeliminasi ide-ide yang dianggap berbahaya bagi kelangsungan kediktatoran Ingsoc dan Big Brother-nya. Thoughtcrimeadalah sebuah kejahatan karena berpikir tentang kebebasan dan revolusi, dan karenanya seseorang dapat dijatuhi hukuman siksaan dan cuci otak. Dalam novel tersebut juga disebutkan, Tidakkah kau lihat, bahwa tujuan utama Newspeak adalah untuk mempersempit ruang pikiran? Pada akhirnya, kita akan dapat membuat thoughtcrime secara literer menjadi tak mungkin lagi, karena tak ada kata-kata yang dapat digunakan untuk mengekspresikannya. Seluruh iklim pemikiran kita akan berbeda. Pada faktanya nanti, tak akan ada lagi pemikiran sebagaimana yang kita miliki sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Lantas apakah dunia kita saat ini, di era baru milenia ini berbeda jauh secara fundamental dengan apa yang diprediksikan oleh Orwell? Sepintas tampak banyak sekali perbedaan dari distopia 1984, seperti: rezim totalitarianisme telah bertumbangan, matinya komunisme yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, muncul lebih banyak komunitas, tersedia lebih banyak lagi kebebasan daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Dalam tingkatan geopolitik, ekonomi informasi global telah mempromosikan banyak kedamaian dan kebebasan, menyoroti kasus-kasus represif yang dilakukan oleh pemerintah di berbagai negara, dari kediktatoran Taliban dan Saddam Hussein hingga Castro di Kuba.Internet juga tampak memberi lebih banyak kebebasan informasi bagi para penggunanya, yang dapat secara spontan mengkomunikasikan ide-ide mereka, apapun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Tetapi benarkah prediksi Orwell melenceng jauh? Dalam Oceania, terdapat dua golongan, mereka yang menjadi bagian dari Partai dan satu lagi disebut the Prolessejumlah besar proletariat yang tak tercuci otak dan hidup di lokasi-lokasi yang tak layak huni. Sementara di dunia kita, lebih dari 6 juta jiwa tinggal dan hidup di planet ini, siapa sajakah yang menjadi bagian dari Partai? Oke, mari kita berkata dengan terminologi internet. Berapa banyak pengguna internet di dunia? 505 ribu, menurut perhitungan terakhir (sumber: Global Reach 12/01), yang berarti hanya sekitar 8% dari 6.2 juta populasi. Baiklah, lantas Ingsoc memiliki Inner Party dan Outer Party. Jika saja5% dari populasi dunia adalah Inner Party (mereka yang memiliki akses terhadap pendidikan, kemakmuran, dan dapat menentukan nasib mereka sendiri lebih daripada yang lainnya), maka dapat dikatakan bahwa 10% lainnya termasuk ke dalam Outer Party (mereka yang masih mendapat keuntungan dari kemakmuran, tetapi tak dapat menentukan kebijakan). Di dunia nyata, yang berjumlah 6.2 juta jiwa, katakanlah 9 ribu jiwa (15%) dari populasi mendapat keuntungan dari kebebasan dan kemakmuran dunia modern, mendapatkan aksespendidikan, kesehatan, dll. Lantas bagaimana dengan 85% sisanya yang mungkin mirip dengan para The Proles dalam karya Orwell ini? Mereka hidup di sebuah dunia dimana 30% dari mereka tinggal di atas lahan dimana air tak dapat diminum, dimana kematian bayi sangat tinggi dan penyakit menyebar tanpa terkontrol, dimana tak ada pendidikan, layanan sosial dan bahkan tak ada prospek hidup sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Pikirkan beberapa hal berikut ini: Engkau dapat mematikan televisimu, tetapi apakah memang itu yang kau inginkan? Engkau hidup dalam sebuah masyarakat yang demokratis karena Pemilu yang lalu berjalan demokratis, tetapi kau melihat populasi masyarakat miskin terus bertambah, lantas kau berpikir, mengapa tak ada cukup dana untuk itu semua sementara para birokrat semakin bertambah kaya? Engkau bebas untuk menggunakan uangmu sesuka hatimu. Tetapi mengapa kau selalu ingin membelanjakannya untuk hal-hal yang didiktekan oleh iklan-iklan di sekelilingmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kini garis bawahi pernyataan berikut: engkau tak memiliki kebebasan ataupun kekuatan. Engkau tak merasakan kebutuhan akan kebebasan atau kekuatan. Bahkan lebih buruknya lagi, engkau tak merasa bahwa kau pernah memiliki kedua hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Orwell memang tepat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Keseluruhan buku 1984 karya George Orwell yang berbahasa Inggris &lt;/i&gt;&lt;i&gt;bisa didapatkan&lt;/i&gt;&lt;i&gt;di: http://www.george-orwell.org/1984/0.html&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-111293734940289156?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/111293734940289156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=111293734940289156' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/111293734940289156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/111293734940289156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2005/04/prediksi-orwell-dan-pasifitas_08.html' title='PREDIKSI ORWELL DAN PASIFITAS MASYARAKAT MODERN'/><author><name>hypatia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14395516969596435214</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-111016912188791801</id><published>2005-03-07T11:18:00.000+07:00</published><updated>2005-03-30T11:07:38.210+07:00</updated><title type='text'>BAYANGAN MASA LALU MENAWAN MASA DEPAN</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size=4&gt;BAYANGAN MASA LALU MENAWAN MASA DEPAN&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;i&gt;"A match used to show off like this:&lt;br /&gt; I'm able to set a barn on fire! I can set fire to a petrol tank,&lt;br /&gt; the seat of a ministry, an Etruscan museum, whatever!&lt;br /&gt; Why not just say you're able to light the gas and boil the soup?&lt;br /&gt;We always show off about the worst things".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;----Gianni Rodari: Minimal Fables &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;div align="justify"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Di Indonesia, kita hanya mengenal dua jenis musim: hujan dan kemarau. Begitu juga dengan sejarahnya, penuh dengan kemarau yang lantas di babat hujan. Menetes hingga ke sela-sela, merasuk bahkan memporak-poranda. Kemarau dan hujan, musim yang kadang menguntungkan kadang juga mengenaskan. Tapi di Italia, bagian dari benua Eropa yang terapit diantara Libya dan Yugoslavia ini, mengenal berbagai macam musim. Musim dimana para pekerja dan aktivis turun ke jalan untuk mengguncang kekuasaan politik. Musim dimana kobaran api perlawanan membuncah di dalam hati para insurgen-insurgen Itali. Antara jangka waktu 2000-2002, gerakan insurgen Itali dimetaforkan dengan nama sebuah musim. Ini adalah "la Primavera dei Movimenti" atau The Springtime Movements, atau dalam bahasa indo-nya gerakan musim semi. Bukan pertama kalinya sejarah perlawanan Italia menganugerahkan nama musim pada gerakannya. Di tahun 1969, yang menjadi  tahun perjuangan pekerja pabrik yang terbesar di Itali, mengambil nama  "Autunno Caldo" (Hot Autumn) atau  gerakan musim gugur yang panas. Sepanas keringat kerja, sepanas hati dari kondisi sosial yang memiskinkan. Maka, seiring musim gugur berganti, mitos-mitos dari semangat perlawanan generasilalu ini dapat mempercerah lahirnya musim semi, cahaya-cahaya perlawanan yang semakin membesar, menyebar bagai virus yang menghidupkan.Karena bantuan sebuah cerita, sebuah mitos, sebuah dongeng akan kebebasan. Suatu masa di satu musim, dimana semangat akan perubahan sosial berkobar bagai api di jalan-jalan Genoa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Konflik sosial adalah sesuatu yang endemik dan alami. Karenanya penggunaan metafor musim adalah juga sesuatu yang menghidupkan dan sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Musim kemarau di Indonesia adalah musim yang mematikan dan tidak menyalakan,karena bahasa kita menginginkannya seperti itu. Musim kemarau selalu menjadi cerita-cerita sedih realitas: PHK buruh, kemelaratan, kekeringan, dan kekerasan-kekerasan sosial lainnya. Seakan-akan realitas sosial selalu menjadi syair Wiji Thukul yang mendendam karena kemelaratan yang dialaminya. Orang-orang yang tergabung di dalam partai revolusionerpun memiliki cerminan seperti ini. Berteriak-teriak di depan megafon dibawah terik mentari demi menyuarakan ketertindasan rakyat, kemelaratan orang miskin, sebuah ketidakberdayaan sosial. Tapi drama-drama sedih perlawanan ini semakin memanaskan musim kemarau, mengeringkannya, melelahkannya di tengah cerita ketidakberdayaan. Sinar matahari itu melemaskan dikala tengah hari. Karena itu kita butuh segelas air dingin bukannya cerita melankolis ketidakmampuan. Satu poin dari konsep manipulatif bunuh diri kelas adalah kepatuhan. Oleh karena itu, pasifitas justru menjadi pemerkuat konsep ideologis ini. Dimana nyala obor di pegang oleh elit-elit revolusioner, sementara yang lain hanya mengikuti dari belakang dalam gelapnya kepatuhan. Lantunan lagu Darah Juang seperti menceritakan kisah menyedihkan sebuah perjuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Seberapa sering api resistensi dan amarah ditelan konsep-konsep buta kita akan kedamaian, tata-krama, dan kesenyapan sosial? Seiring bergantinya musim, hari demi hari, dari musim ke musim kita selalu melebur di dalam bahasa yang melemahkan kita sendiri. Bahasa yang tidak berjiwa besar, bahasa bangsa Timur, bahasa berkasta sudra. Tahun 1965 dan peristiwa PKI, sebuah rentetan pembantaian hingga penghujung abad 20 demi memperkuat jaring-jaring neo-liberalisme. Seberapa sering kita dibungkam oleh ketakutan, oleh penguasa, oleh diri kita sendiri. Oleh cerita-cerita paranoia terhadap kekuasaan yang lebih besar dari diri kita sendiri. Oleh konstruksi sosial yang menolak menerima bahwa perlawanan harus bersemi dan kontradiksi harus ditajamkan. Tahun 1998 dan perjuangan berdarah para aktivisnya malah di anugerahi sebagai tragedi. Dan klimaksnya diagungkan sebagai kemenangan demokrasi, yang sebenarnya hanya klimaks dari oposisi-oposisi kekuasaan politik dalam memanipulasi reformasi. Musim hujan yang terlalu di perbuas sebagai kisah romantis heroisme beberapa invididu: Kisah sukses reformasi adalah cerita kemenangan Para mahasiswa yang kemudian menjadi berdasi setelah teriak-teriak di depan megafon atas nama rakyat. Dan cerita perlawananpun menjadi sekedar sebuah monumen, sebuah dongeng imajinatif yang buruk yang ditulis oleh seorang pope. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Yang kita butuhkan sekarang ini adalah sebuah mythopoesis: proses sosial dalam membangun mitos. Yang dimaksud disini bukannya membuat cerita palsu, tapi cerita yang telah terjadi dan di sebarkan, diberitahukan kembali dalam metafora, yang dilakukan oleh berbagai macam komunitas yang luas. Cerita yang mungkin saja dapat melahirkan semacam ritual, semacam semangat akan keberlanjutan dari apa yang kita lakukan sekarang dan apa yang telah dilakukan kemarin. Sebuah tradisi. Yang dalam kata latinnya adalah tradere dan dalam artian bahasa indonesianya berarti mewariskan sesuatu. Sebuah tradisi yang tidak mengindikasikan adanya kebertetapan, konservatisme, ataupun sebuah respek masa lalu yang dilebih-lebihkan. Tapi tradisi yang mewarisi semangat keberlanjutan akan perlawanan, cerita indah hidupnya kembali resistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Mythopoesis yang saya maksud disini bukanlah pengagung-agungan akan masa-masa yang sudah lalu. Bukan keinginan buta para kaum Kiri yang ingin menghidupkan kembali mayat Lenin. Bukan pula romantisme  para anarkis yang menulis biografi menakjubkan dari Emma Goldman ataupun Bakunin. Mythopoesis bukanlah cerita imajiner yang menghidupkan masa lalu dan melemahkan masa sekarang. Sebaliknya, Mythopoesis adalah cerita dari musim ke musim yang berniat membangkitkan musim yang selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Ini adalah alasan vital mengapa kita butuh Mythopoesis. Kita hidup bersama dengan bercerita dan mendengarkan cerita.. Bahasa sehari-hari kita, ingatan kita, imajinasi kita dan kebutuhan kita yang mendalam akan membangun komunitas adalah alasan yang membuat kita merasa menjadi manusia yang hidup. Kita butuh mitos, kita butuh mitos tanpa pahlawan yang harus diikuti ataupun ditolak. Kita butuh mereka untuk membentuk diri kita sendiri, perlawanan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;i&gt;"Beneath the sentence there are no heroesis hidden a different meaning, its true message: there was no struggle[...] Can you make a film about a struggle without going through the traditional process of creating heroes? It's a new form of an old problem".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;On interview, Michael Foucault&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Post-mortem&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kemarin perjuangan reformasi menunda pembukaan jalan bagi perubahan sosial yang mendasar. Teriakan-teriakan revolusi sampai mati tidak lebih sekedar lagu penyemangat bagi agenda-agenda kabur reformasi. Mahasiswa-mahasiswa Kiri yang terlalu banyak menggunakan megafon, aktifis-aktifis revolusioneryang ngomong sampah soal kepemimpinan, dan birokrat-birokrat politik yang selalu menjual nama rakyat. Kita berada di bawah kerudung budaya mati. Kita mewariskan sampah dari generasi ke generasi. Dan mitos-mitos perjuangan masih berkeliling di sekitar pahlawan-pahlawan Diponegoro reformasi. Gerakan 98 sudah bertahun-tahun mati, dan kenapa juga sebagian besar dari kita, masih menginginkannya untuk hidup kembali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Apabila di Italia, setahun seorang aktivis anti-globalisasi, Carlo Giuliani, yang terbunuh oleh polisi diperingati sebagai hari dimana gerakan anti-neo-liberal di Genoa semakin menguat, mengapa kita harus bersedih-sedih dengan perayaan tangis-menangis Tragedi Mei 98? Media, pemerintah, bahkan militer berlagak menyesali semuanya, dan silahturahmi maaf-maafan terjadi, seakan-akan konflik sosial ini hanya masalah remeh salah paham keluarga. Para mahasiswa yang beremblem-emblem radikal ataupun revolusionerpun memaklumi ini semua. Layaknya kalau permasalahan konflik kelas dapat diselesaikan di hari Lebaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Apa warisan yang kita dapat dari perjuangan generasi lalu, warisan yang dapat kita adaptasikan dengan kondisi kita sekarang, setelah berbagai tahun-tahun mati yang tidak bergelora, apa yang kita dapat selain hanya fetisisme mahasiwa dan figur-figur heroik semacam Munir, Aung san Su Kyi, bahkan Harry Roesli. Fakta bahwa 98 dan mitosnya tidak membawa kita kemana-mana, selain puji-puijan berlebihan momen tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;DI bawah tanah kultur punk merebak dengan anarkisme. Kolektif demi kolektif bermunculan dan mati tanpa agenda yang benar-benar jelas. Bentuk sporadik yang gagal membangun komunikasi antar scene dan mati tanpa ada perspektif yang jelas. Kolektif anarkis yang masih mempraktekkan dominasi, scene hc/punk yang feodal, dan mahasiwa-mahasiswa revolusionera la Che Guevara. Kita belum beranjak dari ini semua, kita masih dihantu-hantui tradisi lama, kita belum mengerti untuk memisahkan air yang bersih dan yang kotor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sebuah idiom berbunyi, Sementara kita membuang bekas air mandinya kita tidak seharusnya membuang bayinya juga.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Mythopoesis berhubungan dengan ini, karena cerita mitos yang baik tidaklah dibentuk dari penerimaan terus-menerus tradisi sebelumnya. Kita butuh cerita mereka untuk didekonstruksikan. Kita membutuhkan penciptaan musim dimana konlik sosial yang vertikal mulai menajam. Kita perlu meninggalkan masa lalu. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikonofilia adalah penyakitnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Apabila perjuangan kemarin telah tergantikan dengan menyuburnya LSM-LSM, apabila seniman radikal hanyalah para pelukis realisme sosialis yang cuma doyan jualan lukisan, apabila gerakan revolusioner hanya berkutat di sekitar PRD (yang Marxis-Leninis) dan mahasiswanya, apabila dominasi kolektif dan imaji otonomi hanya terus-menerus berada di sebuah nama kontra-kultura. Maka, seperti yang dikatakan oleh Raoul Vaneigem, harapan terakhir dari para penguasa adalah membuat semua orang menjadi pengorganisir ketidakberdayaan diri mereka sendiri.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Hari kemarin, musim yang lalu, sepuluh tahun lewat, berabad lalu kita hidup dan berkembang di dalam kontradiksi. Kita menuai dan layu terbantai, kita berada di ujung senapan dan pedang atau berakhir di kuburan, mungkin juga sungai-sungai dan perkantoran. Tapi kini, baru saja kemarin aku dan kamu saling menukar media bawah tanah yang kita produksi sendiri. Baru kemarin kita berada di pinggir jalanan berbagi teori Marx sampai anarkisme Berkman. Baru kemarin kita meninggalkan nilai-nilai orang tua dan menolak Tuhan, rasanya seminggu lalu aku dan kamu masih sering ngobrol soal neo-liberalisme. Waktu itu kita masih mau saja ikut-ikutan demo di bawah bendera merah dan dimarahi sama koordinator aksi karena kamu keluar dari tali dan saya ikut-ikutan. Baru kemarin kita berdua terpergok di kamar bersama semalaman dan di tuduh kumpul kebo. Kemarin kamu bilang kalau kamu terlalu sibuk dengan kerja dan setahun sebelumnya kamu hampir drop-out dari kuliah. Di subuh yang hujan pada waktu itu kita berlima pergi ke pasar ngelobi sayur murah buat Food Not Bombs. Beberapa dari kalian bahkan lari dan meninggalkan gedung kosong tempat kita tidur dan berdiskusi setelah diserang polisi. Dan sekarang kita tercerai berai tanpa ada benang yang mengikat. Di mana cerita-cerita kita, sudahkah tertelan oleh ganasnya musim panas? Sudahkah kita berhenti untuk menulis cerita, menentang penguasa, melecehkan hirarki, menghancurkan konstruksi sosial yang membunuh hasrat kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Cerita-cerita kita belum lagi muncul ke permukaan, kawan. Banyak isu bahwa kita telah porak-poranda oleh ide kita sendiri, bahwa kita tidak mampu memecahkan problem hubungan interpersonal kita sendiri, bahwa kita takut akan kontradiksi internal. Fakta bahwa kita kembali menjadi penonton. Kita telah membenam dalam bahasa dan takjub oleh spektakulernya dunia tontonan. Kita telah membenam sementara militer membantai lagi, kita terus diam dan media mainstream mulai berbicara, memanipulasi. Kita berada di balik kaca kendaraan bermotor yang berbeda dan BBM naik kembali. Mereka melakukan liberalisasi dan merayakan globalisasi dan kita terus tercerai-berai berdiam diri.  &lt;br /&gt;Kawan, di beberapa kota di Italia, para aktivis membangun social-center dimana-mana, mereka bahkan membuat dewan kota melegalkan keberadaan mereka. Tapi inipun bukanlah sebuah kondisi yang damai. Serangan dari fasis dan polisi masih sering terjadi, dan para aktivis masih sering menghadapi tuntutan pengadilan. Di Montreal, Critical-Mass memenuhi jalanan dan menghentikan lalu lintas kendaraan bermotor, walau hanya dalam rentang waktu yang sementara. Di Chiapas, para pejuang bertopeng, Zapatista membangun demokrasi langsung dan terang-terangan memerangi neo-liberalisme. Di berbagai kapital di dunia, mitos perlawanan mulai bersemi, meramu cerita bagi generasi selanjutnya agar mereka dapat menulis cerita mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Air dan angin dari konflik sosial telah membawa kita ke banyak pengalaman dan contoh. Di antara pasir dan batu masih banyak bongkah emas masih yang bisa di gali. Cerita adalah sekop. Begitulah seharusnya kita menggunakannya. Tapi juga bukan sekedar membuatnya sekedar cerita. Karena, yang dimaksud dengan cerita, pembuatan mitos, adalah sesuatu yang jelas, yang dibuat dari darah, daging, dan kotoran. &lt;/div&gt;  &lt;/font&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-111016912188791801?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/111016912188791801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=111016912188791801' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/111016912188791801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/111016912188791801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2005/03/bayangan-masa-lalu-menawan-masa-depan.html' title='BAYANGAN MASA LALU MENAWAN MASA DEPAN'/><author><name>hypatia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14395516969596435214</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9459350.post-110983447891629850</id><published>2005-03-03T14:18:00.000+07:00</published><updated>2005-03-08T19:42:22.306+07:00</updated><title type='text'>TOO MANY FARCES, THERE'S NOT ENOUGH TRAGEDY : A LESSON FROM TSUNAMI</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4"&gt;TOO MANY FARCES, THERE'S NOT ENOUGH TRAGEDY : A LESSON FROM TSUNAMI 2004&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="2"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;i&gt;"If its not the love, so there its the bomb, the bomb, the bomb, the bomb that keep us together."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;---Ask Me, The Smiths&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Pada akhir Desember tahun 2004, dimana-mana di seluruh dunia ini, orang-orang mulai mempersiapkan diri menyambut kedatangan tahun baru 2005, persis seperti apa yang dilakukan setiap tahunnya. Lokasi pariwisata telah penuh sesak, kamar-kamar penginapan telah dibooking sejak jauh-jauh hari. Segalanya telah dipersiapkan. Segalanya? Tentu. Kecuali persiapan akan hadirnya sebuah bencana alam dahsyat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;26 Desember 2004, sekitar pukul 8 pagi, sepasukan TNI sedang beristirahat dari latihan tempur di pinggir pantai di provinsi NAD sambil menikmati matahari pagi; turis-turis di Thailand mulai berjemur dengan bikini dan kursi lipatnya di hamparan pantai nan putih; di Srilangka orang-orang sibuk di tengah pekerjaan hariannya, baik sebagai petani ataupun nelayan; begitu juga di pulau Nias dimana para nelayan masih berusaha menjerat ikan dengan jalanya. Tanpa peringatan apapun, mendadak air laut turun beberapa ratus meter dalamnya. Ikan-ikan bertebaran tanpa air yang membuat mereka bernafas. Bukannya cemas, orang-orang bergembira melihat tebaran ikan yang hanya perlu mereka comot satu persatu untuk menghidupi mereka dan keluarga mereka. Dan tanpa peringatan pula, selang beberapa menit, gelombang air setinggi 7 hingga 15 meter hadir menyerbu tanpa ampun, tanpa peringatan, tanpa peduli apapun di hadapannya. Alam memang tak pernah diskriminatif seperti layaknya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Dalam sekejap, air melanda dan menghancurkan seluruh daerah, terbentang dari India hingga Sumatera Utara, menggasak setiap pesisir Samudera Hindia. Dalam detik, ribuan orang lenyap seketika. Dalam hitungan jam ribuan lainnya tertimpa reruntuhan atau mati terjebak di bawahnya. Menurut data yang terkumpul dari setiap lokasi bencana nyaris 2,3 juta manusia kehilangan nyawanya. Belum lagi mereka yang akan segera menyusul menemui kematian dalam situasi pasca tsunami yang akan disusul oleh bencana penyakit, kelaparan dan kedinginan. Melihat foto-foto di beberapa media massa, orang mungkin teringat oleh foto-foto dari sebuah reruntuhan kota Hiroshima dan Nagasaki. Hanya kini, penyebabnya adalah bencana alam sendiri, bukan bencana akibat bom.&lt;br /&gt;Dalam hitungan hari, jutaan orang di daerah lainnya yang shock akibat serangan tsunami tersebut mulai bergerak. Posko-posko bantuan segera dibuka secara sporadis di berbagai tempat yang tak terkena bencana, korporasi-korporasi mulai mengucurkan dananya, korporasi transportasi dan paket pengiriman menyediakan kargo-kargo gratis untuk pengiriman bantuan, orang-orang dari berbagai latar belakang menyisihkan sebagian milik mereka untuk dikirimkan sebagai bantuan ke daerah bencana, seakan semua orang terlibat untuk berbuat sesuatu, sekecil apapun itu. Di NAD, tak ada lagi TNI atau GAM, yang tersisa adalah bagaimana menyelamatkan mereka yang masih hidup, yang tersisa di tengah puing. Untuk pertama kalinya, mereka melakukan sesuatu bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Fenomena seperti ini juga mengingatkan kita pada tragedi Perang Irak yang hingga kini belum juga berakhir. Untuk pertama kalinya di Irak, kaum Sunni dan Syiah, dua sekte religius terbesar yang telah berkonflik sekian lamannya tanpa pernah berdamai, kini bekerja bersama melawan pendudukan dan invasi. Al-Sistani, pemimpin sekte Syiah berkata, "Untuk pertama kalinya kita harus melupakan siapa Syiah siapa Sunni untuk membebaskan tanah kita dari invasi. Karena saat seseorang menginvasi rumahmu, apakah engkau akan hanya duduk diam dan saling terus bertengkar justru dengan sesama penghuni rumahmu sendiri?" Ini juga terjadi pada pasca penghancuran menara kembar WTC tiga tahun silam, penduduk Amerika secara instan dalam sekejap mereka semua melupakan seluruh latar belakang masing-masing, saling bahu membahu menyelamatkan yang masih dapat diselamatkan, saling berbagi, saling mengerti (sesaat sebelum Bush dan jajaran administratifnya mengkambing hitamkan komunitas muslim sebagai dalang tragedi). Atau juga lihat apa yang terjadi di Argentina akhir tahun 2001, dimana di tengah krisis terparahnya, dari latar belakang apapun, nyaris setiap penduduk membentuk kelompok-kelompok kecil yang saling membantu. Komite-komite independen dibentuk dan pendistribusian bahan pangan juga dilakukan tanpa melirik peluang bisnis yang mungkin muncul. Penjarah mall, komite tetangga, piquetteros yang memblokade dan mendistribusikan angkutan truk-truk bahan pangan, ibu-ibu, nenek, buruh kerah putih dan kerah biru, guru, penganggur, semua berada di pihak yang sama dan bekerja bersama demi hidup yang hanya mungkin dipertahankan apabila saling bergandeng bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Apa latar belakang kita, agama, ras, penampilan, menjadi tak penting. Apa yang penting adalah bagaimana kita bisa bertahan hidup bersama. Semua orang (terlebih lagi bagi mereka yang mengalami dan bertahan hidup pasca bencana) memiliki common-sense untuk menghentikan semua aktifitas harian mereka yang menyebalkan dan berkumpul bersama satu sama lain. Berkumpul dimana saja: di lapangan, di jalanan, di gedung-gedung yang tak mendiskriminasikan lagi siapa yang boleh masuk, di gereja atau juga di mesjid. Dimana saja! Mereka semua berkumpul dan menghentikan seluruh gerak serta pola pikir mekanis yang mendominasi hidup harian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Masyarakat modern adalah masyarakat yang penuh ragu, bahkan untuk menentukan apa yang harus dilakukan saat ini dan esok hari, semua penuh keraguan. Itu sebabnya mereka membutuhkan boss, pemerintah, iklan, televisi, koran, untuk menentukan bagi mereka apa yang harus dilakukan. Tetapi saat bencana terjadi, masyarakat tak lagi ragu tentang apa yang harus dilakukan, baik saat ini ataupun esok hari. Apa yang dilakukan saat ini adalah demi hari esok dimana mereka akan dapat membangun diri mereka kembali, membangun komunitas mereka, masyarakat mereka, tempat mereka dapat hidup dan membesarkan anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Percaya atau tidak, bencana telah membuat manusia berkumpul satu sama lain, bahkan ketika mereka saling bermusuhan. Dalam buku "Gulag" karya Alexander Solzhenitsyn (yang diterjemahkan dan dipublikasikan di Indonesia oleh penerbit Bentang; buku aslinya berjudul "Atlas of Human Suffering and Inhuman Repression: The Gulag Archipelago"), penulis teringat saat ia dibawa ke ruang interogasi oleh seorang sipir perempuan yang dingin, pendiam dan tatapan mata tanpa perasaan. Tiba-tiba bom meledak tepat di samping gedung tempat mereka berada, dengan suara yang sangat keras sehingga mereka berpikir bahwa sebentar lagi gedung mereka akan runtuh menimpa mereka. Sipir yang ketakutan melemparkan tangannya ke sekeliling tawanan dan memeluknya, dengan perasaan putus asa akan simpati dan pertalian kasih antara sesama manusia ketika berada di penghujung apokalips. Namun ketika bom berhenti dan mereka sadar bahwa nyawa mereka tak terancam sama sekali, sang sipir langsung kembali pada perilakunya semula dan kembali memerintah tawanan untuk tunduk pada perintahnya. National Research Council Committee on Disaster Studies di Amerika Serikat juga pernah menulis sesuatu mengenai bencana dengan judul "Convergence Behavior in Disasters: A Problem in Social Control", disana mereka menulis "[...] bencana membuat orang-orang bertemu dalam sebuah konteks dan proyek bersama. Dalam situasi yang tergesa-gesa dan atmosfer yang demokratis, individu-individu yang sebelumnya hidup terpisah kini dapat mengenal satu sama lain. 'Sense' komunitas semacam ini menawarkan intimasi dari sebuah bentuk masyarakat yang berbeda, mengubah tragedi menjadi sesuatu yang baru, yang lebih baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Bukankah nyaris banyak orang yang sebenarnya memimpikan sebuah tatanan masyarakat yang seperti itu? Siapa yang tak rindu akan intimasi demikian saat kehidupan harian masyarakat modern didominasi oleh kekosongan dan kesepian tanpa akhir. Sayangnya, hanya bencanalah yang kadang mengingatkan kita semua akan keindahan hidup bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;Setelah Badai Berlalu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Setelah bencana berakhir dan berlalu, kita selalu kembali pada peran sosial kita yang begitu mekanik dan mencekik nafas kita. Rombongan demi rombongan mereka para oportunis bencana hadir di lokasi tragedi. Puluhan truk berisi bahan bantuan yang berhasil dikumpulkan dari ribuan orang-orang di tempat lain yang bersolider dengan para korban, hadir dengan mencanangkan brand korporasi besar-besar, mencolok di tiap sisinya, agar yakin bahwa brand tersebut akan tetap tampak di tengah riuhnya korban bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Slogan "Pundi Amal" tertera di berbagai alat transportasi, bahkan juga dalam setiap kemasan berisi bantuan, layaknya pembagian produk gratis di sebuah supermarket sebagai sebuah taktik promosi. Kelompok-kelompok "peduli sosial" dan LSM-LSM berlomba-lomba menaruh brand logo mereka, berharap hal tersebut akan menarik liputan media yang pada akhirnya akan menarik kucuran dana dari lembaga-lembaga donor internasional untuk diri mereka sendiri. Media-media berpacu dengan waktu dan menceburkan diri di tengah mereka yang bertahan hidup, berusaha mengais berita, cerita dan dokumentasi-dokumentasi yang akan menaikkan rating program acara mereka. Bahkan tak ketinggalan para selebritis, birokrat, tokoh religius, berlomba mencari sorotan media dengan hadir di sana, berharap hal tersebut akan membuat imaji-imaji yang dapat semakin menjual diri mereka pada pasar publik. Bahkan mayat-mayatpun menjadi sebuah perebutan, tentang siapa kelompok yang akan menshalatkannya (dalam kamus orang Islam, setiap muslim yang meninggal harus dishalatkan dulu sebelum dikuburkan), dan setiap mayat yang telah dishalatkan akan ditempeli sebuah brand organisasi yang telah menshalatkannya. Persis seperti cap-cap "halal" di daging-daging sapi yang dijual di pasar-pasar tradisional. Atmosfer kompetisi antar para malaikat yang membawa setumpuk kepentingan akumulasi imaji dan kapital di punggungnya, jelas menjadi sangat kental. Terakhir dan yang paling memilukan, adalah terselenggaranya sebuah pertemuan para investor internasional di Jakarta dalam rangka sebuah perebutan peluang bisnis dengan dalih "pembangunan kembali infrastruktur di lokasi tragedi". Toh bisnis adalah bisnis. Toh tiap tragedi adalah peluang emas bisnis dalam masyarakat yang didominasi oleh nilai-nilai pasar seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Lantas apa yang tersisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Yang tersisa tinggal sebuah pertanyaan, tentang bagaimana kita dapat mempertahankan "sense solidaritas" yang sempat muncul di tengah-tengah kehidupan kita semua saat bencana terjadi, untuk membawanya dan tetap menghidupkannya dalam situasi-situasi tanpa bencana atau tragedi besar. Dan itu adalah sebuah pertanyaan bagi kita semua yang masih memimpikan sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik. Bencana dan tragedi adalah guru terbaik kita, yang ironisnya sering kita lewatkan begitu saja selama ia tak menimpa langsung diri kita atau mereka yang kita kasihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Bila demikian, maka mungkin benar bahwa masyarakat modern adalah sebuah masyarakat yang membutuhkan lebih banyak lagi tragedi. Semua orang berkata bahwa kita semua sudah terlalu banyak berhadapan dengan tragedi. Setelah bencana tsunami mengguncang Asia dan Afrika, di TPA Leuwigajah, Cimahi, puluhan rumah penduduk tertimbun longsoran sampah. Dan hingga hari ini, proses penggalian dan pencarian korban belum juga selesai mengingat sampah yang menimbunnya benar-benar luar biasa banyak dan padat. Masih dalam waktu yang berdekatan, belasan kota di Indonesia terendam air, ratusan penduduk kembali menjadi korban dari tindakan alam. Belum lagi wabah demam berdarah yang menyerang belasan kota di pulau Jawa. Lantas, benarkah tragedi yang kita hadapi masih terlalu sedikit? Mungkin. Apalagi mengingat sikap kita semua sekarang ini, dimana saat satu imaji kepedihan lewat begitu cepat untuk kemudian digantikan lagi oleh imaji kepedihan lainnya, lambat laun kita melihat bahwa seluruh kepedihan atas tragedi yang terjadi tak ubahnya seperti potongan-potongan dalam layar televisi, yang lewat begitu cepat di hadapan mata kita, tanpa bermakna apa-apa lagi. Selama masyarakat masih terkooptasi oleh nilai-nilai pasar dan terjebak dalam Dunia Spektakular, selama itu pula semua tragedi tadi menjadi sangat jauh dari cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Mungkin kita malah membutuhkan sebuah Big Bang lagi...&lt;/font&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9459350-110983447891629850?l=new-babylon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://new-babylon.blogspot.com/feeds/110983447891629850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9459350&amp;postID=110983447891629850' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/110983447891629850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9459350/posts/default/110983447891629850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://new-babylon.blogspot.com/2005/03/too-many-farces-theres-not-enough.html' title='TOO MANY FARCES, THERE&apos;S NOT ENOUGH TRAGEDY : A LESSON FROM TSUNAMI'/><author><name>babylon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04111439370259697471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
